
Nio bisa melihat hal itu dengan jelas tapi dia harus tetap menjadi protagonis yang bisa dicintai banyak pembacanya. Jadi satu hal yang harus dikatakan adalah.
"Amane wajahmu memerah, apa kau baik-baik saja?"
"Ini karena sinar matahari."
"Mau pindah tempat denganku?"
"Tak apa, aku baik-baik saja."
"Aku mengerti."
Setelah bus berhenti, keduanya turun dari sana lalu berjalan selama 5 menit untuk sampai ke alun-alun kota, karena hari libur banyak keluarga yang mampir kemari ada yang sedang menggendong anaknya dan berkeliling di sekitar dan juga ada yang menggelar tikar untuk berpiknik bersama.
Melihat itu ada sedikit rasa canggung di antara keduanya namun mereka memilih untuk tidak memikirkannya lagi dan terus berjalan ke sebuah tugu yang ditempatkan di tengah halaman ini. Tugu itu berbentuk persegi panjang yang memanjang ke atas dan ada empat lubang kunci di sana.
"Ini?"
"Masing-masing kuncinya dipegang oleh ketua OSIS."
"Apa mungkin sebenarnya mereka memperebutkan ini."
"Tentu saja, sebelumnya kota ini adalah kota yang dipenuhi mafia, di kota ini semua orang saling menumpahkan darah hingga pada akhirnya semua orang sepakat membagi wilayahnya menjadi empat bagian dan semua orang berhak untuk menyerang satu sama lain untuk mendapatkan wilayah yang lain."
"Bukannya itu tidak menyelesaikan masalah apapun."
Perkataan Nio jelas masuk akal, untuk apa mereka sepakat namun pada akhirnya tidak menghasilkan kedamaian apapun dan masih tetap bermusuhan.
Amane menjawab.
"Benar, tapi ini cara yang lebih baik dibandingkan harus berperang secara besar-besaran, keempat wilayah memilih untuk memperkecil resiko dengan hanya menyerahkan semuanya pada penerusnya yang lebih muda karena itu mereka menciptakan sekolah di masing-masing wilayah dan membiarkan mereka bertarung sebagai gantinya, jika pihak polisi datang menyelidiki mereka hanya akan menganggapnya sebagai kenakalan remaja, asal tidak sampai membunuh tidak akan ada hal buruk yang terjadi."
Nio bisa mengerti apa yang coba Amane katakan.
__ADS_1
"Mereka ingin menyelesaikan konflik dengan cara yang lebih halus tanpa pertumpahan darah, aku bisa menebak apa yang ada di dalam tugu ini."
"Kau bisa menebaknya?"
"Tentu, tapi tidak baik untuk mengatakannya, yang jelas seorang yang bisa mendapatkan seluruh kunci akan merubah kota ini."
Nio bisa mengerti apa yang sebelumnya dikatakan oleh kepala sekolah tersebut, jika mengikuti rute yang terjadi tidak aneh bahwa dia juga salah satu Mafia yang terlibat dalam pertandingan konyol ini.
Apapun yang terjadi, Nio hanya harus memenangkan semua ini dan membuat kedamaian di kota ini.
Fakta bahwa orang-orang bisa tinggal di sini dengan damai adalah sebuah keajaiban, dia tidak merasa heran lagi bahwa pria dan wanita di sekelilingnya adalah anggota Mafia sebelumnya.
Suara Amane membawanya kembali pada kenyataan.
"Kau baik-baik saja?"
"Ah iya, kita baru datang kemari tidak asyik jika kembali begitu saja.. mau jalan-jalan dulu sebentar."
"Sebentar? Aku ingin sangat lama."
Seperti yang diduga Nio ia dibawa ke sebuah pusat game dan di sana ia dibantai dengan kekalahan.
"Ugh... biarkan aku beristirahat."
"Terlalu awal untuk berhenti mari selesaikan satu ronde lagi."
Selepas satu hari yang melelahkan Nio duduk di kursi panjang sementara Amane muncul dengan sekaleng minuman dingin yang ia sodorkan padanya.
"Aku yang traktir, Nio berhasil mengalahkanku di ronde terakhir itu sangat menganggumkan, lain kali mari bermain seperti ini lagi."
Nio tersenyum sambil menerima minuman tersebut.
"Aah, nanti aku yang akan terus menang."
__ADS_1
"Itu baru semangat."
Keduanya tertawa kecil.
Di momen tersebut Roseanne yang kebetulan melintas membuat keduanya memucat.
"Amane dan juga Nio?"
"Ah, Ketua.. kami hanya berjalan-jalan bersama, kuharap kau tidak.."
"Apa yang ingin kau katakan, aku sama sekali tidak peduli."
"Tapi wajahmu tidak mengatakan itu."
"Wajahku sudah seperti ini, aku hanya mampir untuk berbelanja kalau begitu aku permisi dan juga Nio sebaiknya kau tidak mencoba mendekatiku lagi.. aku tidak suka dengan pria yang hanya bermain-main dengan cewe."
Nio bisa merasakan beberapa pedang telah menancap tubuhnya.
"Permisi."
Keduanya hanya melihat kepergian Roseanne dari kejauhan.
"Dia benar-benar marah, sebaiknya kau mencoba menjelaskannya?"
"Sepertinya begitu, aku sebaiknya menyusulnya, terima kasih untuk hari ini."
Tepat saat Nio berbalik sebuah suara terdengar olehnya.
"Aku menyukaimu."
Dia berhenti untuk melirik ke arah Amane hingga pandangan mereka saling bertemu, Nio jelas mendengar hal itu tapi dia tidak bisa membalas perasaan tersebut, ia bahkan tidak tahu perasaan apa yang dimiliki untuk Amane jadi ia kembali memerankan protagonis komedi romantis yang paling dibenci banyak orang.
"Apa kau mengatakan sesuatu?"
__ADS_1
Amane menggelengkan kepala sebagai balasan.