
Di sudut taman kota Roseanne dan Nio duduk bersama di sebuah kursi panjang.
"Kalau saja aku mendapatkan belaian lembut dari pacarku aku yakin aku akan jauh lebih baik sekarang, sakit."
"Meski babak belur begini kau masih mengatakan hal aneh-aneh," ucap Roseanne kecewa selagi meletakan es di wajah Nio yang babak belur.
"Aku perlu dihibur."
Nio tak berhenti menggodanya namun Roseanne tidak menyerah untuk menepis godaan tersebut meskipun sikapnya lebih ramah sekarang.
Roseanne meneteskan air mata hingga membuat Nio kebingungan.
"Uwah... maafkan aku, aku tidak bermaksud."
"Bodoh."
Nio ingin melompat selagi memeluknya namun dia memilih terduduk di kursi dengan wajah yang seolah melihat surga.
Imutnya.
"Apa kau sengaja membiarkan dirimu dipukuli, aku ingin sekali berteriak dan masuk ke dalam arena."
"Begitukah."
"Aku serius."
Nio memang senang mendengar ada seseorang yang marah untuknya namun dia juga tidak bisa memukul wanita seenaknya, selama pertandingan berlangsung Nio hanya memberikan beberapa pukulan biasa yang tidak terlalu menyakitkan ia juga sebisa mungkin tidak mengenai wajah Anisa.
Meski cara tersebut berbelit-belit, Nio masih dinyatakan sebagai pemenang. Anisa yang kelelahan karena terus-menerus memberikan serangan dikeluarkan dari arena dengan mudah.
Itu adalah keseluruhan gambaran dari pertarungan tersebut.
__ADS_1
"Aku sedikit lapar."
"Aku tahu kau akan mengatakan itu jadi aku membawa banyak makanan, belakangan ini aku meminta Amane mengajariku juga."
"Bukannya ini kotak bento, aku akan menangis karena senang."
"Berhenti bersikap berlebihan, aku malu jika semua orang melihat kemari."
"Hal seperti ini wajar bukan."
Pipi Roseanne memerah meski begitu dia memaksakan diri untuk menyuapi Nio yang tersenyum senang.
Dengan kemenangan Nio, Anisa secara otomatis akan menjadi pelayannya dan mengabdikan diri sepenuh hati padanya, membayangkan hal itu tubuh Nio gemetaran, ia akan menjalani kehidupan dimana ada orang lain yang akan terus menerus mengikutinya kemana pun dia pergi dan hal itu terjadi saat ia berada di ruang OSIS seperti biasanya.
Roseanne dan Edo menyipitkan mata melihat bagaimana Nio duduk didampingi Anisa di sebelahnya.
"Mulai sekarang aku akan terus berada di samping tuan Nio selama hidupku."
"Benar, aku yang harus berada di samping Nio selamanya."
Roseanne berhenti saat semua orang mengalihkan pandangan ke arahnya.
"Uwaah."
Karena malu ia berlari ke luar untuk melarikan diri.
"Aku sangat iri, Meldy jadi pacarku," potong Edo.
"Jangan konyol kau bukan tipeku."
"Uwaah kejam sekali, Amane?"
__ADS_1
"Aku lupa dimana meletakan pedang kayuku."
"Kalian benar-benar kejam, aku tidak tahu bagaimana Damian bisa sesantai itu bro."
"Kau belum mengetahuinya tapi Damian itu populer di antara para gadis, aku sempat melihatnya dikerumuni puluhan siswi SMA lain."
"Mustahil... kalau begini masa mudaku akan terbuang sia-sia."
Nio hanya membalas dengan senyuman masam, karena Roseanne telah meninggalkan ruangan maka rapat untuk persiapan festival olah raga pun telah selesai.
Risa dan Karin cukup terkejut saat kakak mereka membawa gadis baru ke apartemen.
"Si-siapa dia kakak?"
"Namanya Anisa, dia."
"Mulai sekarang aku mengabadikan diri sebagai orang yang melayani tuan Nio, mohon bantuannya ke depannya."
"Tu-tuan, mencurigakan sekali."
"Risa juga berpikiran demikian, padahal Onii-chan sudah memiliki Risa tapi malah membawa gadis baru."
"Perkataan kalian selalu membuat orang lain salah paham."
"Kalau begitu di mana kamarku?"
"Pilih saja yang belum terisi, untuk malam ini aku yang memasak Anisa bisa mandi duluan."
"Tapi aku harus menggosok punggung tuan, itu adalah pekerjaanku."
"Tidak, itu terlalu ekstrim dan juga pekerjaanmu tidak melakukan hal seperti itu," Nio jelas menegaskan hal itu.
__ADS_1
Jika terus berlanjut dia benar-benar akan hidup seperti seorang Mafia.