Yang Terkuat Di SMA

Yang Terkuat Di SMA
Chapter 54 : Ruang Untuk Bertarung


__ADS_3

Amane membawa Anisa ke sebuah bangunan gedung tak terpakai selagi menghindari peluru karet yang mengincarnya dari belakang. Dia memutuskan naik ke lantai tiga melewati tangga.


"Kau bisa lari tapi tidak bisa bersembunyi."


"Siapa yang lari? Aku perlu ruang yang cukup untuk bertarung denganmu."


"Begitu."


Anisa membuang pistol di tangan kiri dan hanya fokus dengan tongkat di tangan kanannya. Dengan ini satu lawan satu telah terpenuhi.


Keduanya menerjang ke depan, saat Amane menekuk lututnya dia mengayunkan pedang dengan teknik tebasan cepat.


Anisa yang lebih dulu menghindarinya mengambil jarak sedikit lebih cepat, memberikan tendangan melalui lututnya dia melemparkan tubuh Amane ke samping.


Amane menyeka darah yang keluar dari ujung mulutnya kemudian memosisikan dirinya kembali.


"Kau menggunakan bela diri militer bukan."


"Kau menyadarinya, dengan begitu kau benar-benar seorang pejuang."


"Tak masalah, aku juga akan serius untuk ini."


"Dengan senang hati aku ingin melihatnya."


Mereka kembali saling membenturkan senjata mereka, Anisa mengayunkan tongkatnya yang ditangkis ke samping, di saat yang sama Amane memberikan pukulan di perut sebelum disusul dengan tendangan kaki hingga tubuh Anisa terdorong sedikit.


Di saat ada celah itu, Amane melompat ke atas memberikan tebasan lurus ke bawah yang mana dengan baik Anisa menahannya.

__ADS_1


Tongkat Anisa terbelah dua bagian dan ia menggunakan potongan itu sebagai pedang untuk menghalau serangan cepat Amane.


"Teknik pedang keluarga Amane, tebasan angin."


Di detik terakhir Anisa menjatuhkan dirinya ke lantai, serangan itu menabrak dinding di belakangnya hingga hancur menjadi puing-puing reruntuhan, angin berhembus dari sana menerbangkan rok dan rambutnya ke belakang.


Sebelum pedang lain mengenai tubuh Anisa, dia meluncur ke bawah kaki Amane, menjatuhkannya kemudian menguncinya dengan kakinya.


"Fiuh barusan hampir saja, aku pikir aku akan mati."


Amane mencengkeram wajah Anisa.


"Tunggu, tunggu, jangan di wajahku."


Pada akhirnya Anisa memilih mundur dan kedua orang tersebut menjaga jarak.


"Aku juga berniat begitu."


Ketika mereka akan bergerak sebuah bola api menghantam tubuh Amane dari belakang sehingga dia tak sadarkan diri lalu terbang ke arah dinding yang berlubang, Anisa yang tidak ingin dia jatuh segera menangkapnya dengan tangannya.


"Oi, oi, apa yang kau lakukan Norman, kau ingin membunuhnya," teriaknya pada seorang pria yang baru muncul dari kegelapan.


Dia memiliki rambut merah yang dinaikan ke atas.


"Anggap saja yang barusan kecelakaan."


"Kau? Aku sudah bilang akan mengatasinya sendiri itulah gunanya aku sebagai wakil ketua OSIS."

__ADS_1


"Aku sudah tidak sabar menunggu."


"Sifatmu benar-benar buruk."


Anisa menjatuhkan Amane ke lantai sebelum merogoh saku bajunya.


"Maaf untuk barusan."


Dia mengambil ponsel darinya, menggunakan tangannya untuk membuka kunci dan mulai mencari nomor kotak ketua OSIS SMA Timur.


"Apa yang kau lakukan?"


"Karena sudah sejauh ini aku akan menggunakan cara yang lebih cepat, aku akan mengirim pesan untuk orang kuat dari SMA Timur ke tempat ini dan menjadikan Amane sebagai sandera."


"Owh, terdengar menarik, agar tidak ada yang menggangu aku akan mengirimkan seluruh siswa SMA Selatan untuk maju."


"Lakukan saja."


Norman tertawa terbahak-bahak selagi berteriak.


"Dengan ini kita akan memiliki dua kunci sekaligus SMA Timur dan BARAT."


"Seperti menjatuhkan dua burung dengan satu batu kan."


Setelah mengirimkan pesan Anisa kemudian mengikat Amane dengan tali sebelum membawanya untuk duduk bersandar di dinding.


"Kita benar-benar orang jahat," katanya melirik wajah Amane yang pingsan.

__ADS_1


__ADS_2