
Nio menemukan Roseanne sedang duduk di depan pintu apartemennya selagi memeluk lututnya. Dia yakin dia sudah berada di sana sangat lama sehingga ia tertidur dengan pulas.
Tanpa membangunkannya dia duduk di sebelahnya sampai Roseanne menyandarkan kepalanya di bahu Nio.
"Apa? Ternyata kau sangat khawatir tentangku," tepat saat dia mengatakannya Roseanne membuka matanya.
Padahal dia mengatakannya cukup pelan.
"Aku ketiduran, ukh... berapa lama aku tidur.
"Aku baru datang, aku tidak enak membangunkanmu jadi aku menunggu selagi menatap wajah cantikmu namun kau malah sudah bangun."
"Cepat katakan apa yang telah kau lakukan padaku saat aku tidur?"
Roseanne membuat pertahanan diri dengan menutupi dadanya.
"Kamu terlalu mencurigai pacarmu sendiri."
Nio menghela nafas panjang sebelum melanjutkan setelah berdiri mengikuti Roseanne.
"Selamat malam Roseanne, maaf membuatmu cemas."
"Aku tidak merasa cemas atau apapun."
"Begitu."
"Kenapa kau tersenyum?"
"Bukan apa-apa."
Dia yakin bahwa Roseanne memiliki banyak pertanyaan untuknya dan dia juga ingin banyak merayunya soal barusan hanya saja ini sudah malam dan mereka sudah harus pergi ke sekolah besok.
Pertemuan singkat itu membuat sedikit rasa kesepian di benak keduanya. Tepat saat Nio membaringkan tubuhnya di atas ranjang ucapan selamat malam muncul di ponselnya.
"Benar-benar orang yang tidak bisa jujur kah."
__ADS_1
Pagi hari Nio dikejutkan dengan tingkah kedua adiknya yang bersama-sama sedang menyiapkan sarapan untuknya.
Mereka mengenakan apron imut berwarna cerah.
"Apa kalian sedang asyik memasak bersama?"
"Ini rencana rahasia kami untuk menggodamu Onii-chan."
"Benar, rencana rahasia."
"Jika kalian menyebutkannya bukannya itu bukan rahasia lagi."
Keduanya menatap satu sama lain sebelum berteriak serempak ke arah Nio.
"Kami baru menyadarinya."
"Kalian malah bercanda."
Mereka bertingkah imut jadi Nio memutuskan untuk tidak melarangnya, mereka membuat roti panggang dengan variasi keju dan sayuran di dalamnya, tak terkecuali daging dan keju sebagai pelengkap.
Porsinya cukup banyak untuk sekedar sarapan pagi kendati demikian Nio menghabiskan semuanya dan memuji bagaimana rasanya sangat enak dan membuat kedua adiknya tersenyum puas.
Ia selalu berada di sana lebih dulu dan Nio selalu menemukannya.
"Lain kali aku yang akan menunggu di depan pintumu."
"Terserah kamu saja, ayo pergi."
"Sepertinya dia cukup marah, apa Onii-chan melakukan sesuatu padanya?"
"Bukannya dia bereaksi seperti biasanya."
"Kakak benar-benar tidak peka."
Anisa menyeret kursinya lalu duduk dengan mengangkangi sandarannya, menatap Nio.
__ADS_1
"Apa yang kau inginkan?"
"Aku melihatmu waktu kemarin, kupikir kau juga peserta di sana."
"Aku hanya mampir untuk melihat."
"Heh, kalian dua cukup akrab."
"Tentu saja karena kami musuh."
Meldy dan Edo memiringkan kepalanya sesaat namun keduanya akhirnya mengerti.
"Cinta segitiga." X2
"Kalian kalau bicara suka seenaknya, pokoknya hubungan kami tidak bisa disebut musuh atau teman lebih ke arah kenalan."
"Hanya kenalan~" kata Anisa menangis.
"Nio membuatnya nangis."
"Menangis."
Mereka malah memperlakukanku seperti orang kejam.
Pak Seli menerobos kelas dengan memamerkan ototnya.
"Hari ini kita akan olah raga lari mengelilingi wilayah luar SMA Timur paling tidak itu sama dengan berlari 10 km, persiapkan kekuatan fisik kalian."
"Bukannya itu penyiksaan."
Pak Seli berteriak ke arah salah satu murid yang komplain.
"Hah? Jika kau ada keluhan jadilah guru olah raga."
"Ugh... tapi aku ingin menjadi pemain piano."
__ADS_1
"Emang gue peduli, ini juga untuk membantu kalian nanti... bukannya sebentar lagi akan ada festival olahraga, anggap saja latihan, latihan."
Seperti biasa guru ini tidak masuk akal.