
Adelia sama sekali tidak menyangka bahwa obrolannya pagi ini dengan sang ayah mertua tercinta begitu berat. Suasana pagi yang begitu menyejukkan di rumah singgah belakang rumah kini terasa sangat kontras dengan suasana hatinya. Bagaimana tidak, Hariadi dengan penuh kesungguhan meminta Adelia untuk pergi meninggalkan Wisnu, suami yang telah dinikahinya selama sepuluh tahun.
Hariadi bukan tanpa alasan meminta Adelia melakukannya. Beliau yang sudah menganggap wanita itu lebih dari sekadar menantunya, semata-mata hanya ingin menyelamatkan harga diri Adelia yang telah diinjak-injak oleh sang suami. Belum lagi perlakuan yang dia dapatkan dari Ratna.
"Kamu tidak bisa terus-terusan bersikap seperti ini, Del. Dunia tidak selalu baik pada orang-orang sabar sepertimu, begitu pula sebaliknya," ujar Hariadi meyakinkan.
Adelia terdiam. Baginya, dunia saat ini memang sangat kejam. Tidak! Lebih tepatnya, orang-orang yang berada di dalamnya. Mereka bisa dengan mudah menindas yang lemah dan dianggap tidak berguna, tanpa melihat apa yang telah dilakukan orang tersebut selama ini.
"Aku malu kembali ke rumah, Pa. Aku juga sudah berjanji pada keluargaku untuk bahagia. Aku tidak ingin mereka tahu, bahwa pernikahan Mas Wisnu dengan Intan membawa penderitaan bagiku," jawab Adelia jujur.
Hariadi menepuk bahu Adelia lembut. "Papa sudah memikirkan semuanya," ucap pria itu.
Adelia mengerutkan keningnya. "Maksud Papa?"
"Papa sudah mengatakan segalanya pada keluargamu sebelum pulang kemari," jawab Hariadi.
Mendengar hal tersebut, Adelia terkejut. Matanya menatap sang ayah mertua dengan raut tajam. "Pa, keluargaku tak boleh tahu! Aku tak ingin membebani pikiran mereka!" Tanpa sadar Adelia bahkan meninggikan suaranya.
Hariadi tersenyum simpul. "Sebagai anak, sudah seharusnya kamu bersandar pada mereka. Lagi pula, ayah dan ibumu sendiri sebenarnya sudah merasakan ada yang tidak beres dengan rumah tangga kalian. Mereka hanya sedang menunggumu untuk bicara secara langsung, Del," kata Hariadi dengan sikap tenang.
__ADS_1
Adelia bungkam. Sorot matanya yang semula menajam, kini kembali sendu. "Maaf, Pa," ucap wanita itu lirih.
Suasana sempat hening sejenak, sebelum Adelia kembali membuka suaranya. "Aku bahkan semakin malu untuk pulang ke rumah ayah dan ibu," gumamnya dengan wajah tertunduk.
"Papa menyiapkan segalanya untukmu."
Adelia mengangkat kepalanya guna menatap wajah sang ayah mertua.
"Kamu tidak perlu pulang ke rumah, karena kamu akan papa kirim ke luar kota. Papa juga sudah menyiapkan tempat di salah satu kantor kenalan Papa."
Hariadi terdiam. Sorot matanya kini sedikit berubah. "Kalau kamu memang tidak ingin bercerai darinya, maka pergilah tanpa mengajukan gugatan cerai. Beri Wisnu pelajaran. Biarkan status kalian tergantung sampai kamu benar-benar siap melepaskannya, Del. Papa juga tidak akan melarang kamu, jika suatu saat menemukan pria yang lebih baik dari Wisnu. Kalau memang di antara dua pilihan itu tiba, Papa akan membantu proses perceraian kalian," jawab Hariadi.
"Del!" Hariadi memotong perkataan sang menantu. "Wisnu tidak bisa terus-terusan berbuat demikian padamu, hanya karena kamu memiliki satu kekurangan. Lagi pula Papa memiliki kecurigaan terhadap Intan."
"Kecurigaan apa, Pa?" tanya Adelia.
"Entahlah. Sebagai orang tua, Papa hanya merasa pernikahan mereka tidak benar, terlepas dari semua insiden yang terjadi."
Adelia mengalihkan pandangannya dengan menatap rindangnya pohon besar yang terletak persis di depan rumah singgah tersebut. Rumah ini lah yang sempat Ratna inginkan untuk membuang Adelia beberapa waktu lalu.
__ADS_1
"Bagaimana Del? Papa harap, kamu tidak membutuhkan waktu lama untuk memikirkannya," ujar Hariadi.
Adelia mencengkeram erat pinggiran lantai kayu yang mereka duduki. Suara derit kayu tua pun terdengar. "Aku akan memikirkannya nanti, Pa. Terima kasih sudah bersusah payah berbuat sejauh ini untukku," ucap Adelia.
Hariadi merangkul pundak sang menantu dan mengusap lengannya lembut. "Papa hanya ingin menebus sikap diam Papa selama ini, Del."
...**********...
Suara hantaman tangan seseorang terdengar nyaring. Adelia meringis kesakitan kala merasakan panas pada punggung rapuhnya yang baru saja mendapat pukulan dari sang ibu, Aini. Beberapa saat setelah kedatangan besan mereka ke rumah, Dinda ternyata menceritakan segalanya pada ayah dan ibu, termasuk uang yang dia pinjamkan untuk Adelia karena telah merusakkan tanaman Ratna.
Kekecewaan tentu saja hadir di hati Aini maupun Arwan, tetapi mereka tak bisa memarahi Adelia yang sudah mendapat banyak penderitaan. "Maafkan aku, Bu, Yah," ucap Adelia dengan mata berkaca-kaca. Dibandingkan dengan pukulan sang ibu, kekecewaan mereka pasti lebih besar sakitnya. Kini mereka semua malah mendesak Adelia untuk menyetujui usulan Hariadi.
"Tidak perlu berpikir lama, Del!" Dinda yang sejak tadi menahan kesabarannya, mulai berseru ketus.
"Lalu, bagaimana kalau aku rindu pada kalian?" tanya Adelia.
"Itu masalah gampang, Del, yang penting kamu harus menyelamatkan diri dulu dari mereka!" kata Dinda seraya menatap tajam sang adik.
Helaan napas keluar dari mulut Adelia. Sepertinya dia memang harus mengikuti saran sang ibu mertua dan juga keluarganya.
__ADS_1