Wanita Lain Milik Suamiku

Wanita Lain Milik Suamiku
Bab 46. Pertemuan Steve dan Adelia.


__ADS_3

Dinda yang tidak terima ibunya terluka turut bergabung untuk memberi pelajaran Ratna. Namun, Arwan, Adel, dan para warga berusaha meleraikan mereka.


"Dasar keluarga miskin ssiallaaan! Menyesal aku merestui putraku menikah dengan anakmu!" pekik Ratna.


"Kau yang ssiaallaaan! Mentang-mentang kaya seenaknya saja menghina adikku!" Dinda lah yang membalas perkataan Ratna. "Orang kaya, ngaku berpendidikan, tapi mulut dan perbuatanmu bahkan lebih rendah dari sampah, dasar nenek-nenek nggak tahu diri!" sambungnya marah.


Ratna membelalakkan matanya dan langsung meraih kerah kaos Dinda. "Kurang ajar! Awas kalian, akan kulaporkan ke polisi tindakan kalian ini!"


"Aku juga bisa melaporkanmu, Bodoh!" seru Dinda.


"Cih, orang miskin sepertimu sudah pasti akan kalah di persidangan!" ancam Ratna.


Keributan di antara mereka semakin memanas dengan ancaman-ancaman yang saling terlontar, hingga akhirnya Hariadi beserta beberapa anak buahnya datang ke tempat tersebut untuk melerai mereka.


"Hentikan tingkah konyolmu, Ratna!" desis Hariadi setelah berhasil menarik istrinya dan menjauhkan wanita itu dari Aini serta Dinda.


Ratna dengan penampilan yang sudah acak-acakan menepis keras pegangan sang suami. "Kok, aku, sih, Pa! Lihat dulu dong, siapa yang mulai! Wanita itu yang sudah berlaku kasar padaku dan aku akan melaporkannya ke polisi!" katanya sembari menunjuk-nunjuk wajah Aini yang kini tengah di peluk Adelia.


"Lihat, kalian semua yang ada di sini ya! Aku tuntut kalian semua!" ancam Ratna sekali lagi. Dia mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya guna menghubungi polisi.


"Silakan saja, kami tidak takut!" teriak Dinda.


Hariadi menganggukkan kepala. "Ya, laporkan saja mereka, tetapi mereka juga berhak melaporkanmu ke polisi atas tindak kekerasan yang kamu lakukan terhadap Adelia selama bertahun-tahun ini, Ratna."


Mendnegar perkataan Hariadi, Ratna menghentikan kegiatannya. "Ma maksud kamu apa, Pa?" tanya Ratna dengan raut canggung.


"Kamu pikir, aku tidak tahu perbuatanmu selama ini? Aku memang tidak mengetahuinya sejak awal, tetapi bukan berarti aku buta terhadap aib di rumahku sendiri!" Hariadi kemudian menoleh ke arah keluarga Adelia sambil membungkukkan badannya.


"Atas nama keluarga saya, saya meminta maaf pada kalian semua. Saya akan membiarkan kalian melaporkan hal ini kepada polisi. Tenang saja, saya tidak akan menghalangi," ujar pria itu dengan penuh penyesalan.


Arwan yang bingung hanya bisa menganggukkan kepala dan meminta Hariadi untuk menegakkan diri. Sementara Ratna meneriaki suaminya yang malah membela keluarga Adelia dari pada keluarganya sendiri.


Suami istri itu pun sempat berdebat sengit, sebelum akhirnya Hariadi menyeret anak dan istrinya tersebut keluar dari sana.

__ADS_1


Adelia, Arwan, Aini, dan Dinda hanya bisa termangu menatap keluarga tersebut, terutama pada perlakuan Hariadi.


"Kasihan sekali Pak Hariadi yang harus terjebak dalam keluarga tak beradab seperti itu!" celetuk Dinda.


Adelia memandang kepergian Wisnu yang kini sedang menghindari Intan dengan pandangan datar.


"Ibu, ibu tidak apa-apa?" tanya Adelia begitu mengalihkan pandangannya pada sang ibu. Penampilan beliau benar-benar kacau. Bahkan, ada segaris luka bekas cakaran milik Ratna di pipinya.


"Tidak apa-apa, Ibu baik-baik saja, Nak," jawab Aini sembari tersenyum simpul.


...**********...


Alex sama sekali tidak terkejut, kala pintu ruangannya tiba-tiba dibuka secara kasar oleh seseorang yang sangat dia kenal. Pria itu bahkan tampak biasa-biasa saja, saat seseorang tersebut membanting kartu kreditnya di atas meja hingga menutupi berkas-berkas kantor yang sedang dikerjakan.


"Batalkan pemblokirannya!" pekik Steve dengan wajah kesal. Pria itu sengaja datang menemui Alex karena sudah tidak tahan dengan perlakuan semena-mena kakaknya tersebut.


Embusan napas terdengar dari mulut Alex. Dia menegakkan badannya dan bersedekap sambil menatap sang adik santai.


"Dan kau pun tahu jawabanku!" seru Steve sinis.


"Baiklah kalau begitu, selamat menikmati kehidupanmu di Jakarta. Sekarang, silakan keluar dari kantorku!"


Steve membelalakkan matanya. "Alex!" pekik Steve.


Alex memicing sinis lalu tersenyum penuh arti. "Tiga bulan! Coba dulu selama tiga bulan. Sayang, kan, sudah jauh-jauh ke sini tapi tidak mencoba!"


Steve terdiam sejenak. Dia sadar betul sang kakak ternyata sedang memancingnya agar mau pulang ke rumah. "Sial!" gumam pria itu.


Steve mengacak rambutnya frustrasi. "Kau akan membatalkan pemblokirannya, kan?" tanyanya.


Alex mengangguk-anggukkan kepalanya. "Jangankan kartu kredit, semua akan kukembalikan seperti dulu!"


Steve merapatkan gigi-giginya guna menahan kekesalan agar tidak meninju pipi mulus sang kakak.

__ADS_1


...**********...


Beberapa hari kemudian.


Adelia yang baru saja kembali mendadak heran, ketika mendapati suasana di kantor tampak meriah, terutama di lantai tempat Alex berada.


Rupanya para karyawan sedang menyambut hangat kedatangan Alex yang resmi bergabung di perusahaan tersebut mulai hari ini.


"Saya harap, kalian bisa membimbing beliau." Alex menepuk pundak Steve yang kini berpenampilan sang rapi. Berbeda sekali dengan kesehariannya yang lebih mirip seperti tunawisma.


"Mbak Adel sudah kembali?" tanya Anissa, salah satu karyawan yang bertatap muka dengan Adelia.


"Iya, aku baru sampai. Omong-omong, siapa pria itu?" tanyanya.


"Oh, dia adalah adiknya Pak Alex, Mbak, namanya Steve. Aku pikir, Pak Alex sudah memberitahu Mbak soal kedatangan beliau?"


Adelia hanya bisa meringis menanggapi perkataan Anissa. Dia memang tahu soal Steve, tapi tidak menyangka bahwa pria itu akhirnya mau bekerja di sini. Adelia pun meminta izin untuk menerobos masuk ke dalam kerumunan.


"Adel!" panggil Alex yang mendapati sosok Adelia muncul di antara mereka. Dia pun meminta wanita itu untuk mendekatinya.


"Kapan kamu pulang?" tanya Alex.


"Baru saja, Pak," jawab Adelia.


"Seharunya kamu beristirahat di rumah," ujar pria itu.


Adelia tersenyum simpul seraya menggelengkan kepalanya. "Banyak tugas yang sudah saya abaikan beberapa hari ini."


Alex menganggukkan kepalanya lalu mengenalkan Steve kepadanya. "Del, Ini Steve, adikku. Dia akan bekerja sebagai manajer di sini ... dan Steve, ini adalah Adelia, sekretaris baruku."


Steve memandangi Adelia selama beberapa saat, sebelum kemudian mengulurkan tangannya pada Adelia. "Senang berkenalan dengan Anda, Nona Adelia," ucap Steve.


"Saya pun demikian, Pak, dan tolong, panggil saya Adelia saja." Adelia menyambut hangat uluran tangan pria tersebut.

__ADS_1


__ADS_2