Wanita Lain Milik Suamiku

Wanita Lain Milik Suamiku
Bab 1 (Season 2): Belum ingin memulai.


__ADS_3

Suara dering ponsel untuk kesekian kalinya sama sekali tidak membuat pria berpenampilan urakan tersebut bangun. Dia masih setia tertelungkup di atas tempat tidur, dengan dikelilingi oleh beberapa botol minuman beralkohol.


Tidak hanya penampilannya yang terlihat sangat berantakan, kamar pria itu pun juga tak ubahnya seperti kapal pecah dengan pencahayaan minim.


Pria itu mulai menggeram kesal sembari menggerakkan tubuhnya, ketika lagi-lagi ponselnya yang tergeletak di atas tempat tidur kembali berdering. Dengan malas dia mengangkat ponsel tersebut lalu bergumam.


"Aku tidak akan pernah ke kantor lagi, dan jangan mencoba untuk memaksa!" ucapnya singkat sambil menutup sambungan telepon tanpa menunggu lawan bicaranya bersuara.


Pria itu kemudian terduduk di pinggir tempat tidur, lalu berjalan gontai menuju wastafel untuk mencuci muka dan menggosok gigi.


Setelah selesai melakukan kegiatan tersebut, dia hanya berdiri mematung di depan cermin, menatap pantulan dirinya yang tampak menyedihkan.


"Adelia," gumam pria itu dengan nada lirih.


...**********...


"Pagi, Bu Adel," sapa beberapa orang karyawan pada Adelia yang baru saja tiba di kantor. Tidak seperti biasanya, kali ini wanita itu pergi ke kantor sendirian. Mulai sekarang dia memang tidak perlu lagi mengantar jemput Alex, sebab pria itu telah memperkerjakan supir pribadi.


Sejujurnya Adelia sedikit senang, sebab dia tak perlu lagi merasa terburu-buru berangkat ke kantor.


Sesampainya di meja kerja, Adelia lantas meletakkan tasnya lalu pergi menuju ruangan Alex untuk menyiapkan kopi. Tidak lupa satu bungkus roti isi juga diletakkan di atas meja untuk sarapan pagi pria itu.


"Pagi." Alex tiba lima menit kemudian.


Adelia menjawab sapaan pria itu ramah, sebelum kemudian memintanya untuk sarapan terlebih dahulu.


"Berkas yang diminta Steve kemarin, apa sudah siap?" tanya Alex.


"Sudah, Pak Alex," jawab Adelia.

__ADS_1


Alex hanya bisa mendengkus pasrah, tiap kali Adelia menyematkan panggilan menyebalkan tersebut untuknya.


"Mana pria itu? Tadi dia pergi ke kantor duluan," ujar Alex.


"Sepertinya belum datang. Tadi aku sempat mengintip meja kerjanya saat berjalan kemari."


Helaan napas keluar dari mulut Alex. Sejak kembali bekerja dua minggu lalu, Steve memang kurang disiplin pada jam kerja. Namun, dia tetap mampu menyelesaikan tugasnya dengan baik. Maka dari itu Alex sama sekali tidak memarahinya dan hanya memberi sedikit nasihat agar menjadi contoh bagi para karyawan.


"Kalau begitu, saya pamit dulu ya, Pak," ucap Adelia sembari membungkukkan badannya sedikit. Wanita itu kemudian berbalik hendak meninggalkan ruangan.


"Del," panggil Alex.


"Ya?" Adelia menoleh.


"Malam nanti ada waktu, kan?" tanya pria itu.


"Ada. Kenapa memangnya?" Adelia balik bertanya. Kali ini nada bicara wanita itu tampak lebih santai dari sebelumnya.


Adelia pun mau tidak mau menganggukkan kepala.


...**********...


Malam hari.


Suasana romantis begitu kental dirasakan Adelia, begitu kakinya melangkah masuk ke dalam restoran mewah bersama Alex. Ini bukanlah kali pertama Alex mengajak Adelia makan malam berdua. Namun, baru kali ini mereka makan di dalam sebuah restoran mewah yang sangat romantis bagi pasangan dimabuk cinta.


Banyak ornamen-ornamen penuh kehangatan dan cinta yang terpasang apik di sana, seperti lukisan-lukisan dan hiasan berbentuk hati.


"Sepertinya kita salah restoran!" celetuk Adelia dengan nada canggung.

__ADS_1


"Tidak, aku memang memesan tempat di sini untuk kita."


Mendengar perkataan Alex, kening Adelia sontak mengerut. Matanya dengan spontan menatap dengan saksama para pengunjung restoran yang dia yakini adalah pasangan-pasangan kekasih atau suami istri.


"Kita bukan pasangan, kenapa ke sini?" tanya Adelia tanpa repot-repot menyembunyikan nada protesnya.


"Ck, sudah, ayo!" Alex yang enggan menanggapi protes Adelia bergegas menarik tangan wanita itu menuju salah satu meja yang berada persis di dekat kaca. Dari sana mereka bisa melihat pemandangan lampu-lampu gedung yang sangat indah. Maklum saja, sebab restoran tersebut memang berada di lantai tertinggi sebuah hotel bintang lima.


Dua orang pelayan restoran yang sejak tadi membimbing merka, dengan ramah melayani pesanan keduanya.


"Jadi?" kata Adelia, begitu dua pelayan tersebut pergi.


Alex yang tidak mengerti akan perkataan Adelia, mengangkat alisnya tinggi-tinggi.


"Tujuan Bapak mengajak saya kemari," sambung Adelia.


Raut wajah Alex seketika berubah. "Del, jangan menghancurkan suasana."


Adelia tersenyum manis, yang membuat jantung Alex lagi-lagi bergemuruh keras.


"Aku merasa kamu tidak pantas dengan panggilan 'Mas'," ucap Adelia jujur. Sejak beberapa bulan lalu, Alex memang menyuruh Adelia untuk memanggilnya demikian. Namun, Adelia selalu saja mangkir. Kalau pun mau, pasti kentara sekali terpaksa.


"Aku juga orang jawa, kok! Bahkan yang bukan jawa saja senang dipanggil 'Mas'!" protes Alex yang langsung mendapat tawa kecil Adelia.


Tentu saja 'Mas' yang ditujukan padanya dan pada orang lain tidak bisa disamakan.


Belum lagi meskipun pria itu memang berdarah jawa, tetap saja wajah bulenya lebih mendominasi. Itu lah mengapa wajah Alex terlihat tampan sekaligus unik, yang membuat para wanita mudah jatuh cinta padanya.


Akan tetapi, lagi-lagi Alex hanya mau menjatuhkan hatinya pada Adelia, seorang wanita yang telah berstatus janda dan jauh dari kriteria wanita sempurna.

__ADS_1


Biduk rumah tangga yang pernah gagal membuat wanita itu harus berpikir seribu kali untuk menjalin hubungan kembali dengan pria. Sekalipun itu adalah pria baik-baik seperti Alex.


"Baiklah, aku akan memikirkannya," ucap Adelia lembut.


__ADS_2