Wanita Lain Milik Suamiku

Wanita Lain Milik Suamiku
Bab 3 (Season 2): Kesialan Wisnu.


__ADS_3

Wisnu dengan setelan jasnya mengemudikan mobil menuju kantor pagi ini. Setelah hampir satu tahun hidup serampangan seperti anak jalanan, pria itu akhirnya memutuskan untuk menuruti sang ayah, kembali bekerja.


Wisnu sebenarnya tidak seratus persen kembali karena menuruti perintah sang ayah, sebab dia hanya tidak ingin kehilangan seluruh fasilitas yang didapatkannya selama ini. Mau bagaimana lagi, sebab semua kekayaan yang dia miliki berasal dari perusahaan keluarga mereka.


Dan di hari pertama dia memulai kembali menata hidup, sepertinya Tuhan ingin memberikan tambahan pelajaran, sebab kini dia memiliki sedikit masalah saat berada dalam perjalanan.


"Siiaaall, siiaall, ssiiaalll!" umpat Wisnu sembari menendang ban belakang mobilnya yang tiba-tiba saja mengalami kebocoran. Dia sebenarnya memiliki satu ban cadangan dan perkakas, tetapi dia tidak pernah tahu cara memakai benda-benda tersebut.


Wisnu berusaha membuat panggilan ke ayahnya. Namun, gagal. Beliau sama sekali tidak mengangkat panggilan telepon Wisnu.


Dia juga membuat beberapa panggilan ke orang-orang suruhan Hariadi, tetapi hasilnya juga sama. Sepertinya Hariadi sengaja memerintahkan mereka untuk mengabaikan Wisnu.


"Jangan-jangan ini juga ulah Papa!" gumam Wisnu. "Brrenggessekk!" sambungnya.


"Bagaimana ini? Aku harus bagaimana?" Wisnu kini terlihat mondar-mandir sembari mengacak-acak rambutnya hingga berantakan. Dia tidak mungkin menunggu kendaraan lewat, tapi untuk pergi menuju ke bengkel pun jaraknya cukup jauh.


Setelah berpikir masak-masak, Wisnu pun bertekad untuk mengganti ban mobilnya sendiri. Pria itu membuka jas dan menggulung lengan kemejanya, sebelum kemudian mengambil ban cadangan dan perkakas di bagasi mobil.

__ADS_1


"Ow, brenggseekk!" umpat Wisnu kala permukaan ban yang kotor seketika mengenai kemeja putihnya. Dia yang kesal lantas membanting ban tersebut ke jalan, yang malah membuat ban tersebut menggelinding jauh.


Wisnu panik, dia mengejar ban tersebut sejauh belasan meter sebelum berhasil menangkapnya kembali. Penampilan pria itu tampak kacau dengan keringat mengalir deras memenuhi wajah dan kemejanya, padahal dia belum melakukan apa-apa.


Dengan langkah lunglai, Wisnu membawa ban tersebut dan mulai menggantinya seorang sendiri. Namun, nyatanya tidak semudah itu, dia malah membuat kunci ban cadangan untuk membuka baut terlempar dan mengenai keningnya hingga berdarrah.


"Aaargghhhh!" Teriakan kesakitan sekaligus frustrasi sontak keluar dari mulut Wisnu. Matanya tampak berkaca-kaca seolah hendak menangis. Pria itu benar-benar memulai harinya dengan penuh kesialan.


Setelah melalui perjuangan yang cukup melelahkan, Wisnu akhirnya tiba di kantor.


Kehadirannya yang mengejutkan dan juga berantakan membuat hampir seluruh penghuni kantor tercengang. Tatapan-tatapan aneh pun segera didapatkan Wisnu.


Dulu dia pernah mendapatkan tatapan yang nyaris sama seperti itu, tetapi dengan seluruh kekuatan dan jabatan yang dimilikinya, Wisnu berhasil membungkam mereka dengan ancaman penuh kemarahan. Namun, kini ... entah mengapa dia tidak memiliki keberanian untuk melakukan hal yang sama.


Wisnu bahkan merasa seperti anak magang yang tidak akan diterima dengan mudah di tempat ini.


...**********...

__ADS_1


Adelia baru saja selesai membaca berkas yang diberikan Alex padanya. Berkas tersebut berisi ajakan kerjasama yang dilayangkan Hariadi kepada mereka.


Setelah kejadian satu tahun lalu, Hariadi kehilangan kantor cabang di kota tersebut, dan kini berniat membangun kembali dengan meminta perusahaan Alex untuk menjadi pemodal.


"Apa kamu yakin?" tanya Adelia pada Alex. Hubungan mereka di masa lalu tentu saja membuat wanita itu sedikit khawatir. Apa lagi bagi Adelia sendiri.


"Akulah yang seharusnya bertanya demikian. Untukku sendiri tidak masalah, sebab biar bagaimana pun, beliau pernah membantuku dulu," jawab Alex.


Adelia terdiam. Pandangan matanya mengarah ke lantai, enggan membalas tatapan pria itu.


Mengetahui kegelisan Adelia, Alex pun berjalan mendekatinya. "Aku tidak bisa berjanji kamu tidak akan bertemu dengan pria itu, tetapi aku bisa mencegahnya dengan tidak melibatkanmu dalam proyek ini, Del," ucapnya lembut.


Adelia mengangkat kepalanya dengan kedua bibir terlipat. "Aku pasti tidak profesional ya?"


Alex menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak, ini bukan soal tidak profesional atau sebaliknya. Percaya saja padaku, oke?"


Adelia menganggukkan kepalanya. "Maafkan aku," ucap wanita itu lirih.

__ADS_1


Alex mengangguk pelan seraya menepuk lengan Adelia lembut.


__ADS_2