Yang Terkuat Di SMA

Yang Terkuat Di SMA
Chapter 43 : Identitas Dari Si Penelepon


__ADS_3

Di sebuah restoran Italia yang sudah disewa seluruhnya seorang pelayan telah menyambut kedatangan Nio.


"Nyonya telah menunggu, silahkan ikuti saya."


"Aah."


Pelayan itu menunjukkan sebuah meja berkelas tinggi di mana seorang wanita telah duduk menunggunya, dia memiliki rambut pirang bor serta mengenakan gaun mewah yang sesuai dengan kelasnya.


"Lama tak bertemu Nio, pasti kamu memiliki banyak pertanyaan tentangku bukan? Silahkan duduk dulu dan pesan sesuatu yang kamu inginkan."


Nio menghela nafas panjang.


"Aku mengerti Margaretha."


"Ah, kau bisa memanggilku ibu loh jika mau."


"Aku tidak ingin melakukannya."


"Kamu sangat pemalu."


"Tolong pesan makanan paling mahal."


"Saya mengerti."


Nio sudah lupa dengan kemewahan seperti ini namun jika ada kesempatan seperti ini dia ingin mencoba untuk tidak menahan diri.


"Kalau begitu aku juga memesan hal yang sama yang dipesan putraku."


"Kau bukan Ibuku."


"Tapi di sini tidak demikian."

__ADS_1


Nio hampir berteriak frustasi karena Margaretha menunjukkan kartu keluarga, ini jelas kejadian yang sama seperti yang dilakukan oleh Risa sebelumnya.


Margaretha tersenyum tipis, ini kemenangan untuknya.


"Jadi kenapa kau mengirim putrimu ke sekolah di kota Rahayu."


"Bagaimana yah? Mungkin kamu akan salah paham tapi aku tidak berada di pihak suamiku untuk membawa kamu kembali ke rumah semuanya murni keinginan Karin, aku hanya memberikan izin saja karena ia bilang ingin berada dengan kakaknya jadi aku tidak perlu khawatir kan."


"Seharusnya tidak semudah itu, kalian keluarga atas kalian seharusnya lebih teliti."


"Aku tidak seperti ayahmu aku tidak berminat melakukannya, aku lebih membiarkan putriku untuk memilih jalannya sendiri."


"Sungguh konyol."


Itu jelas perkataan yang bertentangan dengan apa yang dikatakannya dulu.


Mungkin karena Karin memiliki keinginan yang sama dengannya maka dia mengizinkannya, itulah yang dipikirkan Nio sekarang.


Nio jelas mengerti apa yang dikatakan wanita di depannya, Nio yang menyayangi ibunya namun ayahnya dengan mudah malah menikah lagi dengan orang lain, dan dia juga harus hidup seperti apa yang ayahnya tentukan.


Dalam beberapa kasus selama ini dialah yang terus mengalah, namun saat menginjak SMA Nio memutuskan memilih jalannya sendiri.


Terlebih dia tidak ingin mengganggu kehidupan baru ayahnya ataupun kehidupan wanita di depannya karena itulah dia memutuskan pergi.


Tak lama kemudian pesanan telah dihidangkan di atas meja.


"Ini memang enak, Nio kudengar kamu bergabung dengan keluarga Mafia Jerman... itu cukup mengejutkan loh, ayahmu juga sangat marah."


"Aku tidak peduli dengan apa yang dia rasakan lagipula aku juga tidak tahu, Risa yang melakukannya."


"Gadis manis itu kah."

__ADS_1


"Kau seperti mengenalnya."


"Kami pernah terlibat peperangan di Jerman maksudku dengan orang tuanya."


"Jadi kau yang membuat orang tuanya pergi ke rumah sakit," teriak Nio.


"Ara, kamu mengetahuinya."


Sekali lagi dunia ini penuh pertumpahan darah.


Seperti yang diduga, wanita di depannya bukanlah wanita biasa yang ramah dan tak memiliki kekuatan apapun. Ia adalah salah satu orang yang tidak boleh disentuh siapapun.


Dengan kata lain dia juga pemimpin Mafia.


"Makanan yang enak, sayang sekali aku harus pergi lagi.. tolong jaga Karin yah."


"Kau masih belum mengatakannya pada suamimu."


"Apa maksudmu, aku ini wanita biasa loh yang menikah dengan pria diplomat tidak lebih."


"Aku selalu kagum kenapa kau bisa menyembunyikannya."


"Hehe inilah daya tarik wanita dewasa... apapun itu aku menantikan cerita bagus lain kali, ajak juga Karin."


Nio hanya menghela nafas panjang lalu berbisik ke arah pelayan.


"Apa semua makanan yang aku makan akan dibayar wanita barusan."


"Benar tuan."


"Kalau begitu aku memesan beberapa lagi untuk dibawa pulang."

__ADS_1


"Saya mengerti."


__ADS_2