
Nio diserang kenyataan pahit bahwa ruangannya terlalu sempit untuk ditempati tiga orang terlebih, seharusnya dua gadis di depannya saling bermusuhan karena pengaruh kedua orang tuanya namun hal itu malah berbeda dari yang dia bayangkan.
"Uh, Risa di tempat ini sangat dingin."
"Jangan khawatir Karin, peluk aku... itu akan menghangatkan kita berdua."
"Kalau begitu."
"Hangatnya."
"Kenapa di sekeliling kalian penuh dengan bunga," tanya Nio tanpa mendapatkan jawaban apapun.
Karena masalah itulah dia akhirnya mengajak dua adiknya yang jelas tidak memiliki hubungan darah untuk mencari apartemen baru untuk ditinggali.
Di tengah perjalanan Risa mengepalkan tinjunya.
"Dibanding apartemen mari beli rumah."
"Aku juga setuju, apa mau patungan Risa."
"Tidak masalah."
Nio merasa bahwa kejadian ini tidak asing untuknya, seperti baru saja dia dipindahkan ke dunia lain yang dipenuhi sihir dan monster, kemudian menjadi petualangan untuk mendapatkan uang dan membeli rumah.
Ini benar-benar sangat klise bagi dirinya yang seorang Otaku.
Tapi jelas itu hanya sebuah fantasi, kenyataannya jika membeli rumah di dunia nyata hanya akan dilakukan oleh sepasang kekasih yang sudah menikah, jadi dia jelas menolaknya.
"Ditolak, apartemen sewa sudah cukup."
Ia memantapkan diri untuk tidak terjerumus kegelapan. Pada akhirnya dia menyewa apartemen yang sama di kediaman Roseanne atau sebenarnya ada di sebelahnya.
Pintu terbuka memunculkan sosok Roseanne yang memucat.
__ADS_1
"Ke-kenapa kau ada di sini?"
"Ahaha, mulai sekarang kami tinggal di sebelah."
Dan Roseanne membanting pintu dengan wajah memerah.
"Dia sepertinya sangat senang."
"Tapi apa Onii-chan mampu menyewa apartemen di sini, itu jelas sangat mahal."
"Kenapa tidak, bukannya aku punya dua adik yang imut dan super kaya."
"Kau memanfaatkan kami."
"Memangnya salah siapa aku harus pindah."
"Tak kusangka kakakku ternyata licik."
Nio tidak peduli dengan apa yang mereka katakan lagipula merekalah yang memulai duluan.
"Apa kau yakin pindah kemari?"
"Mau bagaimana lagi, dua pengganggu itu akan terus mengikutiku. Kulihat apartemen sebelah disewakan jadi aku memilihnya, lagipula akan menyenangkan jika tinggal di sebelah pacarku agar bisa menolongnya jika dia perlu bantuan."
Roseanne memerah dan sekali lagi menutup pintunya, hampir tidak ada kriteria darinya yang bisa menjulukinya sebagai putri dingin saat bersama Nio.
"Sampai kapan kakak menggoda, cepatlah masuk aku sangat lapar."
"Risa juga Onii-chan."
"Kalian seenaknya saja.. dan juga jangan perlakukan aku sebagai pembantu."
"Tapi keahlianmu seperti itu."
__ADS_1
"Risa setuju."
Dua orang ini memang menyebalkan.
"Jadi apa yang kalian ingin makan?"
"Hamburger."
"Pizza."
"Itu bukan makanan rumahan, jangan bilang kalian berdua selalu makan itu."
Keduanya mengalihkan pandangan ke arah berbeda menunjukkan bahwa tebakannya tidak salah.
"Apa boleh buat, apapun itu aku akan memaksa sesuai bahan yang kita miliki."
"Risa jatuh cinta pada Onii-chan," balasnya Dnegan senyuman indah sementara kepalanya sedikit dimiringkan untuk menambahkan efek keimutan.
Perkataan itu sudah cukup membuat jiwa siscon Nio muncul.
Nio berlutut seolah sebuah panah menusuknya.
"Hentikan, jangan katakan itu."
"Risa sudah belajar dari galge dewasa, nah Karin kamu mau memainkannya juga."
"Jangan menyeret gadis polos ke dalam hobimu yang menyimpang."
"Benarkah, tapi ibu Risa selalu bilang.. lakukan apa saja yang kamu inginkan."
"Ibuku juga selalu bilang begitu."
Apa itu ciri khas dari keluarga Mafia, terserahlah aku benar-benar tak ingin memikirkan apapun tentang mereka.
__ADS_1
Nio hanya akan pasrah dengan keadaannya mulai sekarang, lagipula tidak buruk untuk merasakan peran seperti kakak sesungguhnya.