
Nio berlari sekuat yang bisa dia lakukan saat seluruh jendela yang dia lewati pecah berserakan terhantam kilatan petir yang brutal.
Tak hanya bela diri sosok gadis yang mengejarnya adalah pemilik kekuatan yang mengerikan, dengan tongkat yang dia ayunkan dia menghancurkan segalanya.
"Dasar idol gila, bukannya ini sekolahmu juga."
"Hanya sekolah, dengan uangku tempat ini akan kembali sedia kala dalam waktu semalam."
Nio berguling di lantai saat sebuah APAR meledak dengan keras, bertarung di arena sempit hanya akan memperburuk keadaan karena itu ia menaiki tangga untuk segera bergegas ke bagian atap sekolah.
"Kau bisa berlari tapi tak bisa bersembunyi, Risa akan memberikan sengatan yang luar biasa padamu Onii-chan."
Itu perkataan yang sering dikatakan penjahat kelas atas.
"Kau jelas akan membunuhku."
"Yaw mana mungkin, Risa gadis baik loh."
Orang ini memang seorang idol, dia bisa berakting sesuai yang diinginkannya. Mengetahui pintu atap terkunci Nio menendangnya hingga pintu itu terlempar jauh dan akhirnya dia bisa merasakan hembusan angin dari tempatnya berdiri, Nio berjalan sedikit menjauh dan melihat sosok Risa yang telah keluar dari satu-satunya pintu di sana.
__ADS_1
Dengan cepat Nio melemparkan yoyonya, melilit tongkat besi di tangan Risa, kemudian melemparkannya jatuh ke bawah.
"Jangan pikir hanya ini persiapanku."
"Aku sudah tahu, di telepon kau bilang akan menggunakan segala kemampuanmu yang kau miliki jangan biarkan Risa kecewa."
Nio melempar yoyonya ke samping lalu menggantinya dengan sarung tangan karet untuk mencegah dia tersetrum, jika dia bermain-main nyawanya akan melayang dan jelas orang di depannya orang yang kebal hukum juga.
"Mari serius."
"Itu baru menyenangkan."
Risa melesat maju dengan kecepatan petir, Nio hanya perlu setengah detik untuk melayangkan tendangan kakinya kendati demikian Risa mampu melewatinya dengan cara membungkuk rendah.
Risa memberikan pukulan di perut, sebelum Nio terlempar dia berhasil meraih penutup mata Risa dan di sana ia melihat bahwa sebelah matanya memiliki warna berbeda.
"Mata itu?"
"Risa kagum bahwa ada orang yang berhasil melepaskan penutup mata Risa, seperti yang kau lihat Risa memiliki dua kemampuan esper."
__ADS_1
"Itu jelas tidak normal, apa mungkin kau membunuh orang lain dan merebut matanya."
"Ya ampun itu sangat ekstrim, walau Risa pemimpin Mafia, Risa tidak melakukan hal sejauh itu, ini mata yang murni yang dimiliki Risa sejak kecil, ayah Risa memiliki kekuatan petir dan ibu Risa memiliki kemampuan untuk melihat tembus pandang serta pergerakan musuh, jika mereka menikah kemungkinan anaknya memiliki setengah kemampuan mereka, bukan sesuatu yang mustahil benarkan."
"Jadi begitu, mengejutkan sekali, lalu dimana orang tuamu?"
"Kedua orang tua Risa sedang dirawat di rumah sakit, keduanya terlibat perang di Jerman."
"Kehidupan yang penuh pertumpahan darah."
"Begitulah, kita juga tidak jauh berbeda."
Risa dan Nio kembali mengirimkan serangan terbaik mereka walaupun dari jumlah pukulan Nio jelas kalah telak, meski begitu dia masih bisa membalas.
Pada dasarnya keduanya memang telah dilatih sejak kecil.
Nio mencengkeram baju Risa kemudian membantingnya ke lantai, di saat yang sama Risa menghindari serangan berikutnya lalu menendang tubuh Nio hingga menghantam tangki air di belakangnya, saat petir di tembakan tangki air itu meledak menghasilkan hujan yang membasahi keduanya.
"Bukannya ini pertarungan yang menyenangkan Nio."
__ADS_1
"Begitulah, namun aku tidak ingin berada di pihak yang kalah."
"Risa juga merasakan hal sama, mari lebih bersenang-senang lagi."