
"Risa terkesan, kamar cowok bisa sebersih ini."
"Akan sulit jika aku tidak bisa merapikannya dengan kamar sekecil ini."
"Risa paham itu," balasnya menganggukkan kepala beberapa kali.
"Apa kau mau minum sesuatu?"
"Aku ingin makan apa ada sesuatu yang bisa Risa makan."
"Aku punya mie instan dan air panas tapi kukira seorang Idol tidak akan menyukainya."
"Risa menyukainya tolong buatkan untuk kita berdua."
"Baiklah."
Nio hanya membalas dengan tenang, selagi menunggu mienya matang mereka mengobrol seolah ini bukan pertemuan pertama mereka.
"Tak kusangka kau bisa setenang ini, padahal Risa adalah musuh loh."
"Aku hanya memikirkan banyak hal dalam pikiranku sekarang."
"Mungkinkah Risa akan dilecehkan di ruangan sempit ini."
__ADS_1
Nio jelas tidak ingin melakukan hal yang bisa membuatnya ditangkap lagipula fakta bahwa gadis ini menemuinya hanya seorang diri mengisyaratkan dia pasti lawan yang merepotkan.
"Aku hanya berfikir alasan kau mengetahuiku pasti karena ada mata-mata di SMA Timur, apa tebakanku benar?"
"Itu benar, alasan aku kemari juga ingin merekrutmu ke pihak kami, saat SMA timur berhasil kami kuasai maka OSIS di sana tidak akan berjalan semestinya, bagaimana ini bukan penawaran buruk bukan?"
"Aku sama sekali tidak tertarik, atau sejujurnya aku lebih suka bertarung dengan orang kuat seperti kalian."
"Sudah kuduga kau memang punya pemikiran seperti itu lagipula kau salah satu orang dari sekolah itu bukan, sekolah yang diisi oleh orang-orang jenius, dan dari siswa jenius itu ada seorang siswa yang melebihi siswa lainnya dan itu adalah kau."
Nio sebisa mungkin untuk tidak terpancing dengan hal itu dan sekali lagi dia berkata.
"Apa yang kau katakan? Aku hanya siswa rendahan yang hanya tinggal di ruangan kecil ini."
"Usaha bagus, tapi Risa sudah mengetahui semuanya."
Orang di depannya bukan seorang yang bisa dipandang remeh.
"Jangan khawatir hanya Risa yang tahu, lagipula Risa tidak tertarik masa lalumu, yang Risa inginkan hanya bisa menguasai semua wilayah di kota Rahayu ini, kau pasti sudah menyadarinya soal apa yang kami perebutkan bukan?"
"Iya, benar-benar merepotkan... saat kita masuk remaja kita malah harus bertarung."
"Begitulah, anggap saja sebagai pelatihan untuk di masa depan nanti."
__ADS_1
"Kukira mienya sudah matang."
"Yaataa... rasanya pasti enak."
Nio menuangkan bumbunya lalu memberikan jatah tersebut pada Risa.
"Tolong nasinya."
"Kau banyak mintanya."
"Hehe."
Mereka berdua makan bersama seolah itu memang hal wajar untuk dilakukan. Setelah selesai Risa membungkuk sekali mengucapkan terima kasih.
"Kalau begitu aku pulang, sayang sekali kau masih tidak mau bergabung dengan kami tapi yang sudahlah, lambat laun nantinya juga kau akan ikut denganku."
"Mau bertaruh?"
"Tentu jika Risa menang kau harus jadi bawahanku, dan kau?"
"Jika aku menang mulai sekarang kau harus memanggilku Onii-chan."
"Itu perkataan yang cukup berani yang dikatakan pada gadis Idol sepertiku tapi Risa sepakat."
__ADS_1
Nio memiliki adik perempuan namun ia lebih kejam darinya, hampir mustahil memintanya untuk melakukan hal itu di sisi lain Risa terlihat seperti karakter adik perempuan sempurna karena itu memiliki seorang yang memanggilnya seperti itu adalah hal yang dinantikannya sejak lama, terlebih karena dirinya yang seorang Otaku tak buruk jika dia terlibat beberapa scene komedi romantis seperti itu dimana figur seorang adik yang membangunkannya saat tertidur lelap di pagi hari adalah yang sedang dia bayangankan walaupun sebenarnya mereka tidak memiliki hubungan darah, untuk sebagian orang mungkin terlihat menyedihkan.
"Untuk sekarang, mari bekerja lagi," katanya membuka Laptop.