
Hari pertama liburan sekolah Nio menghabiskan waktunya untuk membersihkan kediamannya, harusnya ini adalah tugas perempuan sayangnya Karin dan Risa telah keluar untuk mengurus kegiatan mereka sendiri-sendiri.
Bel berbunyi dan ia memeriksa bahwa Roseanne telah berada di pintunya.
"Roseanne apa yang ada yang kau butuhkan?"
Mereka baru berpacaran, karena itu tidak berani memberikan julukan atau nama panggilan satu sama lain.
"Aku melihat kau membuang sampah, aku rasa kamu sedang bersih-bersih jadi kurasa aku mungkin bisa sedikit membantu."
"Terima kasih, kalau begitu bisa bantu aku untuk di sana."
"Baik."
Nio sedikit aneh melihat Roseanne seperti ini tapi jika orangnya terlihat senang ia tidak mau berkomentar apapun lagi.
"Nio... sebelumnya terima kasih karena berkatmu sekolah kita bisa menang melawan SMA Barat."
"Itu berkat semua juga, aku tidak melakukan hal istimewa."
"Meski begitu aku sangat berterima kasih."
"Begitukah."
Nio hanya membalasnya dengan santai selagi terus membersihkan lantai, Roseanne sedikit menaruh rasa kagum pada pacarnya yang ahli berbagai pekerjaan rumah tangga ia juga bertekad untuk tidak kalah mulai sekarang.
Dia bertekad untuk monopoli seluruh pekerjaan rumah saat menikah nanti.
Beberapa saat kemudian Roseanne baru menyadari pemikiran tersebut.
"Aaah, wajahmu memerah apa kau baik-baik saja?"
"Aku tak apa."
"Seharusnya aku tidak membiarkan kamu mengurusi rumah tangga."
Roseanne memolotinya hingga tanpa sadar Nio langsung meminta maaf.
__ADS_1
"Sudah selesai, sekarang giliran apartemen-mu Roseanne."
"Eh?"
Roseanne mati-matian untuk mencegah Nio untuk pergi ke kediamannya sayangnya itu berakhir sia-sia.
"Di sini cukup berantakan kau tahu Roseanne."
"Maafkan aku, beberapa hari ini aku malas untuk beres-beres rumah."
"Heh, ada sisi seperti itu juga darimu Roseanne."
"Apa maksudnya?"
"Bukan apa-apa, mari mulai bereskan semuanya."
"Hm."
Roseanne tampak memerah dan Nio jelas tidak ingin melewatkan hal itu untuk semakin menggodanya. Saat sekolah kembali dimulai mungkin itu akan melelahkan sebisa mungkin ia ingin banyak menghabiskan waktu santai seperti ini.
"Awawa jangan melihatnya."
Dia merebut semua buku yang dikumpulkan oleh Nio, bagi Roseanne wajar jika pasangan ingin tampil sebaik mungkin satu sama lain.
Entah bagaimana semua pekerjaan lebih cepat selesai dari sebelumnya.
"Kalau begitu aku kembali."
Roseanne memegangi lengan Nio yang hendak pergi.
"Ada apa?"
"Bisakah kamu menemaniku lebih lama di sini."
Nio pingsan karena keimutannya lalu kembali sadar setelah tubuhnya dibekukan.
"Benar-benar sangat dingin."
__ADS_1
Alasan kenapa Roseanne mencegah Nio untuk pergi adalah demi berterima kasih padanya, selama ini ia hanya makan makanan yang dia pesan secara online tapi sekarang dia mencoba untuk memasak serius di depan pria yang disukainya.
Saat pertama kali Nio berkunjung ke tempat ini sejujurnya masakan yang dia berikan adalah makanan yang dia beli juga, sementara masakan yang dibuatnya telah disembunyikan di tempat tak terlihat.
Nio terlalu senang hingga dia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Roseanne yang kikuk saat menyiapkan berbagai makanan di dapur.
Saat dia memegang pisau akhirnya dia menyadari satu hal penting.
"Biar aku juga membantu."
"Eh?"
Nio duduk kembali karena ditolak.
"Aku hanya harus mengikuti resepnya jadi tidak masalah.
Beberapa saat kemudian sup kentang dan daging telah berada di meja, Roseanne menjelaskan semua masakan yang dihidangkannya dulu dan mengakui semuanya.
"Bagaimana mengatakannya, aku hanya baru bisa membuat ini tapi aku yakin kedepannya akan banyak belajar."
"Aku sangat menantikannya," senyuman Nio mencerahkan ekpresi muram Roseanne.
Dia mencobanya dan tahu bahwa Roseanne salah memasukan garam dengan gula, rasanya ingin menangis namun hatinya terlalu bahagia hingga tidak komplain sedikitpun.
Di saat yang sama ponselnya berbunyi lalu dia segera mengangkatnya.
"Owh, Edo... ada sesuatu?"
"Aku dan Meldy akan berkemah, apa kau mau ikut, ajak Roseanne juga, ini pasti akan menyenangkan bro."
Nio melirik ke arah Roseanne yang terus mengangguk mengiyakan dengan semangat.
"Boleh aku ajak yang lainnya juga."
"Tentu saja, semakin banyak orang semakin meriah bro."
Dan rencana liburan sekolah akhirnya diputuskan.
__ADS_1