
Semua orang di kelas telah mengambil garis start mereka, lintasan lari sendiri hanya berjarak 5 km dan untuk kembali menjadi 10 km, di sana semua siswa harus mendapatkan stempel sebelum kembali ke sekolah. Bagi yang bisa melakukannya lebih cepat mereka akan terbebas dari hukuman dan yang terakhir akan diberikan PR merepotkan.
Ini mirip seperti perlombaan yang mempertaruhkan masa santaimu saat pulang sekolah.
Meldy gemetaran.
"Aku akan kalah."
Dia sudah menyerah lebih dulu dan Edo terlihat bersemangat di sebelah Anisa.
"Jika kau lelah aku akan menggendongmu di punggungku Anisa."
"Tidak terima kasih, jarak segini bukan apa-apa."
Untuk seorang yang mendapatkan pelatihan militer ini tidak masalah. Meldy diam-diam berbisik ke arah Nio.
"Nio?"
"Aku mengerti aku akan menggendongmu nanti jika kau tidak kuat."
"Yatta."
Pak Seli memberikan aba-aba untuk mulai dan mereka semua berlari di jalanan trotoar.
"Sungguh bukannya bermasalah jika olahraga di dalam kota seperti ini."
"Anggap saja latihan."
Nio tidak terlalu serahkan untuk mengambil juara pertama, ia sebisa mungkin mengikuti kecepatan Meldy yang entah kenapa sudah berkeringat banyak.
"Ini melelahkan."
"Kita baru lari 10 meter loh."
__ADS_1
"Aku duluan Nio."
"Aku juga bro."
"Pergilah."
Meldy berkata.
"Maaf Nio kau harus memperlambat larimu karenaku.. kurasa tak masalah jika kau duluan."
"Jangan khawatir lagipula dari awal aku tidak ingin bertanding serius."
"Benarkah."
"Um... paling PR yang diberikannya juga bukan hal sesuatu yang sulit."
"Aku beruntung menjadi temanmu, kamu juga bahkan menyelamatkanku dari Risa."
"Tak perlu dipikirkan lagipula aku suka melihat dadamu yang matul-mantul."
Nio tertawa lepas, dia tidak suka hal serius jadi saat Meldy akan mengarah ke suatu hal tersebut dia dengan senang membelokkannya.
"Ini sangat nostalgia, rasanya seperti saat tes OSIS waktu itu."
"Benar, saat itu aku dibantu oleh Nio, entah kenapa aku tidak bisa berdiri sendiri."
"Omong kosong, jika Meldy serius dia bisa memimpin seluruh Mafia."
"Aku tidak akan melakukan itu."
Keduanya mulai menurunkan kecepatannya saat memasuki tanjakan, ada beberapa siswa yang memaksakan diri jadi mereka tertahan untuk menarik nafas sesaat dan yang memimpin sekarang adalah Anisa dan Edo.
"Kalian sangat lemah huaha."
__ADS_1
"Sialan kau."
Edo berhenti dan muntah.
"Kau ternyata memaksakan diri."
"Jika tahu medannya seperti ini aku akan lari lebih pelan."
Nio dan Meldy dengan mudah melewatinya, mendapatkan stempel sesudah Anisa kemudian disusul siswa lainnya.
Saat kembali para siswa laki-laki lebih bersemangat karena menggendong para siswa perempuan di depan, dua km dari sekolah mereka ambruk.
Setelah itu para gadis berlari sendirian.
"Terima kasih atas tumpangannya sekarang giliran kami yang mencapai garis akhir."
Gadis memang menakutkan terlebih mereka semua dimanfaatkan.
"Meldy kau baik-baik saja, apa aku harus menggendongmu sekarang."
"Tidak usah, aku masih kuat mungkin karena jus lemon ini."
"Kau masih menyempatkan diri untuk minum."
Edo mengikuti dari sebelah.
"Anisa itu pasti monster, gendong aku bro."
"Ogah, dikamusku tidak ada namanya menggendong pria."
"Kejam sekali, hatiku terluka."
"Jangan dekat-dekat."
__ADS_1
Mereka finish setelah Anisa, disusul siswa perempuan selanjutnya baru yang lainnya, karena mereka menyelesaikan waktunya di waktu yang sama seluruh siswa laki-laki kecuali Edo dan Nio semuanya diberikan PR tambahan.
Masing-masing dari mereka akan dipaksa menuliskan laporan jadwal olahraga rutin mereka sendiri setiap harinya selama satu bulan penuh.