
Nio mengunjungi sebuah pemukiman kumuh di pinggiran kota, jalannya tidak terlalu luas dan hal seperti kemewahan jelaslah tidak ada, sejak meninggalkan kediamannya Nio tidak terlalu risih dengan keadaan seperti ini bahkan dulu sebelum dia mendapatkan pekerjaan dia harus mengantri di WC umum berjam-jam lamanya.
Dia sekali lagi memeriksa kertas di tangannya sembari menanyakan arah dari semua orang yang ditemui di perjalananya. Setelah usaha yang cukup lama dia menemukan sebuah rumah kecil.
"Di sini kah."
Ia dengan ragu mengetuk pintu dan memanggil penghuninya keluar, bunyi cekrek terdengar saat pintu itu terbuka, rasanya itu terdengar seperti banyak kunci yang dipasang secara rapih.
Aura gelap keluar dari sana dengan aroma yang tidak sedap untuk dicium hidung, terlepas dari itu seorang gadis kecil berdiri di depan Nio, rambutnya pirang panjang acak-acakan dan ia hanya mengenakan t-shirt yang melorot ke samping serta celana pendek yang sudah lusuh.
Nio memperhatikannya seksama, dia mungkin masih kecil karena tidak ada yang berkembang di sana.
"Tunggu, di mana kau melihat? Ti-tidak sopan," teriaknya dengan pose bertahan.
"Aku ingin bertemu Felicia, apa kakakmu ada?"
"Hah?"
"Eh?"
"Aku Felicia."
__ADS_1
Perlu beberapa detik untuk Nio mencerna pembicaraan sebelumnya hingga akhirnya mengalihkan pandangannya ke samping.
"Aku ingin bicara."
"Jangan alihkan pandanganmu seperti itu, kau seperti menolak kenyataan tentangku. Untuk sekarang masuklah."
Ini ketiga kalinya Nio masuk ke rumah gadis tanpa siapapun pihak ketiga berada di dalamnya
Dia mulai terbiasa dan rasanya buruk untuk mentalnya.
"Duduklah di mana kau suka."
Ruangan ini penuh dengan sampah dan nyaris tidak ada ruang untuk digunakan, ada potongan pizza basi dan beberapa kaleng kola yang bertumpuk-tumpuk hingga Nio memutuskan untuk merapikannya sedikit untuk mendapatkan tempat duduk yang nyaman.
"Hey, apa kau suka juga main game dewasa? Tidak masalah untuk melihat."
"Aku bukan datang untuk itu, namaku Nio dari SMA Timur ada beberapa hal yang ingin kutanyakan tentang SMA Utara."
"Hoh, sebelumnya kalian mengalahkan tiga SMA aku turut senang melihatnya."
Felicia menyingkirkan gambar-gambar erotis di layarnya dan mengantikannya dengan banyak video dari pertarungan yang telah di lalui SMA Timur.
__ADS_1
"Kudengar hanya para staf dan orang-orang penting saja yang bisa mengakses dunia bawah."
"Itu benar, aku meretasnya dengan baik... mungkin kau datang kemari untuk menanyakan soal Hirakawa Aoi, apa aku salah?"
"Kudengar kekuatanmu menghilang jadi kupikir apa Aoi yang mengambilnya."
"Itu memang benar, tapi tanpa kekuatan pun aku cukup ahli dalam bidang seperti ini."
Nio bisa mengerti apa yang dimaksudnya, ia mengerti beberapa hal yang telah dia salah pahami. Awalnya dia berfikir bahkan Felicia mungkin depresi karena kursi ketua OSIS diambil oleh orang lain namun nyatanya tidak terlihat hal itu dari wajahnya.
Kemungkinan besar dia keluar dari sekolah karena dia merasa tidak harus berada di sana, dari pola sistem yang digunakan di dalam laptopnya Nio yakin satu hal.
Orang ini jenius dari lahir.
"Alasan aku sekolah hanyalah karena kursi OSIS dipegang olehku dan cukup menyenangkan untuk bermain-main jadi penguasa atau sebagainya... sayangnya Aoi muncul dan merebutnya, karena itulah aku memutuskan untuk tidak datang lagi ke sana dan kembali ke masa laluku sebagai pengurung diri, jika kau ingin meminta bantuanku untuk melawannya maka jawabannya oke, tapi sebelum itu bisakah kau membelikan aku beberapa makanan dulu aku sedikit lapar."
"Aku sudah memesannya sejak tadi lewat Online, aku pikir kau akan mengatakan hal itu."
"Heh menarik, kau bisa menebak pola pikir orang lain dengan cermat."
"Itu bukan apa-apa," balas Nio lemas.
__ADS_1
Nio tidak berfikir bahwa dia adalah orang paling jenius diantara banyak orang, setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, karena itulah manusia selalu membutuhkan orang lain untuk menutupi kekurangan tersebut.