
"Paling tidak, seharusnya kau bersihkan tempat ini."
"Aku tidak punya waktu untuk melakukannya."
Nio jelas yakin dia hanya malas saja, selagi memakan potongan pizza dia duduk di sebelah Felicia yang sedang mengetik banyak tombol di laptopnya.
"Meretas dengan laptop apa tidak berbahaya?"
"Tenang saja aku tidak langsung melakukannya, aku mengendalikan super komputer milikku lewat ini."
"Super komputer? Kau menyembunyikannya di suatu tempat."
"Yap, aku tidak bisa menunjukannya karena tempat itu biasa kujadikan markas saat bekerja."
"Aku penasaran pekerjaan seperti apa yang kau lakukan tapi kurasa itu jelas hal berbahaya untuk tahu."
"Tepat sekali, aku sudah masuk ke cctv kota Rahayu."
Nio mulai melihat dimana 50 cctv diputar secara bersamaan.
"Hentikan di sana, yang ini."
"Baiklah."
Layar monitor menampilkan sosok Hirakawa Aoi yang sedang berjalan tenang di malam hari bersama pengawalnya yang mengenakan kimono serta pedang di pinggangnya.
Kamera yang diambil hanya sekitar kediaman kepala sekolah SMA Utara yang kehilangan kursi olehnya.
"Gadis ini menakutkan."
"Aku juga berfikiran sama."
Kini mereka dikepung oleh banyak pria dengan stelan jas hitam, tanpa menarik pedang dari sarungnya, pengawalnya dengan cepat menumbangkan semuanya sebelum meminta Aoi berjalan lebih dulu.
"Cukup menyebalkan, bahkan sejauh ini kita tidak bisa melihat bagaimana dia bertarung, aku juga tidak tahu bagaimana cara dia mencuri kekuatanku."
__ADS_1
Felicia mengambil pizza lalu memakannya bersama cola sebelum mengetik pencarian di layarnya, dia masuk ke server luar negeri dan di sana dua wajah ditampilkan dengan jelas.
Pertama Hirakawa Aoi.
"Pantas saja dia mirip Ojou-sama, ia putri anggota keluarga Yakuza cabang ke-13.. nilai sekolahnya semuanya pas KKM, olahraganya juga tidak mencolok, hmm... apa kau tahu itu Nio?"
"Dia sengaja melakukannya."
"Tepat, sepertinya dia tidak ingin mengambil tempat sesungguhnya di sana lalu pengawalnya cukup mengejutkan, dia terlibat banyak kasus kriminal, memiliki kemampuan menebas musuh dan juga memiliki dedikasi tinggi terhadap orang yang dilayaninya, namanya Rain Sakuragi, kurasa namanya bisa diartikan hujan sakura."
"Sudah sejauh ini aku tidak memiliki petunjuk penting."
"Bertemu denganku malah bisa disebut keberuntungan, berikan nomor ponselmu sudah lama sekali aku tidak mengobrol dengan orang lain."
"Mangkanya pergi sekolah napa."
"Sekolah membosankan lebih baik aku di sini dan memainkan banyak game menantang."
"Hanya game dewasa."
"Seharusnya aku tidak mendengar hal barusan."
"Jangan khawatir aku tidak mudah ditemukan jikapun berhasil aku ingin kau menjadi saksiku."
"Ogah."
Nio meninggalkan ruangan tersebut dengan langkah berat, Aoi memang kuat namun anak buahnya juga tidak bisa diremehkan.
Nio mengangkat ponsel saat Edo meneleponnya.
"Ada apa?"
"Meldy diserang, aku berada.."
"Tunggu sebentar aku akan ke sana."
__ADS_1
Nio buru-buru ke tempat yang dikatakan Edo, ia terkejut melihat bahwa keduanya sedang duduk di trotoar jalan.
"Apa kau baik-baik saja?"
"Nio aku tak apa."
"Apa yang terjadi?"
"Entahlah, saat aku dan Edo berjalan di sekitar sini ada seorang gadis dengan tongkat dan tiba-tiba aku pingsan begitu saja."
"Aku juga tidak mengerti bro, aku juga melihatnya tapi aku baik-baik saja lagipula gadis itu hanya diam selagi tersenyum."
"Meldy coba tunjukkan kekuatanmu?"
"Kenapa?"
"Lakukan saja."
Meldy mengulurkan tangannya untuk sedikit membuat pusaran angin di sana, beberapa detik tak terjadi apapun.
"Eh, aku tidak bisa?"
"Aoi mengambil kekuatanmu."
Nio secara tergesa-gesa menghubungi Amane setelah Roseanne tidak menjawabnya.
"Nio ada apa?"
"Apa Roseanne, Damian masih berada di ruangan OSIS."
"Ah mereka baru saja pergi."
"Mereka mungkin sedang diincar tolong temukan mereka, barusan Meldy bertemu dengan Aoi dan sekarang kekuatannya telah diambil olehnya."
"Mustahil? Aku akan bergerak sekarang."
__ADS_1
Panggilan tersebut terputus.