Yang Terkuat Di SMA

Yang Terkuat Di SMA
Chapter 34 : Akhir Pertarungan


__ADS_3

Rendy dengan santai menepis serangan yang dilancarkan oleh Roseanne, serangan itu sudah cukup untuk mematahkan tulang-tulang seseorang jika mereka tidak terlatih dengan baik namun bagi dirinya ini bukan sesuatu yang aneh.


Sebelum menjadi bawahan Risa, Rendy telah lebih dulu melakukan ini di hidupnya. Saat usianya 5 tahun dia sudah ikut terlibat di daerah timur tengah sebagai tentara bayaran, baginya semua pertarungan siswa sekolah adalah sebuah permainan saja.


Dia memberikan pukulan di perut Roseanne, sebelum mencoba memberikan serangan kaki Roseanne berhasil mendahuluinya dengan sebuah pukulan hingga dia mundur menjaga jarak.


Bersamaan itu sebuah ledakan terdengar dari atap sekolah, air tampak tumpah dari sana, meski sulit dilihat, dengan kilatan seperti itu jelas semuanya ulah Risa.


"Nona sepertinya sudah mulai serius."


"Itu bukti bahwa Nio bukan seseorang yang bisa diremehkan."


"Sepertinya begitu, aku juga sebaiknya menyelesaikan pertarungan ini."


Sejak tadi mereka hanya bertarung tanpa kekuatan, Roseanne tidak ingin kemampuannya dikembalikan padanya sementara Rendy tidak memiliki kekuatan untuk menyerang secara langsung, keduanya hanya mencoba menyelesaikan ini dengan jarak aman yang bisa mereka tempuh.


Kedua tangan mereka saling menghantam wajah dan keduanya terlempar secara bersamaan.


"Hanya dengan tangan kosong kau memang kuat, aku memujimu."


"Sebuah kehormatan bisa mendapatkan pujian dari putri dingin."


"Tapi hanya sejauh ini."


"Sejauh ini?


Saat Roseanne mengepalkan tangannya tubuh Rendy langsung terbungkus oleh es.

__ADS_1


"Bagaimana bisa?"


"Kekuatan espermu memang terlihat sempurna dari luar namun jika kau melihatnya lebih dekat banyak kejanggalan di sana."


"Mungkinkah?"


"Dari awal aku sudah menyadarinya, kekuatanmu memiliki batasan di mana hanya bisa memantulkan serangan yang kau sadari bukan."


"Dari mana kau mengetahuinya?"


"Mudah saja, di lenganmu banyak bekas goresan dari peluru jika kau memang memiliki kekuatan untuk memantulkan sesuatu harusnya kau tidak akan terkena hal itu bukan, hanya satu jawaban... kau tidak bisa menebak peluru itu datang dari mana."


"Ugh... sepertinya aku kalah."


"Kau hanya harus diam di sana dan lihat bagaimana rekan kami mengalahkan ketua OSIS-mu itu."


Risa melangkah maju, saat sebuah tendangan di arahkan padanya, dia melompat dan menjadikan kaki Nio sebagai pijakan. Dengan gesit ia menjepit leher musuhnya lalu menjatuhkannya ke lantai atap yang telah digenangi air.


Nio buru-buru mencoba melepaskan dirinya, kendati demikian gadis yang dia lawan jelas memiliki kekuatan yang cukup untuk mengunci pergerakan seorang pria.


"Walau kau terlihat rapuh, kau benar-benar kuat."


"Aku sering melatih tubuhku."


"Jika kau mencoba menyentrumku kau juga akan terkena, kau tahu?"


"Aku ini pengguna kekuatan listrik, listrik tidak akan berpengaruh padaku."

__ADS_1


"Sebenarnya aku tidak ingin melakukan ini, tapi apa boleh buat."


Nio meraih dada Risa, itu kecil, lembut dan dingin namun terasa nyaman di tangan.


"Uwaah, apa yang kau lakukan?"


Kehilangan ketenangannya, tubuh Nio terlepas dari kuncian kemudian dia melipat kedua tangan Risa di bawah.


Ketika Risa mati-matian mengalirkan listriknya itu tidak berefek apapun berkat sarung tangan Nio.


"Benar-benar licik, apa yang barusan, Risa benar-benar terkejut.. polisi, polisi, Risa butuh pengacara juga."


"Ya ampun aku hanya menyentuhnya sedikit."


"Kau meremasnya."


"Sedikit."


Nio mengambil sebuah borgol lalu mengaitkannya di tangan Risa.


"Dengan ini adalah kemenanganku."


"Risa tidak terima."


"Yang kalah bisa bicara apapun."


"Menyebalkan sekali."

__ADS_1


Dari awal pertarungan ini memang tidak seimbang.


__ADS_2