
Meldy jatuh dalam pemikiran dalam.
"Aku yakin kelas dua tidak ada pelajaran renang."
"Mana mungkin seperti itu."
Mengingat apa yang terjadi saat ujian renang Meldy benar-benar kalah saat itu, ia tenggelam dan Nio harus menariknya dari dasar kolam.
"Kau masih punya waktu untuk belajar Bro."
"Sudah kukatakan jangan memanggilku Bro."
Nio melambaikan tangan ke arah Alisa yang sesekali mengintip dari tempat duduknya.
"Alisa mau bergabung, kemarilah bawa bekalmu juga kemari."
Karena diluar turun hujan ketiganya memutuskan memakan bekal di dalam kelas. Jika diperhatikan Alisa tidak terlalu banyak teman. Ia seperti seorang penyendiri dengan aura sulit didekati sedikit berbeda jauh dengan aura Roseanne yang mengagumkan.
Ia bahkan mengecat rambutnya menjadi pirang sementara satu matanya tertutup poni rambut.
Alisa mengangguk kecil dia berjalan pelan lalu menyeret kursi untuk duduk di sebelah Nio.
"Di kelas satu kita tidak terlalu banyak bicara, mulai sekarang mari berteman."
"Ah iya."
"Aku juga."
"Dan aku juga."
"Meldy kau jadi tidak pemalu lagi."
__ADS_1
"Aku sudah berubah sejak lama."
Roseanne dan Karin muncul selagi menatap ke arah Nio.
"Tukang selingkuh."
"Aku hanya duduk bersebelahan dengan Alisa."
"Ah maafkan aku, aku akan pindah."
"Tidak usah.. aku duduk di sini saja."
Nio berteriak dalam hati.
Kenapa bisa?
Roseanne duduk di pangkuannya dan makan seolah tak terjadi apapun. Sementara Karin duduk di tempat lain setelah menyeret kursi yang lain.
"Pasti berat untuk Karin, kakaknya direbut oleh ketua."
Meldy, Edo, Roseanne bahkan Alisa tersenyum ke arahnya selagi bergumam "Imutnya"
Edo memotong.
"Aku juga perlu adik, apa ada orang yang mau jadi adikku Bro?"
Semua orang jatuh ke dalam keheningan bahkan teman sekelas yang mendengarkannya merasa jijik dan sebisa mungkin untuk mengabaikannya.
"Aku terluka."
"Abaikan saja dia, lebih dari itu bekal Alisa terlihat enak. Apa kau yang membuatnya?"
__ADS_1
"Um.. aku sejak kecil suka memasak."
"Heh begitukah."
Meldy cukup ahli dalam pembicaraan, semua orang bisa berbicara dengan santai sekarang.
"Nio kamu mau coba makananku."
"Tentu saja."
Roseanne tanpa ragu menyuapi Nio seolah itu hal yang wajar, pemandangan cerah dan juga pemandangan menyakitkan untuk sebagian orang tercipta di satu tempat bernama kelas.
Beberapa hari berikutnya selepas sekolah rapat OSIS telah digelar.
Damian membentangkan peta kota dan menandai beberapa tempat, berbeda dari kebanyakan OSIS yang kau temui di sekolah lain, OSIS di kota Rahayu juga melakukan perkelahian antar sekolah lain.
Damian melingkari beberapa tempat.
"Wilayah kita mendapatkan teror dari SMA Selatan sekarang, berbeda dari SMA Barat yang secara terang-terangan bertarung dengan kita, mereka mengincar orang satu persatu, di sini adalah lokasi orang-orang yang dikalahkan."
"Ada lima tempat hanya dalam waktu singkat kah, apa mereka sudah mengetahui soal SMA Barat?" pertanyaan itu berasal dari Amane yang dijawab anggukan Damian.
"Sudah jelas begitu, kita memang meminta mereka menyembunyikan soal kemenangan kita agar tidak menarik sekolah lain namun sepertinya ada mata-mata seperti biasa yang melaporkannya."
Meldy sedikit merasa tersindir soal itu namun dia berusaha sebaik mungkin menahannya.
"Kita terlalu menarik perhatian."
"Benar Ketua, jadi apa keputusan Anda?"
"Penyerangan seperti ini cukup meresahkan, kita akan berpatroli berpasangan secara bergiliran dan mulai memberikan instruksi agar semua orang tidak pulang sendirian."
__ADS_1
"Baik."
"Itu memang hal yang harus dilakukan," tambah Nio demikian.