Yang Terkuat Di SMA

Yang Terkuat Di SMA
Chapter 75 : Setelahnya (Tamat)


__ADS_3

Felicia berjalan mendekat ke arah Aoi yang terbaring di tanah.


"Mantan ketua OSIS."


"Bisakah kau hentikan memanggilku begitu, panggil saja Felicia."


"Apa yang barusan?"


"Itu hanya alat yang kubuat yang mampu melumpuhkan tubuh seseorang dalam waktu tertentu hingga kau tidak bisa menggunakan kemampuanmu lagi."


"Jadi begitu, berarti aku lengah."


"Tak masalahkan sesekali lengah, lihat sepertinya semua orang sangat bahagia jika kau kalah."


Aoi tertawa kecil.


"Kurasa begitu."


"Kau telah mengeluarkanku dari sekolah maka dari itu ini adalah ajang balas dendam yang sangat indah."


"Soal sekolah aku akan mengembalikanmu ke sana kau bisa menjadi OSIS lagi."


"Lalu bagaimana denganmu?"


"Aku tetap akan sekolah tapi kurasa aku ingin pindah ke sekolah yang berbeda."


"Begitu sayang sekali, kau akan kehilangan temanmu."


"Aku tidak memilikinya."


"Ya ampun, seharusnya cari satu atau dua teman nanti, bukannya kau imut."


"Akan kulakukan."


"Berikan nomor ponselmu, aku yang akan menjadi teman pertamamu."


Felicia tersenyum kecil lalu membantu memapah Aoi untuk berjalan menuju semua orang yang telah berdiri di depan monumen tugu di alun-alun tersebut.


Roseanne memasukan setiap kunci lalu memutarnya satu persatu hingga monumen itu berputar lalu bergeser untuk menampilkan lubang di dalamnya.


Ada sebuah kotak di dalamnya dan semua orang bertanya-tanya apa yang ada di sana, ketika Roseanne membukanya dia menemukan sebuah kertas di dalamnya lalu bersama semua orang dia membaca isinya.


Selamat, aku yakin siapapun yang mendapatkannya adalah orang yang berhasil mengalahkan sekolah lainnya, warisan yang kutinggalkan dalam sini agar anak-anakku tidak bersaing memperebutkan kota ini dengan pertumpahan darah dan mengalihkannya dengan cara ini. Bukannya persaingan antara anak muda itu menyenangkan?


Semua orang memucat.

__ADS_1


Orang tua ini menyebalkan.


Bagi siapapun yang berhasil melakukan tantangan ini maka dia memiliki hak khusus untuk merubah kota ini seperti apa, dan yang lainnya hanya bisa menuruti atau pergi dari kota ini.


Aku berharap siapapun yang memenangkannya adalah orang yang peduli akan kedamaian dan menjadikan kota ini lebih baik kedepannya.


Aku juga memberikan Liontin sebagai tanda bahwa ia yang berhak atas seluruh kota ini.


Nio mulai memeriksa isi koper lebih jauh dan melihat ada Liontin di dalamnya serta kertas kosong yang sudah ditanda tangani oleh empat ketua mafia lainnya.


Ester menjelaskan.


"Apapun yang dituliskan Roseanne di dalamnya maka seperti itulah perubahan yang akan diterima oleh kota ini."


"Begitu."


Nio memakaikan liontin tersebut pada Roseanne, Meldy dan Edo yang memperhatikan tersenyum untuknya.


"Sekarang Roseanne tulis apapun keinginanmu."


"Nio... Bukannya harusnya kau yang melakukannya."


"Tidak, aku serahkan semuanya pada pacarku saja."


"Kalau begitu."


"Aku lapar, mari makan semuanya dan biarkan Margaretha mentraktir kita."


"Eh?""Kamu harus bertanggung jawab sampai akhir ibu."


"Apa barusan Nio memanggilku ibu?"


"Tidak."


"Hey, apa kalian dengar barusan?"


"Yap Nio memanggil Anda ibu."


"Benar sekali."


"Yattaa... tolong panggil aku lagi ibu, mamah juga boleh."


"Tidak mau."


"Tak masalah, ayolah ibu akan senang loh.. ibu akan memelukmu, kita bisa mandi bersama."

__ADS_1


"Ingat umurmu, dibanding denganmu aku akan senang mandi dengan Roseanne."


"Aku tidak ingin melakukannya."


"Biar aku saja tuan, aku siap membersihkan punggungmu."


"Anisa dilarang."


"Itu tidak adil."


Semua berjalan apa adanya.


Satu tahun berikutnya di pekarangan sekolah Nio dan Roseanne duduk bersama selagi menatap pohon besar di depannya.


Roseanne memotong rambutnya sebahu dan meletakan pita merah disampingnya. Penampilannya jauh lebih imut dan kesan putri dingin telah hilang seutuhnya.


"Akan bagus jika pohon ini pohon sakura," kata Nio lemas.


"Kamu terlalu banyak menonton anime Nio."


"Itu sudah jelas ahaha, ngomong-ngomong selamat untuk kelulusannya sekarang apa yang kamu ingin lakukan?"


"Kupikir aku akan melanjutkan sekolahku di universitas terdekat."


Mendengar itu Nio menangis.


"Itu artinya kamu tidak ingin jauh dariku kan."


"Berhenti memelukku."


"Tak apa kan kita pasangan kekasih."


"Untuk hari ini aku izinkan tapi tidak lain kali."


Mereka saling berjauhan dan Nio berdiri dari kursinya lalu mengulurkan tangannya pada Roseanne yang mana diterima baik olehnya.


"Aku juga akan berjuang di kelas tiga lalu menyusulmu, apa aku harus cari pekerjaan tetap dan lalu menikah denganmu."


"Selesaikan sekolahmu dulu lagipula kita masih muda."


"Dimengerti."


Keduanya saling bergandengan tangan lalu berjalan pergi.


Harta yang paling berharga adalah keluarga, aku harap kedepannya kota ini akan selalu damai, tidak ada pertarungan lagi dan semua orang memiliki senyuman di wajahnya, itu adalah tulisan yang dibuat Roseanne untuk kota ini.

__ADS_1


Tamat.


__ADS_2