Yang Terkuat Di SMA

Yang Terkuat Di SMA
Chapter 64 : Duel


__ADS_3

Karena sebuah pesan yang dikirimkan ke ponselnya Nio naik ke atap sekolah dan menemukan Damian selaku pengirim berdiri di sana selagi melemparkan kaleng minuman padanya.


"Tak biasanya kau seperti ini? Apa kau baik-baik saja."


"Aku hanya ingin berterima kasih dengan cara seperti ini."


"Begitu."


Keduanya duduk bersebelahan.


"Kudengar kau akan bertanding melawan Anisa di dunia bawah apa kau yakin melakukannya?"


"Mau bagaimana lagi aku juga tak bisa menghindarinya, ngomong-ngomong dari mana kau mengetahuinya?"


Damian menunjukkan ponselnya dan di sana tertera pertarungan spektakuler antara dua siswa SMA dengan foto dirinya dan juga foto Anisa.


"Cepat sekali."


"Di dunia bawah bukan hanya sekedar ajang bertarung melainkan ajang mendapatkan uang juga."


Air menyembur dari mulut Nio saat dia membaca ulasan dari kepala sekolah.


"Dia muridku yang berbakat aku akan bertaruh 1 miliyar untuk kemenangannya."


"Dia jelas menekanku."


"Anisa itu adalah orang yang diakui kemampuannya di dunia bawah jadi hanya dia yang mendukungmu."

__ADS_1


"Aku jelas tidak boleh kalah setelah mendengarnya."


"Semoga beruntung."


Orang-orang mulai berdatangan untuk mengambil tempat duduk mereka, kepala sekolah Ester turun menjadi penonton saat dua belah pihak yang bertarung telah memasuki arena yang disediakan.


Di sisi kiri Anisa yang mengenakan celana pendek serta pakaian minim yang menunjukan pusarnya. Sementara di sisi lain Nio dengan pakaian olahraga yang terlihat tidak ada bagusnya sama sekali.


"Apa-apaan orang itu, kelihatanya sangat lemah, aku merasa kasihan pada Ester yang akan kehilangan semua uangnya."


"Syukurlah aku bertaruh banyak uang untuk Anisa."


Seorang gadis berponi hitam mengenakan kimono tampak berjalan di kerumunan orang, dengan senang membuka jalan untuk tuan yang dilayaninya.


"Ojou-sama, silahkan."


"Di sini jadi ramai."


"Kau datang juga."


"Aku suka pertarungan, sayang untuk melewatkannya."


"Begitu kah."


Seluruh tatapan mulai teralihkan pada Anisa dan juga Nio, tidak ada batas ronde mereka hanya bertarung sampai salah satunya kalah dan saat lonceng berbunyi maka mereka memulainya.


Nio menghindari sebuah tendangan tajam terarah padanya itu membuatnya terdiam sejenak.

__ADS_1


"Aku tidak menyangka kakimu sampai ke wajahku."


"Aku sudah cukup berlatih."


"Begitu."


Nio mengalihkan pandangan ke arah jajaran OSIS terutama Roseanne yang terlihat ingin memberikan dukungan namun tidak ingin mencolok hingga dia terlihat berbisik-bisik.


Sebuah tingkah laku yang imut


Anisa mempersempit jarak dengan meluncur ke depan Nio, dia memberikan pukulan cepat mengenai perutnya dan ketika itu mengincar wajahnya dia dengan sigap menahannya.


"Hampir saja."


"Sesuai yang diharapkan darimu, kau terlihat lemah namun sebenarnya kau kuat."


"Tidak bisa dibilang begitu juga."


Nio mendorong tubuh Anisa agar menjauh, dia memberikan tendangan asal-asalan yang tentu saja ditangkap baik oleh Anisa sehingga dia mampu memutar dirinya sembari menendang satu kaki Nio hingga jatuh dan selanjutnya disusul dengan kuncian.


Nio jelas sangat bernostalgia dengan teknik seperti ini, sebelumnya Risa juga melakukan hal sama.


"Kau mungkin akan menyentuh dadaku untuk bisa melepaskan diri, namun sayang sekali aku bukan seorang pemalu yang akan langsung salah tingkah jika hal itu terjadi."


Nio sudah berpikir hal itu.


"Kamu baru saja membuka masa laluku yang kelam, semua orang selalu berkembang karena itu waktu itu aku juga mempelajari satu hal yang penting yaitu cara meloloskan diri."

__ADS_1


"Apa?"


Nio menangkap seluruh gerakan Anisa kemudian berdiri tanpa kesulitan meskipun lehernya sekarang sedang dikunci dengan paha, dia berjalan ke arah sudut arena hingga secara otomatis Anisa melepaskan diri untuk menjaga jarak.


__ADS_2