Yang Terkuat Di SMA

Yang Terkuat Di SMA
Chapter 66 : Sebuah Bunga


__ADS_3

Edo meninggalkan kelas bersama Meldy.


"Aku yakin siang tadi hari cerah, tapi sekarang malah hujan."


"Ini yang disebut cuaca pancaroba tapi syukurlah bahwa aku selalu membawa payung kemanapun aku pergi."


"Seorang laki-laki membawa payung dan warnanya pink juga."


"Terkadang perkataanmu melukaiku Meldy, aku ini pria tulen."


"Aku sudah kenal denganmu aku tidak ingat kau seorang laki-laki sejati, dulu kau pernah pipis di celana karena dikejar soang."


"Uwaaah... jangan membongkar masa kelamku."


Meldy dan Edo melihat seorang siswi perempuan yang sedang mondar mandir, ia adalah Alisa sekaligus teman sekelas mereka.


"Sepertinya dia tidak membawa payung, sebaiknya kau bantu dia."


"Lalu denganmu?"


"Tak usah dipikirkan, jadilah pria sejati dan tawari dia pulang bareng."


"Aku?"


"Kau ini tidak peka kah, pergi."


"Aku mengerti jangan mendorongku."


Meldy bersembunyi dan melihat bagaimana Edo melakukannya dengan baik. Melihatnya Meldy tersenyum bangga sebelum suara Damian menyadarkannya.


"Kau sedang apa?"


"Aku sedang mengintip, uwaaah... kak Damian, tidak.. aku hanya."


"Sepertinya pacarmu direbut orang."

__ADS_1


"Dia bukan pacarku dia hanya teman masa kecilku."


"Begitu, tak kusangka hari ini bakal hujan."


"Apa kak Damian tak membawa payung?"


"Aku membawa motor jadi tidak mungkin membawanya."


"Heh begitu."


Meldy sedikit senang bahwa dia tidak harus menunggu sendirian di sekolah. Beberapa orang memaksakan diri untuk berlari hujan-hujanan namun Meldy menyadari jika dia melakukannya mungkin ia akan demam keesokan harinya.


Semakin lama jumlah siswa semakin berkurang dan hanya menyisakan Damian dan Meldy saat hujan reda.


"Kurasa ini sudah terlalu sore, mari pergi akan kuantar."


"Eh?"


"Apa kau tidak mendengarnya?"


"Ah, baik."


Dalam perjalanan ke sekolah Nio berdiri di depan toko bunga selagi memikirkan bunga seperti apa yang dia akan beli. Hari ini tidak ada acara khusus seperti banyak orang pikirkan hanya saja, para gadis suka bunga jadi ia ingin mencoba memberikannya pada Roseanne dan melihat seperti apa wajahnya.


Singkatnya dia ingin mencoba menjahili Roseanne untuk bertingkah imut. Ia membuka layar ponselnya dan melihat bagaimana karakteristik dari bentuk bunga dan filosofinya.


Beberapa saat jatuh dalam pemikiran tersebut, Roseanne telah berdiri di belakangnya selagi memicingkan matanya.


"Aku berfikir kenapa kau pergi pagi-pagi sekali, jadi untuk beli ini."


"Ugh... ketahuan."


"Kebetulan aku melihatmu saat tepat membuka pintu."


Tadinya Nio bersiap untuk dimarahi adiknya karena tidak menunggu mereka demi kejutan ini, tapi semuanya sia-sia.

__ADS_1


"Hoh, jadi kau ingin membeli bunga untukku, mana pilihanmu."


"Jangan menggodaku, aku pria polos."


Tak lama pemilik toko yang merupakan wanita paruh baya muncul.


"Apa kamu sudah memutuskan bunga seperti apa yang ingin kamu beli? Kamu bilang pacarmu memiliki dada besar aku pikir tidak ada bunga dengan filosofi seperti itu."


Tubuh Nio gemetaran dia bisa merasakan tatapan dingin yang menusuk punggungnya.


"Maaf, aku pikir aku akan membeli bunga indah ini, dia sangat imut dan cantik dan warnanya juga sama dengan rambutnya."


"Lily putih kah."


Pemilik toko akhirnya menyadari sesuatu penting setelah melihat Roseanne. Ia menutup mulutnya dengan tiba-tiba.


"Dia pacarmu?"


"Iya."


"Jangan khawatir dia pria yang sehat."


"Memalukan sekali."


Setelah membeli pada akhirnya Roseanne menyeret Nio untuk berjalan.


"Apa yang kau pikirkan hingga mengatakan hal tidak-tidak pada penjual bunga."


"Ahaha."


"Jangan tertawa."


"Mungkin ini bukan kejutan lagi, tapi bunga ini untukmu."


"Bodoh."

__ADS_1


"Imutnya."


"Berisik."


__ADS_2