
Dokter baru saja pergi meninggalkan kediaman keluarga Kencana seusai memeriksakan kondisi Intan. Beruntung wanita itu tidak memiliki cedera berarti, bahkan termasuk baik-baik saja. Sementara Adelia sendiri terkilir karena berusaha menahan tubuhnya ketika jatuh tadi.
Mengetahui kejadian yang menimpa Intan dan Adelia, Wisnu langsung pulang ke rumah. Namun, bukannya mengkhawatirkan Adelia juga, pria itu hanya fokus memerhatikan Intan dan sama sekali tidak menanyakan keadaan istri pertamanya.
"Kamu benar-benar pembawa sial Adelia!" Lagi-lagi Ratna melontarkan Kalimat pedas pada wanita yang tengah terduduk di kursi kecil yang terdapat di dalam kamar Wisnu. Aminah baru saja selesai membebat kaki Adelia menggunakan medicrepe. Atas saran dokter, wanita itu harus datang ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Adelia bahkan dengan rendah hati mengucapkan maaf juga pada Intan yang kini sedang menangis hebat, meski sebenarnya dia tidak menemukan kesalahan pada dirinya sendiri. Pasalnya tangga kayu tersebut berdiri kokoh saat dia naiki. Saat turun beberapa anak tangga pun, benda itu tidak goyah.
Akan tetapi, tiba-tiba saja tangga tersebut miring hingga membuatnya dia terjatuh, seakan-akan ada yang sengaja menyenggolnya.
Adelia tak ingin berspekulasi, kendati benaknya hingga kini mengarah pada Intan. Apa lagi wanita itu tiba-tiba mengajaknya pergi ke perpustakaan yang jarang sekali dikunjungi orang.
"Aku sudah muak melihatmu, Adelia. Jadi, lebih baik kamu pergi dan tinggal di bangunan kosong itu!" seru Ratna dengan mata melotot tajam.
__ADS_1
Adelia terkesiap. "Ma, tolong, aku tidak ingin ke sana!" tegasnya. Wanita itu pun mengalihkan pandangannya pada Wisnu guna meminta pembelaan. Namun, perkataan Wisnu justru semakin membuatnya terpuruk.
"Mama benar. Tinggal lah di sana untuk beberapa lama dan renungkan kesalahanmu!"
"Mas!" Adelia menatap banar sosok suaminya. Akan tetapi, Wisnu sama sekali enggan menatap balik sang istri.
Kekecewaan tampak hadir di raut wajah sendu Adelia. Harapannya untuk mendapat sedikit pembelaan dari sang suami sirna sudah. Tak ingin menatap kemesraan suami dan madunya lama-lama, dia pun segera bangkit dari kursi dan pemit pergi.
"Ma, Mas, biarkan Mbak Adelia tetap tinggal di sini."
"Apa maksudmu, Sayang? Mengapa kamu membelanya?" tanya Ratna dengan raut wajah tak suka.
Intan menatap sang ibu mertua sendu. "Ma, biar bagaimana pun, Mba Adel adalah istri dari Mas Wisnu. Jadi tak sepantasnya Mbak Adel tinggal terpisah dengan Mas Wisnu. Mbak Adel sudah dengan ikhlas mengalah dan pergi meninggalkan kamar ini, jadi jangan dengan rumah ini. Lagi pula, selain Mama, aku cuma punya Mbak Adel saat Mas Wisnu pergi bekerja."
__ADS_1
Mendengar penjelasan Intan yang begitu manis, tidak serta merta membuat Adelia terenyuh. Wanita itu justru merasa setiap kata yang terlontar dari mulut Intan adalah racun mematikan yang dapat membunvvhnya suatu saat nanti.
Entah lah apa niat Intan, yang jelas Adelia sama sekali tidak tersentuh.
Berbanding terbalik dengan Adelia, Ratna dan Wisnu justru terkesima dengan pembelaan yang dilakukan Intan pada istri tua Wisnu tersebut. Bagi mereka, hati Intan begitu baik meski Adelia nyaris saja menyelakainya.
"Kamu yakin dengan perkataanmu, Sayang? Ingat, sengaja atau tidak, Adelia tetap saja pernah membuatmu hampir celaka," ujar Ratna.
Intan tersenyum tipis. lalu menganggukkan kepalanya. "Biarkan Mbak Adel tetap bersama kita ya Ma, Mas?" kata wanita itu kepada mertua dan suaminya.
Ratna yang memiliki hati sekeras batu kini luluh oleh menantu keduanya yang sedang hamil. Biar bagaimana pun Ratna ingin tetap membawa kenyaman hati untuk Intan. Wanita itu kemudian mengalihkan pandangannya pada Adelia dingin.
"Baiklah, kamu tidak perlu pergi dari rumah ini. Namun, ingat, kamu bisa tetap di sini atas kemurahan hati Intan. Berterima kasih lah padanya dengan cara yang benar!"
__ADS_1
Dalam hati, Intan merasa sangat puas bisa mempertahankan Adelia di rumah ini, agar dia bisa terus membuat wanita itu tersakiti.
Persetan dengan kebaikannya, sebab kebaikan itu tak pernah ada di hati Intan!