
Sebuah karpet merah digelar di depan pintu SMA Barat di mana siswa-siswinya berbaris dengan rapih dalam posisi militer, mereka mengenakan blazer merah muda yang bahkan jika kau sekilas melirik ke arah pria besar itu menjadi sangat cocok dengannya.
Tak lama sebuah mobil muncul lalu tepat saat itu seorang siswa cowok dengan rambut abu-abu turun dari kursi pengemudi untuk membuka pintu belakang mobil yang mana dari sana turun seorang gadis berambut pirang twintail dengan penutup mata kiri berbentuk hati.
"Risa sangat senang bisa kembali lagi ke sekolah."
"Silahkan nona."
"Terima kasih Rendy."
Sosok yang disebut Rendy mendorong kacamatanya lalu mengikuti gadis tersebut di belakangnya, tak hanya sebagai Idol gadis tersebut adalah ketua OSIS di sekolah ini bernama Risa.
"Lalu bagaimana dengan SMA timur, kita menargetkan SMA lemah dulu, Risa tidak ingin kata gagal loh"
"Tentu saja, kami berhasil memukul mundur murid di sana jika nona ingin membuat kami menyerang sekarang maka kita akan bisa mengambil wilayah mereka secepatnya."
"Baguslah tapi Risa pikir kita harus menunggu, sebentar lagi festival bukan kurang menyenangkan jika tidak dibumbui perkelahian, sampai saat itu pastikan semuanya jangan melakukan apapun."
"Baik, saya sudah mendapatkan tiga orang pengguna esper kini melawan SMA lain tidak perlu dikhawatirkan lagi, kemenangan akan ada di tangan kita."
"Risa harus memberikan hadiah padamu."
Risa mengeluarkan cek berjumlah 5 juta yang dia berikan pada Rendy.
"Pertahankan kerja kalian."
__ADS_1
"Baik."
"Setelah mendapatkan ketiga wilayah yang lain warisan itu akan kita dapatkan, Risa tidak sabar untuk menantikannya."
Hal yang membuat pertarungan ini terjadi bukan hanya sekedar mereka yang bermusuhan sejak lama, melainkan jauh dari itu.
Risa mengulurkan tangannya dan sebuah sengatan listrik mengalir ke udara.
***
**
Setelah dua jam Nio akhirnya menyadari bahwa sebuah pesan telah dikirimkan kepadanya, karena sibuk menghabiskan waktu dengan Roseanne ia terlalu asyik dan lupa untuk memeriksanya.
Namun mengingat itu sudah terlalu terlambat Nio tidak terlalu berharap, yang pertama dia harus katakan hanyalah meminta maaf karena baru mengecek ponselnya dan segera itu balasan datang lebih cepat.
[Tak masalah, datang saja]
Dan begitulah ia tiba di apartemen milik Amane secepat mungkin. Dia mengetuk pintu dan menemukan Amane dalam pakaian celana pendek serta kaos kasual berdiri di sana.
"Aku perlu seseorang untuk bermain denganku, masuklah."
"Baiklah."
Sebuah televisi berukuran besar telah menyala di ruangan tamu dengan konsol yang kebanyakan pria inginkan.
__ADS_1
"Ini PS 5."
Mata Nio terbelalak lebar sementara Amane tersenyum bangga.
"Hebat bukan, aku baru membelinya kita bisa bermain semalaman jika mau."
"Aku senang bisa bermain selama itu sayangnya masih banyak yang harus dikerjakan hari ini, mungkin tiga jam," ucap Nio tersenyum masam.
"Apa ada PR dari sekolah?"
"Tidak, sebenarnya aku memiliki pekerjaan untuk menerjemahkan beberapa novel dari penerbit."
"Begitu, itu mengagumkan."
Tak ingin membahasnya lebih jauh Nio duduk bersila saat Amane melakukan hal demikian.
"Jadi apa yang akan kita mainkan?"
"Game perkelahian."
Nio bisa merasakan atmosfir kuat yang dikeluarkan oleh Amane, baginya seperti dia mencoba membalas dendam soal pertarungan waktu itu.
"Amane-san tolong berbaik hatilah padaku."
Senyuman terlukis di wajahnya.
__ADS_1