Yang Terkuat Di SMA

Yang Terkuat Di SMA
Chapter 55 : Benturan Dua Sekolah


__ADS_3

Damian yang terbaring di ranjang pasien hanya bisa mengerang kesakitan. Kepalanya terbungkus oleh perban dan tangannya patah karena benturan.


"Kau benar-benar parah Damian."


"Berisik."


Nio mendesah pelan sebelum sebuah nada ponsel terdengar dari milik Roseanne.


"Ada apa?"


"Amane tertangkap, mereka ingin aku datang ke sana."


"Sebuah bangunan tak terpakai kah, itu jelas jebakan," ucap Meldy yang mengintip dari belakang.


"Entah itu jebakan atau tidak aku akan pergi."


Roseanne meninggalkan ruangan dan di saat Meldy ingin mengejar tangannya dihentikan oleh Nio.


"Kita tidak bisa melakukan apapun."


"Kau ingin membiarkan dia bertarung sendirian."


"Bukan itu."


Nio menunjukkan isi pesan ponselnya.


"SMA Selatan telah datang kemari, mereka bahkan memblokir akses jalan."


"Mustahil."


"Kita harus melawan mereka sebelum bisa menyusul Roseanne."


"Ini buruk, kita hanya memiliki sedikit murid yang mau bertarung."


Itulah masalah sesungguhnya, akibat teror orang-orang tidak berani untuk turun ke medan perang.


"Mari pergi."


"Nio?" sebuah suara menghentikan Nio tepat saat dia keluar dari pintu.


"Apa?"


"Aku serahkan semuanya."


"Aah."

__ADS_1


Di depan gerbang SMA Timur semua orang telah berkumpul di sana, dipimpin oleh Nio dan Meldy semua orang sudah siap bertarung.


Trio sekawan juga turut bergabung di sana


"Ini baru menyenangkan, semester baru memang harus dibuka dengan pertarungan yang meriah."


"Aku juga berfikiran sama."


"Masa bodo soal belajar inilah alasan aku bergabung ke sekolah ini."


Nio mengkhawatirkan masa depan ketiganya sebelum mengalihkan pandangan ke arah Meldy.


"Kau seharusnya tidak perlu ikut Meldy."


"Tak masalah aku juga ingin berjuang."


Dari kejauhan mereka bisa melihat lautan manusia yang terdiri dari siswa-siswi SMA Selatan, masing-masing dari mereka membawa pedang kayu serta pemukul baseball.


Tidak aneh jika memperkirakan itu terdiri dari kelas satu sampai tiga.


Tubuh mereka juga kebanyakan seperti sudah terlatih.


"Aku mulai membara loh."


"Hentikan, kau bisa mati jika tidak tenang."


"Jumlah kalian sangat sedikit, lebih baik kalian menyerah dan berikan wilayah kalian termasuk kuncinya."


"Tidak ada kekalahan tanpa perlawanan namun sebelum itu apa kau mau melihatku bermain yoyo."


"Hah?"


"Ini disebut Menara Monas keren bukan."


"Haha mereka memiliki pemimpin yang konyol... serang mereka."


Salah satu wanita cabe-cabean masuk ke arah lingkup keduanya, mengayunkan tongkat ke arah Nio yang dengan mudah dia tahan dengan satu tangan.


Ia berpose keren.


"Cewek sepertimu harusnya pulang saja nggak usah ikut-ikutan kayak gini."


"Apa?"


Nio mendorongnya ke belakang lalu berkata.

__ADS_1


"Serang."


Dan kedua kubu itu mulai berbenturan.


"Ini baru mendebarkan."


"Kau akan tahu seperti apa kekuatan kami."


Pemimpin tersebut menyerang Nio dan perkelahian tak bisa dihindari.


Nio menahan tendangan yang menuju padanya tanpa kehilangan kontrol dari permainan yoyonya, banyak orang-orang yang diterbangkan oleh angin.


Tak hanya dikubu SMA Timur, SMA Selatan juga memiliki esper yang sama.


Kemudian air juga.


Nio berpikir mungkin kekuatan itu memang pasaran. Nio memberikan serangan balasan kepada musuhnya hingga dia kehilangan keseimbangan, dengan tendangan dia menjatuhkan pemimpinnya dengan mudah.


"Sebenarnya kau siapa? Kau tidak memiliki kekuatan esper tapi kau sangat kuat," katanya sambil memegangi perutnya.


"Hanya siswa biasa yang suka bermain yoyo."


"Jangan bercanda, tapi biarlah.... meski kau kuat kelompokmu akan kalah, kami memiliki jumlah lebih banyak dari kalian."


"Menurutmu begitu, kurasa sudah waktunya mereka datang."


Terhadap musuhnya yang kebingungan, Nio menyimpan yoyonya ke dalam blazer kemudian mengambil ponsel di sakunya. Di saat yang sama bunyi dering terdengar.


"Apa yang kau lakukan?"


"Ini panggilan dari kelompok bantuan."


"Mungkinkah?"


"Aah, terima kasih Edo dari sini aku serahkan pada SMA Barat."


Dari ujung peperangan sebuah kilatan petir menyambar dari langit menghasilkan suara yang menggelegar.


"Risa telah datang, Risa tak akan membiarkan Onii-chan bersenang-senang sendirian... serang."


"Dengan senang hati nona," balas Rendy demikian.


"Sialan."


Pemimpin pasukan SMA Selatan menerjang ke depan, hanya dengan satu pukulan di perut dia roboh ke samping.

__ADS_1


"Dari awal pemenangnya sudah ditentukan."


__ADS_2