
Nio mengetuk pintu kediaman Roseanne, saat itu terbuka dia menjulurkan tas plastik yang di dalamnya diisi oleh berbagai masakan yang telah dibuatnya.
"Ini?"
"Masakanku, aku pikir aku terlalu banyak membuatnya."
Roseanne memicingkan matanya.
"Mungkin rasanya tidak enak."
"Mana mungkin begitu, pokoknya habiskan saja.. kalau begitu aku permisi."
Tangan Nio dipegang oleh Roseanne saat dia hendak berjalan pergi.
"Te-terima kasih, soal besok kau tidak lupa kan," Roseanne mengatakannya dengan malu-malu.
"Ah tentu saja, berkencan bukan.. apa ada tempat yang kau sukai?"
"Itu curang kenapa kau tidak merasa gugup atau apapun itu? Kau pasti sudah terbiasa berkencan kan?"
Nio sedang berusaha untuk tidak berteriak " Imutnya " sebelum berdeham sekali.
"Aku sangat menantikannya loh, yah kalau dibilang gugup aku juga sedikit gugup.. bagiamana pun aku akan berkencan dengan gadis cantik yang imut."
Serangan itu memberikan damage besar pada Roseanne yang mana lebih membuatnya tersipu lagi.
"Aku ingin pergi menonton, ada film yang ingin aku lihat."
"Jaa.. kalau begitu mari pergi ke sana."
"Nio sampai nanti."
"Aah, apa aku harus tidur denganmu?"
"Dasar mesum."
Dan begitulah obrolan manis itu berakhir dengan mesra.
Nio terkejut saat membuka pintu apartemennya dan melihat bagaimana Roseanne telah berdiri di depannya, dia mengenakan gaun terusan berwarna cerah sementara rambutnya dia ikat bergaya ponytail.
__ADS_1
Itu semacam pakaian yang sering digunakan pada musim panas.
"Ada apa?"
"Kamu terlihat imut."
Sebagai protagonis yang baik dia harus sering memuji pacarnya, itu adalah aturan dasar berkencan.
"Kita pergi."
"Baik."
Eh, ekpresinya biasa saja, apa pujiannya kurang nendang.
Roseanne cukup ahli menyembunyikan rasa malunya sekarang.
"Bioskop ada di lantai tiga, mari bergegas."
"Baik."
Mereka membeli tiket untuk dua orang untuk pemutaran film ketiga, setelah membeli banyak popcorn dan minuman bersoda mereka duduk di tempat duduk paling depan.
Jika semua orang tahu ini, putri dingin akan langsung dihilangkan dalam sekejap mata.
"Apa?"
"Bukan apa-apa, mari nikmati filmnya."
"Ah iya. Jika sampai berpegangan tangan aku akan membekukanmu."
"Heh?"
"Kontak fisik dilarang."
Jika orangnya bilang begitu Nio jelas akan menahan diri. Beberapa jam setelah pemutaran film mereka menikmati es krim bersama.
"Tadi film yang bagus, apa kau menyukainya?"
"Iya," balasnya selagi memilin-milin rambutnya lalu melanjutkan.
__ADS_1
"Menurutmu, bagaimana?"
"Aku suka adegan ciumannya.. di bioskop memang tidak ada sensornya."
Roseanne memolotinya.
"Aku akan membekukanmu."
"Aku cuma bercanda, ahh.. kita masih punya banyak waktu, apa mau pergi ke tempat yang lain?"
"Tidak ada, sekarang giliranmu yang memutuskan... curang jika terus aku yang memimpin."
"Kau bisa seperti itu juga."
"Apa ada yang salah?"
"Tidak, tidak, kudengar ada wahana boling di dekat sini.. mau coba."
"Aku tidak akan kalah."
"Penuh dengan persaingan."
Keduanya sama-sama baru pertama kali datang ke tempat seperti itu, setelah beberapa kali mencoba Roseanne mendapatkan beberapa strike dan Nio berakhir dengan kekalahan.
"Aku yang menang."
"Sial... kenapa aku kalah telak," teriaknya selagi berlutut di lantai.
"Kau terlalu berlebihan."
"Aku hanya mencoba untuk sedikit dramatisir."
Tidak peduli seperti apa pandangan semua orang pada keduanya, mereka hanya mencoba untuk menjadi diri mereka sendiri sebagai siswa SMA yang jujur dan polos.
Di belakang rak, Karin dan Risa hanya bisa mengepalkan amarahnya.
"Mereka sangat mesra."
"Um.. pulang yuk."
__ADS_1