Yang Terkuat Di SMA

Yang Terkuat Di SMA
Chapter 27 : Pekerjaan OSIS


__ADS_3

"Selamat pagi Nio."


"Pagi Meldy, oh.. kau tidak bersama Edo."


"Dia Absen hari ini, aku pikir ia memiliki urusan keluarga."


"Begitu."


"Mau jus lemon."


"Hari ini tidak, aku terlalu banyak makan untuk sarapan."


"Begitu."


Hari ini Meldy dan Nio berada dalam satu jadwal piket jadi mereka lebih dulu datang dibanding siswa lainnya.


"Kalau begitu akan kunaikan kursinya dan Meldy urus lantainya."


"Laksanakan kapten."


Meldy menggerakkan tangannya seolah memberi hormat, bagi Nio itu memang sangat imut, untuk pertama kalinya dia berfikir senang bahwa Edo tidak masuk sekolah.


Selepas menaikkan kursi Nio beralih ke tongkat pel untuk membantu pekerjaan Meldy sebelum akhirnya keduanya membersihkan jendela selanjutnya papan tulis.


Hal seperti ini bisa dibilang hal lumrah bagi seorang siswa. Setelah kering kursi mulai diturunkan kembali memastikan bahwa tidak ada apapun yang terlewat, akan menyakitkan jika ada satu kursi siswa yang belum diturunkan.


Beberapa waktu berikutnya kelas sudah terisi oleh banyak siswa.


Nio menarik mejanya untuk disatukan dengan Meldy, bagi siswa baru ia sama sekali tidak memiliki buku paket selain mencoba melihat ke temannya yang ada di sebelah, paling tidak dia akan mendapatkan bukunya sendiri saat dia naik ke kelas 2.


"Nio kamu terlalu dekat."


"Lebih dekat lebih baik."

__ADS_1


"Apanya yang lebih baik."


"Uwaah."


Seorang guru menarik telinganya dan itu terlihat cukup menyakitkan saat semua orang menertawainya, guru yang dimaksud adalah Pak Seli.


Ini bukan pelajaran olahraga tapi dia di sini untuk mengantikan salah satu guru yang tidak hadir.


"Aku hanya bercanda bisakah anda melepaskan telingaku."


"Tentu, SAAT KAU PUSH UP 100 KALI."


"Baik."


"Mesra-mesraan di dalam kelas dilarang apa lagi saat pelajaran berlangsung, aku harap kau bisa belajar soal itu," senyum puas terlihat dari guru tersebut seolah memang dari awal dia ingin sekali menghukum Nio.


"Sekarang buka halaman berikutnya."


"Baik."


"Nio kamu baik-baik saja?"


"Aku minta jus lemonnya Meldy."


"Sudah habis hanya punyaku yang tersisa."


"Tak masalah."


Saat Nio meminumnya wajah Meldy terlihat memerah, Nio penasaran kenapa ia jadi terlihat malu saat dia memikirkannya dia akhirnya tahu.


"Ah, aku menciummu Meldy."


"Jangan mengatakannya dengan polos, itu hanya ciuman tidak langsung jadi mari lupakan, itu sama sekali tidak dihitung."

__ADS_1


"Sepertinya begitu.. lain kali aku akan berhati-hati, boleh aku minta bekalmu."


"Tentu."


Tidak ada hati-hati dalam kamus Nio.


***


Itu adalah jam sepulang sekolah di mana Meldy dan Nio mendapatkan tugas OSIS yang cukup merepotkan soal festival.


Sementara bagian kios ditangani Amane dan Roseanne kini keduanya mengatasi bagian hiburan yang akan dipertunjukkan nanti, beberapa siswa telah mengantri di bagian pintu sementara secara bertahap mereka menunjukkan bakat yang mereka miliki di atas panggung.


Suatu hari di festival masa lalu ada yang menunjukan hal konyol dalam pementasan hingga membuat festival berubah menjadi kegagalan hal ini dibuat untuk mencegahnya.


"Selanjutnya," ucap Nio dan sekitar beberapa orang naik di waktu berikutnya.


Meldy dengan malu bertanya


"Bakat seperti apa yang akan kalian tampilkan?"


"Kami akan menari dengan musik hip-hop."


"Sepertinya itu keren, silahkan."


Beberapa menit berlalu dan tepuk tangan terdengar dari keduanya.


Nio bersandar ke punggung kursi yang didudukinya selagi berkata.


"Sejauh ini tidak ada masalah."


"Iya, tak kusangka bisa sebanyak ini yang ikut berpartisipasi padahal untuk bagian hiburan tidak ada hadiahnya seperti yang lainnya, seperti kios paling digemari atau stand favorit yang banyak dikunjungi orang."


"Mereka mungkin hanya ingin menghibur saja."

__ADS_1


Meldy mengangguk mengiyakan dan mulai menilai peserta berikutnya.


__ADS_2