
"Jadi di mana kita sekarang?"
"Ini adalah tempat netral di mana kita bisa menghasilkan banyak uang dalam sebuah pertarungan."
"Aku tidak tertarik dengan hal seperti itu."
"Sayang sekali mungkin kau tertarik dengan yang satu ini."
Nio berjalan ke dekat dimana Ester berdiri dan melihat keramaian di bawahnya.
Mereka berteriak akan sebuah pertarungan di depan mereka. Di antara keramaian itu telah disediakan sebuah arena luas mirip ring tinju dan dua orang tampak saling bertarung tanpa beban.
Salah satunya wanita besar dan satu lagi adalah Anisa.
Sama seperti namanya dunia bawah tempat ini berada di bawah kota singkatnya sebuah ruangan rahasia yang hanya diketahui oleh para Mafia.
"Sungguh kota ini membuatku terkejut."
"Ini hanya satu dari sekian hal yang bisa membuat seseorang terkejut, kudengar kau juga akan bertarung dengan gadis di sana."
"Aku kagum bagaimana kau tahu semua hal, apa kau cenayang atau sebagainya."
"Bisa dibilang begitu."
Nio jelas menggaris bawahi pernyataannya, terlepas itu benar atau tidak, jika dia benar-benar cenayang itu alasan yang kuat kenapa ayahnya yang seorang diplomat bukan apa-apa baginya, orang ini juga memiliki koneksi di perusahaan besar, pejabat negara serta antar negara.
Satu hal yang bisa menggambarkannya dia adalah monster.
__ADS_1
Orang yang bisa menggerakkan orang hanya dengan jarinya.
"Kemungkinan besar Anisa akan menantangmu duel di tempat ini juga."
"Aku juga merasa begitu."
"Jangan khawatir aku akan memasang banyak taruhan untukmu."
"Itu artinya kau sedang berusaha menekanku."
Nio memeriksa kembali pertarungan Anisa dan dengan sebuah pukulan dia mengakhiri pertarungannya, hanya tiga opsi seseorang kalah yaitu terlempar ke luar ring, menyerah atau tak bisa melanjutkan kembali.
"Aku rasa Anisa terlihat senang menjalani hidup seperti itu."
"Kupikir tidak demikian, dia hanya membutuhkan banyak uang untuk terus hidup, sayangnya hanya ini yang bisa dia lakukan saat meninggalkan misi keluarganya sebagai pembunuh bayaran. Tapi lain bedanya jika dia punya tuan."
"Yah, aku tak sabar untuk melihat bagaimana kau mengalahkannya."
Nio mengalihkan pandangan ke arah kursi penonton dan dengan akurat ia menemui satu orang lagi yang dia kenal.
"Hirakawa Aoi."
"Dia musuhmu selanjutnya, kupikirkan kau sudah mengenalnya sejak lama."
"Aah."
"Ini tempat netral karena itu bertarung antar sekolah untuk perebutan wilayah dilarang."
__ADS_1
"Aku tahu, lagipula dia bukan orang yang mudah dihadapi."
"Baguslah jika kau mengerti, padahal dia gadis yang manis namun disaat yang sama dia sangat berbisa.. dari yang kuketahui dia telah menggulingkan ketua OSIS sebelumnya hingga dia memutuskan untuk tidak datang ke sekolah lagi."
"Sampai segitunya?"
"Aah, tak hanya kekuatan, senjata manusia itu juga bisa berupa internet."
"Dia membongkar keburukan ketua OSIS sebelumnya."
"Iya, namun belum tentu hal itu benar atau salah."
"Itu menarik, bagaimana jika aku bisa membawa orang itu ke sekolah SMA Timur dan mencoba membuatnya bergabung dengan kita."
"Hoh, kau menggunakan konsep musuh dari musuhnya adalah temanku."
"Tapi aku harus memastikan hal itu lebih dulu."
"Lakukan saja apa maumu. Untuk ayahmu jangan khawatir dia tak akan bisa menyentuhmu, anggap saja itu kompensasi dariku."
Hubungan Nio dan Ester tidak lebih seperti hubungan win-win yang memberikan keuntungan satu sama lain.
Nio tahu jika dia tidak berguna orang ini sudah lama membuangnya.
"Aku harus pergi sekarang, kau ingin terus berada di sini?" tanya Ester.
"Tidak, tempat seperti ini tidak cocok untukku."
__ADS_1
"Aku meragukannya."