
"Ahh Roseanne, kau datang."
"Apa maksudmu berkata itu, bukannya aku sudah bilang sebelumnya akan mampir, mungkin kau tidak membaca pesanku."
"Aku tidak melihatnya... maaf, tapi aku sudah mengatakan bahwa aku baik-baik saja bukan."
"Aku hanya memastikan saja, boleh aku masuk."
Nio bisa merasakan hal berbahaya, berbeda dengan Risa yang tidak ia pikirkan sebagai lawan jenis Roseanne jelas berbeda.
Meski demikian membuat gadis berdiri di depan pintu sesuatu yang tidak sopan jadi ia mempersilahkannya untuk masuk. Roseanne sedikit terkejut karena tempatnya cukup berantakan.
"Risa selalu mengacau, karena aku sakit tidak ada orang yang mau membereskannya."
"Ugh, kamu tinggal dengan seorang gadis asing apa sebaiknya aku melaporkan ke polisi."
"Kami tidak melakukan sesuatu yang aneh atau sejujurnya dia malah jadi adikku."
Roseanne memiringkan kepalanya.
Dia duduk di lantai selagi masih melirik ke arah Nio yang memutuskan berbaring kembali setelah menyerahkan kartu keluarganya yang baru.
"Eh, kamu diadopsi oleh keluarga Risa."
"Jangan menatapku seperti seekor anak kucing."
"Maaf."
Roseanne tertawa kecil, ini pertama kalinya bagi Nio untuk melihat senyuman seperti itu ia kini mulai merasa bahwa mungkin ini sifatnya yang sebenarnya.
Memasang wajah dingin di sekolah namun di luar adalah seorang bidadari yang penuh dengan kasih sayang.
"Ada apa?"
"Bukan apa-apa tapi kau yakin akan tinggal?"
__ADS_1
"Aku hanya akan tinggal sampai jam siang nanti."
"Begitu, sebenarnya aku sudah baik-baik saja, aku juga sudah bisa duduk."
"Lalu kenapa kau masih berbaring dan belum masuk sekolah hari ini."
"Aku sedang malas dan juga surat dokternya membiarkanku istirahat tiga hari jadi sayang jika tidak dimanfaatkan."
Roseanne menatap dengan tatapan ikan mati.
"Tolong jangan menatapku seperti itu."
Nio menutup wajahnya dengan malu, dia sempat berfikir apa sepasang kekasih selalu terlibat pembicaraan seperti ini dan akhirnya dia baru menyadari bahwa Roseanne membawa sesuatu di tangannya.
"Aku membawa bubur untuk sarapan."
"Aku ingin menangis."
"Jangan berlebihan."
"Apa aku akan disuapi?"
"Ahh, tidak usah biar aku..."
"Ini keinginanku."
"Dimengerti."
Nio tidak bisa melakukan apapun lagi, dia hanya bisa mengulang perkataan di dalam benaknya.
Apa sepasang kekasih seperti ini?
Saat Roseanne selesai dan menaruh tangannya di kening Nio, dia bisa merasa pipinya telah memerah.
"Sepertinya demammu memang sudah hilang, kalau begitu syukurlah."
__ADS_1
"Roseanne aku jatuh cinta padamu."
"Hentikan, kau membuatku takut."
"Tapi aku tidak habis pikir kenapa kau menerimaku, kupikir kau membenciku atau sebagainya."
"Dengar Nio kau terlalu muda untuk tahu perasaan seorang gadis jika mereka bilang tidak berarti iya dan terkadang sebaliknya."
Meskipun sebenarnya kita hanya terpaut satu tahun saja.
Nio jelas tidak mengerti dengan perkataan Roseanne yang penuh kebanggaan tersebut.
"Aku baru beli televisi dan konsol game, mau bermain sebentar?"
"Kurasa aku akan mencobanya."
Nio mengantar Roseanne ke luar pintu.
"Kalau begitu kita akan bertemu di sekolah."
"Iya."
Ketika Roseanne beberapa langkah menjauh dari Nio, dia berbalik lalu melambaikan tangannya selagi bergumam kecil.
"Sampai nanti."
Nio melakukan hal sama, walau terlihat tenang hatinya sedang berteriak sekarang.
Keesokan paginya Edo dan Meldy mengelilingi meja Nio untuk menanyakan kabarnya.
"Ketika kau tidak ada di sini, aku sangat kesepian bro.. apa kau baik-baik saja jika tidak, kita bisa pergi ke UKS sekarang."
"Aku tak apa."
"Nio minumlah ini, kudengar lemon sangat baik bagi yang terkena demam."
__ADS_1
"Benarkah?"
Ketiganya hanya melemparkan obrolan ringan satu sama lain.