
Damian telah kehilangan pergerakannya saat beberapa gelembung permen karet telah mengepungnya dari segala arah.
"Hebat bukan, jika kau menyentuhnya sedikitpun itu akan meledak dan tentu saja aku juga bisa meledakannya semauku," suara itu berasal dari seorang gadis yang terus mengunyah permen karet di mulutnya.
Damian menjawab dengan tenang.
"Apa orang tuamu pernah melarangmu jangan terlalu banyak makan permen karet."
"Sayang sekali tapi di keluargaku semua orang sama."
Gadis itu menjentikkan jarinya hingga tubuh Damian di bombardir cukup kuat.
"Heh, mungkinkah kau tidak memiliki kekuatan esper. Jadi begitu hanya sedikit orang yang memilikinya pantas saja SMA kalian paling lemah."
Gadis itu membuat kembali gelembung dari mulutnya, tak seperti sebelumnya Damian telah melesat maju untuk mempersempit jarak.
Menyadari hal itu musuhnya melompat ke samping saat sebuah pukulan hendak mengenai wajahnya, balon permen karet meledak membuat tubuh Damian terlempar kembali hingga berguling-guling beberapa kali di tanah sebelum bangkit kembali.
"Kau ternyata pria rendahan yang bisa memukul wajah seorang gadis."
"Siapa musuhnya aku tidak akan ragu."
__ADS_1
Damian menepuk-nepuk pakaiannya yang kotor, fakta bahwa dia telah menerima banyak kerusakan tidak bisa dibantahkan, singkatnya beberapa ledakan lagi maka dia akan kalah.
Gadis itu memasukan kembali permen karet ke dalam mulutnya, mengunyahnya beberapa saat dan lalu mengirim beberapa gelembung ke udara, di saat yang sama Damian melemparkan bolpoin menusuk salah satunya hingga ledakan terjadi di dekat gadis tersebut.
Sekarang gilirannya yang terlempar ke belakang, tak menyiakan kesempatan Damian melesat maju.
Gadis yang telah bangkit meniup permen karetnya menciptakan gelembung berukuran besar yang mana pukulan Damian tertahan ke dalamnya.
"Skakmat," gadis itu tersenyum senang namun sesaat kemudian wajahnya kebingungan.
"Kenapa bubble gum-ku tidak meledak?"
"Mustahil?"
"Ngomong-ngomong aku juga pemilik kekuatan esper, kekuatanku adalah menonaktifkan kekuatan apapun jika itu menyentuh tanganku."
Damian merobek balon permen karet tersebut dan hanya satu pukulan di perut, gadis itu terkirim jauh sebelum akhirnya pingsan tak sadarkan diri.
"Benar-benar melelahkan."
Di sisi lain pertarungan Roseanne melawan Rendy masih terus berlanjut, Roseanne menciptakan bongkahan es untuk mengurung musuhnya di dalamnya kendati demikian itu berbalik ke arah Roseanne sendiri.
__ADS_1
"Putri dingin tidak sekuat yang kubayangkan," katanya selagi mendorong kacamatanya.
Kekuatan Rendy adalah membuat serangan apapun yang akan mengenainya dibatalkan dengan mudah lalu ditembakkan kembali pada penggunanya, istilah yang cocok adalah Counter.
"Jika kekuatan tak bisa mengalahkanmu aku hanya perlu menyerangmu dengan tangan kosong."
"Majulah."
Roseanne berlari lalu melompat selagi memberikan tendangan udara, dengan gerakan cepat Rendy menangkap serangan tersebut lalu melemparkan tubuh Roseanne ke belakang sebelum dia kembali menyerang dengan tinjunya.
Mereka menyerang dan bertahan dalam beberapa waktu sebelum akhirnya saling membenturkan tinju di udara kemudian saling menyilangkan kaki mereka dan mundur menjaga jarak.
"Tidak baik seorang gadis mengangkat kakinya setinggi barusan, merah muda kan?"
"Apa kau berubah jadi si mata empat cabul."
"Maafkan atas ketidak sopanannya aku hanya tidak sengaja melihatnya.. ngomong-ngomong, apa kau yakin menyerahkan pertarungan akhir pada pemuda itu. Kau dan nona Risa adalah salah satu putri dari empat Mafia kelas atas yang terlibat dalam pembangunan kota Rahayu ini jika menyerahkan pada orang biasa kalian akan menyesal."
Ada jeda dalam balasan tersebut.
"Jangan khawatir, karena aku mempercayainya."
__ADS_1