
Diperjalanan pulang Ema lebih banyak diam,sedangkan Jhon dengan antusias menceritakan kisah cintanya dengan kekasih barunya itu.Kemudian terbesit satu pikiran dihati Ema
*Mungkin sudah saatnya aku melupakan perasaanku padamu Jhon, sepertinya kau memang bukan untukku.
"Oh ya Ema kudengar dari ibumu,kau sekarang juga sedang dekat dengan seseorang benarkah itu?Ibu juga bilang dia sudah beberapa kali berkunjung ketempat tinggal kita.
"Oh... itu Edward dia kakak tingkat ku satu jurusan,dia sering membantuku belajar.Entahlah jurusan kuliah ini aku merasa sangat lemah, sebenarnya aku kurang suka.
"Dari dulu kau memang suka memasak kan kenapa tidak sekolah memasak,kenapa malah kuliah Management Ekonomi?
"Aku tidak ingin mengecewakan orangtuaku Jhon Mereka ingin aku bekerja diperusahaan nantinya,tapi untunglah Edward banyak membantu.
Kata Ema dengan nada lirih dan menundukkan kepala.
Melihat Ekspresi Ema yang seperti itu Jhon malah salah mengartikan kalau Ema sedang tersipu karena menceritakan tentang Edward.
"Apakah pemuda itu orang yang baik?
"Kenapa kau bertanya seperti itu?
"Kalau dia orang yang baik,lanjutkan hubungan kalian Ema,tapi kalau sampai dia menyakitimu akulah orang yang akan dia hadapi.
Hati Ema menghangat sekaligus tercabik mendengar ucapan Jhon.Itu menunjukkan kalau Jhon sangat perduli pada Ema,namun sayangnya itu bentuk keperdulian Jhon yang menganggap Ema adalah saudara perempuannya.
*******************************
Hari berlalu dengan cepat,Jhon sudah kembali berada diluar negeri untuk bekerja disana, sedangkan Ema yang merasa sudah tidak ada lagi harapan bersama Jhon membuka hatinya dan kemudian berpacaran dengan Edward.Semua orang setuju dengan hubungan mereka, Dimata para orang tua Edward adalah pemuda yang sopan dan menyenangkan.Lambat laun Ema mulai benar-benar mencintai Edward sampai suatu ketika hal buruk
__ADS_1
pun terjadi.
Setelah satu tahun menjalin hubungan suatu ketika Ema menyadari kalau dia sudah tidak mendapatkan menstruasi selama 2 bulan.Ema menjadi sangat khawatir karena dia menyadari hubungannya dengan Edward sudah melampaui batas.Ema dengan ragu kemudian membeli alat tes kehamilan,setelahnya dia diam-diam menggunakan alat itu di toilet kampusnya.Dia benar-benar Syok saat alat tersebut menunjukkan dua garis merah.Ema menangis tanpa suara cukup lama didalam toilet,untungnya keadaan kampus cukup sepi karena sebenarnya sedang akhir pekan.Ema datang ke kampus dengan alasan ada acara kemahasiswaan.
Setelah cukup tenang Ema menyimpan alat tersebut didalam tasnya,dia segera menghubungi Edward meminta untuk bertemu, Kemudian mereka bertemu di taman tempat mereka biasa menghabiskan waktu bersama,taman dengan sebuah danau kecil yang indah namun tempatnya lumayan sepi karena berada dipinggiran kota.
"Edward apa kau mencintaiku.
Tanya Ema memulai pembicaraan.
"Pertanyaan apa ini,kenapa kau menanyakan sesuatu yang sudah pasti.Tentu saja aku mencintaimu.
Jawab Edward sambil merengkuh Ema kedalam pelukannya.
Ema kemudian mengeluarkan alat tes kehamilan yang dia simpan di dalam tasnya tadi.Kemudian menyerahkannya kepada Edward.
"Apa ini?
"Aku hamil Edward.
"Siapa yang menghamili mu?
"Apa.... bisa-bisanya kau menanyakan hal itu,tentu kamu orangnya, kaulah ayah dari bayi ini Edward.
"Tidak....tidak mungkin.
Edward kemudian melemparkan alat tes itu kearah danau yang ada didepan mereka.
__ADS_1
"Anak itu tidak mungkin anakku,kau pasti sudah melakukan hal itu dengan banyak lelaki kan?
Plak.....
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Edward,Ema tidak menyangka kalau Edward yang selama ini dia kenal sangat baik sekarang bersikap sangat munafik seperti ini.
"Teganya kau mengatakan hal seperti ini padaku,kau bahkan tau kegadisanku pun hilang olehmu,sekarang kau dengan pengecut malah menuduhku melakukan hal itu dengan banyak orang,dasar laki-laki tidak berguna.
"Terserah kau mau berkata apa,yang pasti sampai kapanpun aku tidak akan pernah mengakui anak itu sebagai anakku.
Setelah mengatakan itu Edward kemudian pergi meninggalkan Ema begitu saja.
Ema tak kuasa menahan tangisnya,dia menangis sejadi-jadinya menghadap ke arah danau,beberapa orang memperhatikan Ema,namun dia sudah tidak memperdulikan hal itu.Hati Ema terasa sangat sakit mendapat perlakuan seperti itu.Dia juga sangat bingung sekarang harus bagaimana,dia sungguh tidak ingin membuat semua orang merasa kecewa pada dirinya.Sampai hampir malam Ema baru sampai dirumah.Tapi Ema bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa.Dia masih sangat takut jika orang lain tau akan hal ini.Ema melewatkan makan malamnya dan langsung masuk kamar, mengatakan pada keluarganya kalau kegiatan kampus hari ini sangat melelahkan jadi dia ingin segera beristirahat.
Semalaman dia tidak bisa tidur memikirkan nasibnya,lalu Ema memutuskan dia tidak menginginkan bayi ini,dia tidak ingin menanggungnya sendiri sementara Edward dengan pengecut tidak mau bertanggung jawab.Kemudian hampir semalaman Ema mencari tau cara menggugurkan bayi.Ema terlalu takut akan ketahuan kalau dia pergi ke dokter untuk melakukan aborsi,jadi dia memutuskan untuk melakukannya sendiri.berbekal beberapa artikel yang dia baca dan beberapa video yang dia tonton dia merasa yakin bisa melakukannya sendiri.
Keesokan harinya saat semua orang sudah melakukan aktivitas mereka masing-masing.Ema diam-diam menyelinap ke dalam gudang yang sudah lama ditinggalkan dibelakang kandang kuda milik keluarga Covas,tempat yang menurut Ema akan aman melakukan aksinya karena sangat jarang orang pergi ketempat ini.Dengan nekat Ema melakukan aksinya seorang diri,sambil terus menonton video proses melakukan aborsi Ema melakukanya sehari-hati mungkin,Ema tidak melakukan pembiusan pada dirinya karena dia harus tetap sadar,tentunya ini sangat menyakitkan,dia menahan teriakannya dengan menggigit segumpal kain.Namun saat Ema berhasil menarik janin itu keluar,Ema tak tahan lagi lalu dia berteriak dengan keras,kain yang dia gigit terlepas membuat teriakannya terdengar dengan kencang.
Karl yang sedang berada dikandang kuda karena dia akan berlatih berkuda tanpa sengaja mendengar teriakan itu.Karl segera mendatangi sumber suara dan betapa terkejutnya Karl mendapati Ema sedang tergolek lemah dengan disekelilingnya banyak darah serta ada segumpal darah yang bentuknya masih tidak jelas tapi Karl tau kalau itu adalah sebuah janin.
"Ya tuhan Ema....
Karl tidak bertanya apa-apa lagi,dia langsung mengangkat tubuh Ema dia bawa berlari menuju ke parkiran mobil.
Ema yang hampir pingsan berada dalam gendongan Karl dengan lirih berkata
"Tuan muda....maafkan saya.
__ADS_1
"Sudah kau tidak perlu berkata apapun,simpan tenaga mu kau harus tetap sadar.
Karl segera membawa Ema ke rumah sakit,dia mengemudikan mobilnya dengan sangat kencang.Karl merasakan sangat sesak di dadanya hatinya merasa sakit menemukan gadis yang sudah seperti adik perempuannya dalam keadaan seperti ini.