
Risa yang telah menerima panggilan Nio menjadi sedikit khawatir, tubuhnya terlihat gemetaran walaupun pada dasarnya dia tidak bertemu dengan lawan bicaranya secara langsung.
Itu adalah Ruangan OSIS SMA Barat saat Rendy meletakan teh di mejanya.
"Nona kau baik-baik saja?"
"Perubahan rencana, kita tidak akan menyerang saat festival, kita akan menyiagakan semua orang sebelum itu."
"Kenapa mendadak?"
"Sepertinya aku sudah membangunkan monster yang sejak lama tertidur."
"Perkataan Anda tidak seperti biasanya."
"Orang jenius memang sangat menakutkan."
***
Setelah Meldy menangis cukup lama, Nio hanya menunggunya sampai hatinya menjadi lebih baik.
Meldy memberikan sapu tangan yang dipinjamnya namun Nio jelas harus menolaknya.
"Tidak usah, aku memiliki banyak."
"Baik."
Meldy kembali ke sedia kala lalu bersandar di kursi untuk menjelaskan, suatu hari kedua orang tuanya telah mengalami kecelakaan hebat fakta bahwa mereka selamat merupakan keajaiban, sayangnya saat itu kedua orang tuanya harus segera mendapatkan operasi serius.
Bagi seorang SMP uang sebanyak itu sangat sulit dimilikinya, kebetulan saja saat itu bahwa Risa sedang memeriksakan kesehatan tubuhnya dan dia pun memohon agar Risa mau menanggung biaya rumah sakit dan saat itu kontrak yang tidak mengenakan telah dibuat.
Risa adalah pemilik saham terbesar di rumah sakit itu bahkan uang sebanyak apapun tidak menghambatnya karena itulah sebagai bayaran Meldy harus menjadi mata-matanya, alasan kenapa SMA Timur selalu terpojok semuanya murni dari kesalahan Meldy.
Nio hanya menghela nafas panjang lalu mengusap rambut Meldy dengan lembut.
__ADS_1
Dia tidak masalah jika seseorang menemukannya seperti ini lalu mengecapnya sebagai playboy, ia hanya ingin mengurangi beban teman di sampingnya sebaik mungkin.
"Ah maafkan aku."
Jelas dia terbawa suasana.
"Lalu seperti apa kekuatan esper Meldy, aku sangat penasaran... aku pikir jika secara biasa kau tidak mungkin mengalahkan Edo."
Meldy mengarahkan tangannya dan itu menciptakan angin tornado berukuran kecil, melihatnya pantas jika Edo masuk ke dalam rumah sakit.
"Apa ini artinya aku harus keluar dari OSIS?"
"Apa yang kau katakan tentu saja tidak, Meldy tetap akan jadi bagian dari OSIS dan sekolah ini."
"Tapi mungkin yang lain."
"Mereka tak akan mempermasalahkannya, besok mari pergi untuk mengunjungi Edo kau jelas harus meminta maaf padanya."
"Aku mengerti."
"Tentu."
Meldy tinggal di rumah pada umumnya di mana keluarganya memiliki restoran keluarga.
"Kalau begitu aku pulang, sebaiknya kau langsung beristirahat."
"Aku tahu jangan mengatakannya lagi."
"Um."
Beberapa langkah Meldy memanggil Nio.
"Ada apa?"
__ADS_1
"Terima kasih banyak."
"Tentu."
"Dan aku menyukaimu Nio," berteriak seperti itu Meldy buru-buru melarikan diri ke rumah.
Dengan senyuman masam Nio hanya menggaruk kepalanya bingung.
"Ya ampun sekarang bagaimana, ada tiga gadis yang menyukaiku jika ini dunia Fantasy aku pasti akan memilih ketiganya tapi ini dunia nyata hanya ada pilihan satu dari semuanya."
Nio menghela nafas panjang lalu melanjutkan langkahnya kembali.
Keesokan harinya selepas sekolah Meldy membungkukkan kepalanya pada Edo yang terbaring di rumah sakit dengan penuh perban di tubuhnya.
"Maafkan aku, kau bisa menghukumku."
"Ma, ma, tenanglah... itu hanya kecelakaan, lagipula Meldy tidak sengaja bukan."
"Meski begitu itu kesalahanku."
"Tak masalah, aku baru pertama kali mengalami apa rasanya diterbangkan oleh tornado, Nio mungkin kau harus mencobanya bro."
"Aku tidak mau menjadi mumi sepertimu."
"Haha."
Keduanya tertawa namun bagi Meldy malah semakin bersalah.
"Aku akan mentraktirmu makan setelah sembuh."
"Aku menantikannya bro."
"Jangan memanggilku seperti itu."
__ADS_1
"Sudah kebiasaan."