
Setelah mengetahui bahwa semuanya baik-baik saja Nio menghela nafas lega selagi menyandarkan punggungnya di dekat mesin penjual otomatis, dia telah mendengar keseluruhan dari Roseanne termasuk soal kekuatan Damian yang telah diambil oleh Aoi.
Dari siapapun kekuatan itulah yang jelas paling berharga, dalam kasus terburuk semua orang yang akan berniat melawannya jelas akan kesulitan.
Jika ini sebuah game Aoi berada di stage akhir sebagai Last Boss. Hari sudah gelap jadi Nio memutuskan untuk kembali ke apartemennya.
Risa dan Karin menyambutnya dengan banyak makanan yang mereka beli, Roseanne juga turut bergabung.
"Ayah meneleponku untuk membawamu kembali ke rumah, katanya dia akan bekerja di luar negeri sebagai duta. Kemungkinan besar kita juga harus tinggal di sana."
"Aku tidak akan ikut ke sana, tolong sampaikan itu."
"Aku tahu kakak akan bilang begitu jadi aku sudah mengatakannya dan aku juga tidak berniat untuk ikut, biar ibu dan ayah yang pergi."
Risa menghela nafas panjang.
"Aku benar-benar bingung kalian ini keluarga seperti apa?"
Nio menggunakan jurus menghindari pertanyaan.
"Ngomong-ngomong bagaimana soal keluarga Risa? Bukannya mereka sedang dirawat di rumah sakit."
"Mereka sudah sembuh, ah ini fotonya."
Foto sepasang istri yang bahagia dengan senapan di kedua tangan mereka.
"Benar-benar ciri khas dari Mafia."
Melihat Roseanne diam, Nio mencolek perutnya.
__ADS_1
"Kyaa.. Hentikan."
"Maaf, sebaiknya jangan memikirkan soal pertarungan di meja makan mari nikmati makanan ini dengan senang."
"Iya."
"Jangan khawatir Risa pasti akan membantu, kekuatan Aoi mencuri kekuatan lain maka dari itu kita harus mengurangi orang yang melawannya agar tidak membuatnya semakin kuat."
Kecuali Karin mereka mengangguk mengiyakan, Nio berpikir akan mengunjungi Felicia untuk meminta bantuannya.
"Ngomong-ngomong dimana Anisa?"
"Aku di sini."
Anisa muncul dari dapur dengan kue ulang tahun di tangannya.
"Mungkinkah ini hari ulang tahunku."
"Roseanne mengetahui ulang tahunku, aku terharu."
"Hentikan, jangan memelukku."
"Kalian benar-benar bucin," potong Karin disusul Anisa.
"Ini adalah sebuah perayaan untuk kita semua karena bisa berkumpul bersama di sini."
Nio pikir kue tidak cocok untuk merayakan hal seperti itu tapi karena semua senang jadi tidak masalah.
"Kalau begitu bersulang."
__ADS_1
"Bersulang."
Keesokan harinya selepas pulang sekolah Nio yang didampingi Anisa dan Roseanne berkunjung ke kediaman Felicia.
Seperti biasanya itu kotor dan aromanya kurang sedap.
"Apa ada yang kau butuhkan?" Felicia menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop, biasanya dia akan memainkan game dewasa tapi hari ini sepertinya dia sedang memeriksa pekerjannya.
Nio berdeham sekali.
"Kami datang ingin meminta saran, kami semua akan melawan Aoi secara langsung di alun-alun kota."
"Ugh, kalian mau melakukan itu, sebaiknya cobalah lihat ini dulu."
Felicia menunjukkan layar komputernya di mana di sana merupakan rekaman Aoi yang mencuri berbagai macam kemampuan banyak orang, sama seperti yang dialami Damian semua orang pingsan setelahnya.
"Aku penasaran bagaimana dia mencuri kekuatanku dan kutemukan hal ini, matanya bersinar dan kemudian targetnya tiba-tiba pingsan setelah melihat matanya."
"Apa dia tidak bisa dikalahkan?" tanya Roseanne.
"Entahlah, tapi kupikir perlu kerja keras untuk melakukannya, pertama kau tidak boleh melihat matanya saat bertarung bagi pengguna kekuatan dan juga kini kekuatannya mirip monster."
Aoi mengarahkan tangannya dan itu menciptakan pusaran angin yang menerbangkan seluruh musuhnya.
"Berapa banyak kekuatannya?"
"Dia memiliki seluruh kekuatan esper di kota Rahayu, kecuali kalian dan ketua OSIS Norman dan Risa."
"Dia jelas mempermainkan kita."
__ADS_1
"Apa dia juga mengambil kekuatan bawahannya," atas pernyataan Anisa, Felicia mengangguk kecil.
"Sebenarnya kenapa dia melakukan ini semua?" pertanyaan itu tidak menemukan jawabannya kecuali mereka bertanya langsung pada orangnya.