
Setelah cukup tenang Karl mencoba mencari handphonenya dia hendak mencari bantuan,namun saat melihat tubuh Kiara dia seperti tak sanggup,dia merasa tak akan ada gunanya bagi dirinya tetap hidup kalau Kiara telah tiada.Alih-alih menelepon, Karl malah melemparkan handphonenya ke sisi samping.
Karl kemudian mengambil kotak cincin yang dia bawa tadi dari saku celananya.Kemudian memakaikan cincin itu pada jari Kiara.
"Maaf seharusnya aku melakukan ini lebih awal.
Lalu karl menarik tubuh Kiara,memposisikan tubuh itu dalam pelukannya.Sambil memejamkan mata Karl berdoa
"Ya Tuhan,jika memang kami tidak bisa bersama dalam kehidupan kumohon satukan kami dalam kematian.Aku sudah siap.
Dalam angan-angannya Karl mengingat lagi percakapannya dengan Kiara tadi pagi.Ya...kiara seperti sudah memiliki firasat.
Setelah beberapa saat karl pun kehilangan kesadarannya.
Dalam kegelapan Karl seperti mendengar ada orang sedang berbincang-bincang.Lalu Karl mendengar seseorang mengatakan,kenapa ritme dilayar monitor itu berubah?Marcel coba kau lihat..
Suara wanita itu seperti panik dan tergesa-gesa.
*Itu suara ibu...Karl
Karl merasakan seseorang sedang membuka sebelah matanya,dan mengarahkan sinar dari sebuah senter kecil kearah matanya.
__ADS_1
"Kak... Karl mulai merespon
*Itu suara uncle Marcel...
*Aku ingin membuka mataku,tapi kenapa sangat berat? Karl
"Karl... sayang...apa kau bisa mendengar suara ibu nak?
Nyonya Lila berusaha berinteraksi dengan Karl yang masih koma.
*Sebenarnya apa yang terjadi padaku,kenapa aku tidak ingat kenapa aku seperti ini.
Seluruh tubuhnya masih terasa sangat lemah,nyonya Lila memeluknya sambil menangis
"Aku tau kau akan bangun nak...aku tau kau akan bangun.
Tapi tangan Karl sungguh sangat lemah meskipun hanya sekedar membalas pelukan nyonya Lila saja dia tak bisa.Mulutnya terasa sangat kaku tapi dia berusaha mengatakan sesuatu
"I..i.... ibu...
"Iya sayang ibu disini....
__ADS_1
Karl memandang ke sisi ranjang dia melihat tuan Alexander sedang memegang bahu nyonya Lila,air mata mengalir deras di pipinya,dia terlihat lega dan bahagia.Kemudian satu tangannya membelai kepala Karl.Uncle Marcel tersenyum padanya diapun terlihat sedang menyeka air mata.
Menghadapi situasi seperti ini Karl merasa sangat tersentuh,masih tak sanggup berkata-kata Karl merasa sangat bersalah karena dia masih punya keluarga yang sangat menyayanginya,namun dia sempat siap mati bersama Kiara.Air mata mengalir dari sudut matanya.
Seminggu kemudian,Karl sedang berdiri didepan sebuah pusara,membawa seikat bunga mawar putih.Sebuah makam dengan batu nisan terbuat dari batu marmer hitam bertuliskan "Kiara Morgan"
sambil bersimpuh tepat disisi pusara itu Karl mulai berbicara...
"Hai sayang...maaf aku baru datang.Apakah disini dingin?Apakah tempatmu berbaring nyaman?
Maaf aku pernah berkata kau bisa mengandalkan ku,tapi nyatanya karena kelalaian ku ini yang terjadi padamu.Entah apa yang Tuhan rencanakan,tapi nyatanya dia menyelamatkanku.Bukannya aku tidak siap kehilangan semua yang aku punya lalu menyusul mu kesana,tapi orang-orang yang menyayangiku yang rupanya masih belum bisa kehilangan aku.Aku harus bertahan untuk mereka.
Dulu kau selalu mengingatkan aku makan, beristirahat, menghiburku saat aku merasa tertekan dengan keadaan.Kau selalu marah padaku kalau aku tidak memperhatikan diriku sendiri.Kau tidak perlu lagi khawatir tentang semua itu.Aku akan hidup dengan baik mulai sekarang.Tolong,ikhlas kan aku untuk tetap melanjutkan hidupku.
Karl berderai air mata.Mencium batu nisan itu, meletakkan bunga yang sedari tadi dia pegang.Lalu pergi menjauh.
Flash back off.
Karl sedang duduk diatas ranjangnya,melihat foto Kiara yang masih tersimpan di handphonenya.Kemudian Karl menatap ke arah Dara.
* Aku akan terus berusaha mendapatkan cintamu Dara.Dan setelah itu aku akan sangat berhati-hati menjagamu.Aku tidak akan lalai untuk kedua kali.Karl
__ADS_1