
"Kau tidak memiliki kekuatan esper, apa yang bisa kau lakukan? Anisa."
"Okay."
Anisa mengganti peluru kosong di pistolnya lalu menembakannya dari kejauhan, tanpa berkedip Nio menghindarinya dengan sedikit memiringkan kepalanya.
"Mustahil, apa barusan cuma kebetulan," ucap Anisa selagi berjalan maju dan Nio berlari mendekat.
Setiap tembakan Anisa dihindari dengan mudah.
"Tunggu, tunggu, ini tidak masuk akal."
Tepat di depannya Nio menangkis lengannya, merebut pistolnya lalu membuang isi pelurunya.
"Sialan."
Nio menghindari tendangan Anisa kemudian kibasan tangannya dan dengan sekali pukulan di antara leher Anisa jatuh pingsan dan Nio menangkapnya sebelum membaringkan tubuhnya di lantai, dia menatap ke arah Norman yang bertepuk tangan.
"Menarik, jadi kau benar-benar kuat... pantas saja Risa kalah."
"Sekarang giliranmu."
Keduanya berlari dengan cepat, Norman memberikan pukulan samping yang bisa dihindari dengan menunduk ke bawah sementara Nio membalas dengan memberikan pukulan upper cut, di dalam olahraga tinju pukulan ini bertujuan untuk mengalahkan lawan dengan KO, namun Norman lebih dulu menarik tubuhnya ke belakang tanpa terluka.
"Nyaris sekali."
"Gerakan bagus."
Norman menyelimuti dirinya dengan api, karena seragamnya tahan api itu tidak merusak sedikipun pakaiannya.
"Sekarang bagaimana kau bisa memukulku?"
__ADS_1
Dia menyerang dengan bola api dan secara bertahap Nio menghindarinya dengan bergerak ke samping sembari melompat-lompat kecil, tak lama sebuah tendangan melesat di wajah Nio tanpa memberikan luka.
"Apa?"
Berkat api Nio kesulitan untuk menyerang, dia juga bisa merasakan hawa panas dari tubuh musuhnya, ledakan api membuatnya mundur sedikit jauh hingga berada di sebelah Roseanne.
"Ini cukup menyulitkan."
"Ambilah ini Nio dan gunakanlah."
"Aku mengerti."
Roseanne memberikan bola salju pada Nio sebelum melesat maju.
"Aku tidak tahu apa yang ingin kau lakukan, tapi semua itu percuma."
Bola api ditembakan dan Nio berseluncur di lantai untuk menghindarinya, tepat berada di depan Norman dia melemparkan bola salju tersebut dan dalam sekejap tubuh Norman yang diselubungi api segera padam dalam sekejap mata.
"Es seperti ini mudah aku padamkan."
Tanpa menunggu Nio memberikan beberapa pukulan di tubuh Norman dengan cepat serta akurat, darah menyembur dari mulutnya.
Keduanya saling memberikan pukulan, hanya untuk Norman tidak ada yang bisa mengenai musuhnya. Saat Nio melompat ke atas dia memberikan hantaman sikutnya hingga Norman jatuh tak sadarkan diri.
"Sudah selesai."
Nio mengambil kunci di leher Norman yang mana itu adalah kunci ketiga yang dimiliki SMA Timur, bersama itu sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya bertuliskan.
Kita menang.
Roseanne yang baru membebaskan Amane hanya tersenyum sebagai balasan. Ini pertempuran yang penuh kekerasan dibandingkan melawan SMA Barat.
__ADS_1
Ketiganya keluar dari bangunan terbengkalai tersebut dan melihat semua orang yang babak belur berdiri di depan mereka selagi tersenyum penuh kemenangan, termasuk Meldy dan Edo.
"Aku pikir semua orang tidak akan masuk sekolah besok," ucap Nio pada Roseanne yang dibalas dengan mengangkat bahunya.
"Sayang sekali, pendidikan sangat penting kalian jelas tidak boleh bolos."
"Aku tidak tahu kalian siswa berandalan atau siswa teladan."
"Nio terima kasih, dengan ini tinggal selangkah lagi membuat perdamaian di sekolah ini."
"Entah kenapa aku merasa seperti karakter utama yang harus mengalahkan raja iblis."
"Kupikirkan kau sendiri yang raja iblis."
"Itu melukaiku."
Saat Nio sadari Roseanne telah memeluknya erat, walau Roseanne penggunaan kekuatan es tubuhnya terasa hangat.
Amane juga tersenyum untuk keduanya.
Beberapa hari berikutnya Nio berjalan ke sekolah sambil bermain-main dengan yoyonya, setelah melewati beberapa bangunan dia berdiri di pinggir jalan menunggu lampu berubah hijau dan di seberangnya tampak seorang gadis yang mengenakan seragam sekolah serta tongkat berdiri di sana. Ia memiliki rambut biru dengan topi bundar.
Ketika lampu berubah mereka berdua berjalan di waktu bersamaan kemudian saling melewati sebelum berbalik untuk saling menatap.
"Ternyata kamu orangnya yang membantu SMA Timur, jika begitu akan menyenangkan untuk menghancurkanmu."
"Dari semua orang siswa pantas saja kau tidak bisa kukeluarkan dari sekolah itu, kau pengguna kekuatan esper telepati, Hirakawa Aoi."
"Jangan salah paham, tanpa menggunakannya aku mampu melakukannya."
"Kalau begitu berjuanglah."
__ADS_1
"Kurasa kaulah yang memerlukannya."
Keduanya kembali berjalan tanpa mengatakan sepatah katapun lagi.