
Burung-burung kertas itu menukik dengan kecepatan tinggi, perlu waktu cukup lama untuk menghadapinya seolah stamina yang kau miliki dikeluarkan terus menerus.
Dengan nafas tersengal-sengal ketujuhnya berusaha menstabilkan dirinya, Aoi muncul di depan Norman yang terkejut.
"Sial, Teleportasi."
"Kau tahu juga."
Dua pukulan mengenai tubuh Norman kemudian disusul tendangan yang menerbangkannya jauh ke belakang.
Damian menggunakan tinjunya dan Aoi menangkapnya, dia menggunakan kekuatan untuk meringankan tubuh orang lain dan lalu melemparkan Damian hingga dia mengerang kesakitan.
"Dua sudah tumbang sekarang tinggal sisanya."
Risa bergerak maju, menggunakan petirnya dia mempercepat langkahnya, memberikan tendangan yang bisa dengan mudah dihindari oleh Aoi.
"Mata itu."
Aoi menyelinap untuk mempersempit jarak menggunakan telapak tangannya dia mengenai perut Risa lalu melemparkannya sejauh mungkin.
Amane dan Anisa mencoba peruntungan dengan segala kekuatan mereka miliki sayangnya mereka tetap dengan mudah dikalahkan, hampir tidak ada kekuatan yang mampu mengalahkan keberadaan Aoi itu sendiri.
Kini yang tersisa hanya Roseanne dan Nio.
"Kalian sudah siap untuk memberikan kuncinya bukan, sekarang berikan padaku."
"Kau harus mengalahkan kami dulu untuk mendapatkannya," teriak Nio.
"Begitukah."
"Aku ingin tahu apa kekuatan yang kau ambil itu akan kau miliki selamanya?"
"Tentu saja tidak, dalam seminggu kekuatan ini akan menghilang dan kembali ke pemilik sesungguhnya, tapi sayang sekali saat itu terjadi kalian sudah kalah."
"Kami hanya perlu menang sekarang."
Nio dan Roseanne saling menatap satu sama lain sebelum mengangguk mengiyakan lalu melangkah maju.
"Percuma saja."
__ADS_1
Roseanne memberikan bongkahan es secara bertubi-tubi selagi menghindari serangan Aoi. Di sisi lain Nio mengambil pistol yang tergeletak di tanah yang dibuang oleh Aoi sebelumnya lalu menembakan peluru karet padanya
Nio mulai menghitung satu sampai tiga, ketika pelindungnya menghilang Roseanne masuk memberikan pukulan pada wajah Aoi hingga dia terlempar jauh.
Aoi bangkit seolah melayang di udara, dia hendak menggunakan telekenisnya namun Roseanne lebih cepat berada di depannya bersiap memukulnya.
Dia memindahkan dirinya dengan Nio hingga bertukar posisi.
"Uwaahh"
Pukulan Roseanne menghantam wajah Nio hingga dia kesakitan.
"Maafkan aku, kau baik-baik saja Nio."
"Aku tak apa."
Aoi menyeka wajahnya yang sedikit mengeluarkan darah.
"Kurasa sudah main-mainnya sekarang mari selesaikan ini semua."
Aoi menggunakan seluruh kekuatannya, itu seolah menciptakan badai yang bisa merenggut apapun yang dilewatinya.
Dari kejauhan sosok Felicia tampak berlari tergesa-gesa.
"Nio, aku sudah menyelesaikannya... berlari bukan diriku."
"Felicia."
"Ambil ini."
"Mantan ketua OSIS."
Felicia melemparkan sebuah kubus kecil ke arah Nio yang mana Nio tendang ke dekat kaki Aoi yang terlihat heran.
"Apa ini?"
Kubus itu terbuka kemudian mengalirkan energi mirip percikan petir yang menyelubungi tubuh Aoi.
Nio berlari namun dia terhempas dengan telekenis.
__ADS_1
"Kuserahkan padamu Roseanne."
"Baik."
Ketika Aoi hendak menggunakan kekuatan dia tidak bisa melakukannya.
"Apa?"
Roseanne sudah di dekatnya, menggenggam kerah seragam Aoi lalu membantingnya ke tanah.
"Guakh."
Aoi berusaha untuk melawan sayangnya tubuhnya langsung membeku menyisakan kepalanya.
"Aku menyerah."
Roseanne menghancurkan esnya lalu mengambil kalung kunci di lehernya menjadi kemenangan seutuhnya baginya.
Semua orang yang melihat berteriak senang, sementara Margaretha duduk berseiza saat putrinya memarahinya.
"Ibu, apa-apaan ini? Ibu malah terlibat hal yang merepotkan."
"Ibu hanya ingin bersenang-senang."
"Aku benci ibu."
"Eh, Nio lakukan sesuatu?"
Dia menghela nafas panjang.
"Maafkan saja dia Karin, lagipula sebentar lagi bukannya dia akan pergi ke luar negeri."
"Apa boleh buat jika kakak bilang begitu, aku memaafkan ibu tapi ibu harus memberikan uang jajan selama satu tahun sebagai hukumannya."
"Eh, sebanyak itu."
"Kalau tidak mau?"
"Aku mengerti."
__ADS_1
Nio pikir adiknya malah lebih licik dari ibunya.