
Untuk beberapa waktu Roseanne telah berdiri menatap gedung tak terpakai di depan matanya sebelum memasukinya, dia naik ke lantai tiga dan melihat bagaimana Amane telah diikat oleh tali yang dijaga oleh gadis berambut hitam sebahu.
Di sisi lain pria berambut merah telah menunggunya di dekat lubang tembok.
"Norman."
"Haha akhirnya kau datang juga, aku penasaran apa kau benar-benar yang telah mengalahkan Risa."
"Memang aku orangnya, memangnya apa ada masalah dengan itu?"
"Tidak, aku hanya tertarik dengan orang kuat... saat aku bisa menghancurkannya maka kepuasan saja yang akan kuterima setelahnya."
"Dasar menyedihkan."
Norman memunculan bola api di tangannya yang dia lesatkan ke arah Roseanne, itu tertahan oleh tangannya kemudian membeku menjadi bola es.
"Sesuai yang diharapkan dari putri dingin."
"Majulah."
Keduanya melesat ke depan selagi mengirimkan tinju mereka, setiap pukulan mereka berbenturan, itu menghasilkan udara panas dan dingin di waktu bersamaan.
"Itu mengagumkan, kau sudah siuman," ucap Anisa pada Amane yang perlahan membuka matanya.
Amane melihat bagaimana ketua OSIS saling bertarung satu sama lain, gerakan mereka sangat cepat dan terlatih.
"Berapa lama aku pingsan?"
"Sepuluh menit kurasa."
"Begitu."
__ADS_1
Roseanne membuat dinding es saat Norman menerjangnya dengan tendangan api.
"Daya hancur yang mengerikan."
"Bukan apa-apa, akan kutunjukan lebih dari ini."
Es tersebut hancur dan sebuah tendangan mengenai perut Roseanne hingga dia terlempar ke belakang, dia berguling saat sebuah injakan hampir mengenainya.
"Kau tidak malu menghajar seorang gadis."
"Selagi mereka kuat aku tidak masalah."
Roseanne bangkit, menghindari pukulan jab yang dilesatkan oleh Norman, dia membalas dengan pukulan serupa pada musuhnya kemudian menambahkan tendangan lokomotif yang mengenai wajahnya.
Alih-alih terbang Norman berdiri seolah tak terjadi apapun.
Dia menyeka darah dari mulutnya.
Roseanne menggunakan pembekuannya sayangnya seberapa kuat es, api Norman lebih panas dan lalu mencairkannya dengan mudah. Roseanne memberikan tendangan sayangnya kakinya dipegang oleh Norman kemudian di angkat sebelum dilemparkan ke arah samping hingga dia menabrak dinding.
"Apa tidak ada orang mengajarimu bahwa gadis tidak boleh mengangkat kakinya terlalu tinggi."
Roseanne menyentuh lantai dengan mudah menciptakan gelombang es menyeruak pada Norman.
"Bodoh, serangan es tidak bisa melawanku."
Norman menembakan bola api dan es tersebut meledak dengan uap di sekelilingnya.
Melihat hal itu, Amane berteriak.
"Pergilah ketua, jangan pikirkan aku."
__ADS_1
"Aku tidak mungkin meninggalkan temanku begitu saja, aku akan membawamu keluar dari sini."
Norman melebarkan dua tangannya dan seketika bola api raksasa muncul, itu bola yang sangat panas hingga semua orang berkeringat.
"Rasakan ini."
Bola dilesatkan dan dengan segala kemampuan Roseanne dia menahannya dan itu kembali meledak dengan uap yang tercipta setelahnya, Norman menyeringai sebelum melangkah maju pada Roseanne yang hanya berdiri karena kelelahan.
"Aku yang menang."
Ketika Roseanne menutup matanya pasrah, sebuah pukulan tidak pernah mendarat padanya.
Dia membuka matanya untuk mengintip apa yang terjadi dan melihat bahwa Nio terlah berdiri di depannya sementara Norman telah terlempar jauh ke belakang.
"Maaf saja, aku tidak akan membiarkanmu melukai wajah cantiknya."
"Nio?"
"Maaf terlambat, apa kau baik-baik saja Roseanne... dia melukaimu cukup parah, kalau begitu aku akan membalasnya dua kali lipat."
Nio mengeluarkan yoyo dari bajunya lalu memberikannya pada Roseanne.
"Bukannya ini?"
"Kurasa aku harus bertarung serius sekarang, jadi kau duduk saja yah."
"Haha jadi kau yang mengalahkan Risa, tidak aneh barusan kau mampu memukulku."
"Yang barusan hanya kebetulan, selanjutnya baru disebut pukulan."
Roseanne bisa tahu bahwa Nio benar-benar marah sekarang.
__ADS_1