
"Selamat pagi kalian berdua."
"Pagi Nio."
"Pagi Bro, kau tampak lesu."
"Aku kesiangan dan belum sempat makan."
"Itu buruk, mau minum jus lemon."
"Apa yang kau katakan perut kosong tidak baik untuk Nio, dia perlu makanan bergizi seperti bekalku, kau mau?"
"Tidak usah, aku sudah beli beberapa roti saat datang kemari."
Bel berbunyi dan wali kelas mereka muncul tanpa lepas dari make up-nya, tak hanya sendirian seorang murid perempuan mengikutinya dari belakang.
"Gadis ini cantik sekali."
"Um, aku belum pernah melihatnya."
Di saat seluruh kelas jatuh dalam kekaguman hanya Nio yang menunjukan senyuman pahit di wajahnya.
"Namaku Anisa, mulai sekarang mohon bertemanlah denganku."
Seperti yang diduga dia maniak senjata yang sebelumnya dikalahkan Nio.
"Jadi apa ada yang ingin kalian tanyakan pada Anisa?"
Beberapa siswa laki-laki mengambil kesempatan itu lebih cepat.
"Apa kamu sudah memiliki pacar?"
"Pacar kah, sayang sekali tapi aku belum berminat soal hubungan."
__ADS_1
Teriakan laki-laki semakin meriah selanjutnya pertanyaan dari para perempuan.
"Apa ada alasan khusus kenapa Anisa pindah kemari?"
"Ada seseorang pemuda yang ingin kukalahkan, sebelumnya aku dipukul olehnya dan dari yang kutahu dia juga bersekolah di sini."
Senyuman jahat Anisa jelas diarahkan pada Nio.
"Apa? Berani sekali dia, mari cari siapa orangnya."
"Aku juga berfikir demikian."
"Jangan khawatir aku bisa melakukannya sendirian."
Hari-hari Nio yang dipenuhi niat membunuh telah dimulai. Nio akan merasakan sebuah tatapan kemanapun dia berada. Ketika di kantin, berduaan dengan Roseanne, pergi ke ruangan OSIS bahkan ke toilet juga, itu mulai menggangunya.
"Tisunya habis."
"Aku bawakan."
Dan akhirnya Nio dan Anisa saling bertemu di pekarangan sekolah dengan tatapan kebingungan.
"Jadi apa yang kau inginkan?"
"Tentu saja bertarung denganmu secara serius."
"Bertarung? Sekolah kalian sudah kalah terimalah itu, kudengar Norman juga tidak akan membuat keributan lagi dan kau malah keluar dari SMA Selatan dan sekolah di sini."
"Tidak ada yang melarang bukan, lagipula sebenarnya aku berasal dari keluarga assassin, jika aku tidak bisa mengalahkanmu aku harus melayanimu sebagai pelayan."
"Kenapa begitu?" Nio berteriak terkejut sementara Anisa mengalihkan pandangannya ke langit.
"Ini adalah harga diri dari keluargaku, kami selalu melayani orang yang kuat, jika suatu hari aku kalah maka aku juga melakukan hal sama lagipula kau tidak membunuhku...."
__ADS_1
Nio memotong dalam hati.
"Sudah jelas kan."
"....Sebelumnya itu tidak dihitung karena aku waktu itu lengah karena itulah aku ingin menantangmu sekali lagi dan memastikan bahwa kau memang orang tepat untuk aku layani."
"Jika begitu aku sama seperti Mafia dong."
"Bukannya kau memang Mafia, kau berhubungan dengan Risa dan juga Karin mereka jelas keluarga Mafia."
Itu mengenai tepat di hati Nio hingga dia tidak bisa menyangkalnya.
Dari semua orang jelas dialah orang yang paling dicurigai sebagai pemimpin Mafia.
"Lalu jika aku kalah, apa yang aku dapat?"
"Aku akan membunuhmu."
"Itu berarti aku tidak boleh kalah."
Anisa mengangkat tangannya.
"Aku sudah terlibat banyak peperangan hal seperti itu kecil bagiku."
Nio jelas merinding, dia selalu berurusan dengan sesuatu yang mengejutkan.
"Aku mengerti, kalau begitu aku menolak."
"Sayang sekali jika kau menolak aku akan meledakkan kelasmu."
"Kau ini seperti penjahat saja."
"Memang aku penjahat, seminggu dari sekarang duelnya akan dimulai... sampai saat itu tempat duelnya aku rahasiakan, permisi."
__ADS_1
Nio hanya mengawasinya dari kejauhan selagi bergumam.
Jika dia benar-benar ingin membunuh seseorang seharusnya dia tidak menggunakan peluru karet.