
Sama seperti Roseanne, kepala sekolah ini berpenampilan berbeda dari karakter sesungguhnya, di sekolah dia bersikap dingin, disiplin dan sadis tapi jika sekarang apa yang Nio lihat jauh dari kata tersebut.
Seolah disambar petir di siang bolong apa yang dirasakannya.
Semua orang yang dikenalnya gapmoe.
Tak lama sebuah suara menyadarkannya.
"Hey Nio, belikan aku boneka ini?"
"Kau mau memeras murid di sekolahmu, harganya mahal."
"Apa? pacarmu tidak akan menyukaimu jika kau bertingkah seperti ini, kau harus baik pada semua orang."
"Aku tidak mau mendengar dari orang yang lebih kaya dariku."
"Apa boleh buat, aku harus mengeluarkan senjata andalanku, kartu platinum."
Ester merogoh sakunya dan menunjukannya kepada Nio.
"Mustahil, bukannya itu kartu yang hanya dimiliki orang-orang yang memiliki tabungan lebih dari 1 triliun."
"Kau tahu juga berarti kau juga memilikinya."
"Mana mungkin aku memiliki hal seperti itu, terlebih membeli boneka yang harganya cuma ratusan ribu itu terlalu berlebihan."
"Aku malas membayar dengan uang tunai."
Nio mengambil dompet Ester lalu membelikannya boneka yang dimaksud.
__ADS_1
"Kau hanya ingin pamer barusan."
"Begitulah."
Nio dan Ester berkunjung ke beberapa kedai, membeli beberapa makanan yang mereka mau dan mencoba bersosialisasi dengan orang-orang sekitar.
Tidak ada hal yang berbeda tentang semua ini, semuanya kota damai pada umumnya tidak terkecuali wilayah SMA Barat atau Selatan.
"Apa kau mengerti sekarang?"
"Aah, berkat membagi wilayah menjadi empat wilayah maka setiap wilayah menjadi damai dan semua warga sipil tidak dilibatkan dalam pertempuran."
"Benar, jika bukan kau yang memenangkan wilayah ini tidak berlebih jika wilayah yang kalah akan diperbudak, kau lihat orang-orang di sana."
Nio bisa melihat dua kubu yang sedang berpapasan.
"Mereka membaur dengan baik dan juga aku tidak menyangka mereka mengobrol satu sama lain."
"Itu karena kemenangan kita, yang kalah tidak bisa berbuat apa-apa sementara yang menang tidak mengambil keuntungan karena perjanjian yang kau buat, itulah cara untuk mendapatkan perdamaian."
"Aku masih penasaran bagaimana kalian bisa mengetahui semuanya."
Ester tersenyum lalu mengajak Nio ke sebuah warnet kecil, setiap bilik memiliki ruangan kecil jadi Ester harus duduk di pangkuan Nio yang berteriak dalam hati.
Apa-apaan ini? Aromanya juga wangi.
Ester tidak peduli dengan situasi tersebut dan mencoba mengunjungi situs dunia bawah, ia memasukan beberapa kode tertentu yang nyaris tidak bisa diikuti pandangan Nio dan dalam sekejap seluruh video tentang pertarungan sekolahnya dimuat di sana dengan jutaan penonton termasuk pertarungan Nio juga.
Dia jelas tidak menyadarinya.
__ADS_1
Ester mengklik video dimana itu merupakan pertarungan Nio melawan Risa.
"Pantas saja tidak ada yang komplain soal kemenangan kami, semua orang sudah tahu."
"Begitulah, semua video ini direkam dari drone, cctv serta dari kameramen ahli hingga kau tidak akan menyadarinya, ngomong-ngomong aku suka bagian dimana kau menyentuh dada Risa."
"Uwaah.... tindakan kejahatanku telah diketahui, aku harus segera melarikan diri, mengubah namaku dan hidup damai di suatu kota tertentu," kata Nio dengan wajah serius.
"Hal seperti itu tidak bisa dibilang tindakan kejahatan lagipula hanya menyentuh dada gadis bukan hal serius."
"Aku tidak bisa mengerti pola pikir kalian, jadi jika aku menyentuh punyamu aku akan baik-baik saja."
"Tergantung apa aku akan memaafkanmu atau tidak."
"Kau pasti akan membunuhku."
"Baguslah kalau kau mengerti."
Video menampilkan Nio yang meninggalkan atap, sementara Risa bangkit selagi menepuk-nepuk pakaiannya, dia berbalik ke arah kamera selagi menunjukan senyuman dengan pose v.
"Bukannya kau bilang sulit untuk menyadari kamera, kenapa Risa?"
"Risa itu pengguna esper terkuat, bahkan aku kaget kau bisa mengimbanginya terlebih kau malah menjadi kakaknya."
"Seberapa banyak kau tahu?"
"Semuanya, tapi jangan khawatir soal kegiatan pribadi tidak ada yang meliputnya, hanya pertarungan diantara kalian saja."
Nio merasakan cemas dan lega di waktu bersamaan.
__ADS_1