"Berbagi Cinta" 1 Hati 2 Aisyah

"Berbagi Cinta" 1 Hati 2 Aisyah
Bab 11


__ADS_3

Hari-hari kelabu Humairah kian berlalu, ia sudah tidak ingin ambil pusing akan kehidupan rumah tangganya.


Sudah beberapa hari Alif kembali ke tanah air, namun tidak sekalipun pria itu pulang ke rumahnya, Alif hanya memberi kabar lewat pesan bahwa ia belum bisa menemui Aisyah karena alasan lelah terlebih istri mudanya itu tengah sakit akibat kelelahan.


Perempuan berkerudung hitam memancarkan wajah bening, hidung mancung serta alis mata tidak terlalu tebal menghiasi mata indahnya yang berwarna hitam. Ia tersenyum ramah pada senior-senior yang sudah menjadi karyawan perusahaan suaminya itu, menampilkan lesung pipi yang menambah kesan manis dan tidak bosan jika memandangnya.


Humairah berjalan masuk ke gedung kantor Alif, ia membawa almamater berwarna ungu di tangannya. Ia datang ke kantor sebentar untuk mengambil laporan kelompoknya yang tersimpan di komputer kantor, setelah itu ia akan langsung menuju kampus dimana temannya telah menunggu untuk seminar di bulan kedua mereka magang.


Humairah merutuki Lola yang suka sekali meninggalkan file penting di komputer kantor, karena rumahnya yang paling dekat dengan kantor hingga Humairah mengalah untuk ke sana sebelum ke kampus.


Sudah beberapa hari Alif tidak datang ke kantor setelah pulang bulan madu karena masih berada dalam masa cuti menikah.


Sampai pada langkah Humairah terhenti saat tidak sengaja ia bertemu tatap dengan seorang pria yang cukup lama tidak ia jumpai. Lelaki berjas rapi itu tampak menatapnya canggung.


"Pak Alif," sapa Humairah formal, hatinya berdegup kencang oleh pertemuan itu, matanya mengembun segera Humairah menunduk hormat pada bos pemilik perusahaan ia magang.


Alif tidak menjawab, lama ia menatap wanita yang mengizinkannya untuk menikahi kekasih tercintanya tempo hari, istri pertama yang belum sempat ia jumpai setelah kepulangan dari bulan madu, Aisyah tidak melepasnya untuk pulang meski hanya sekedar menemui Humairah.


"Maaf pak, saya permisi mau lewat," ucap Humairah lagi tidak ingin berlama berada dalam kecanggungan mereka saat ini, terlebih ia juga mengejar waktu untuk segera ke kampus.


"Humairah," akhirnya Alif bersuara juga.


Humairah menegakkan lagi wajahnya mencoba menatap Alif dengan sikap biasa, tentu ia juga punya harga diri untuk tidak mengemis rindu pada Alif saat ini, meski sebenarnya ia merindukan suaminya sudah sejak lama.


"Kau mau kemana?"


Beberapa pasang mata melihat ke arah mereka, ada beberapa yang menyadari bahwa bos mereka tengah bicara canggung dengan seorang mahasiswa magang di sana, tampak dari sikap dan tatapan Alif pada Humairah.


Tidak sedikit pula mereka berbisik-bisik tentang pertemuan Alif dan Humairah yang tampak tidak biasa itu.


"Oh, saya mau ke ruangan saya magang pak, ada file seminar kami yang tertinggal di sana."


Entah kenapa Alif tidak menyukai bahasa formal istrinya bicara saat ini, bukankah ini keinginannya sendiri yang minta Humairah berpura tidak mengenalnya jika di kantor, karena istrinya di hadapan publik ada satu yaitu Aisyah saja yang baru ia nikahi belum tiga minggu yang lalu.


"Ikutlah ke ruanganku sebentar!" ajak Alif canggung.


"Apa?" Humairah seakan ingin memastikan lagi apa yang baru saja Alif katakan.


"Iya, ikutlah denganku!" ajak Alif lagi seraya berjalan lebih dulu menuju ruangannya.


Humairah menarik napas dalam lalu ia mengikuti langkah suaminya. Ketika ia masuk menyusul Alif yang telah masuk lebih dulu.


Humairah dibuat terkejut saat mendapat pelukan yang tiba-tiba dari pria itu.


"Mas Alif," barulah Humairah berani memanggil seperti panggilan mereka jika di rumah.

__ADS_1


"Maaf, aku belum sempat pulang padamu," ucap Alif memejamkan matanya memeluk istri pertamanya itu.


Airmata Humairah sudah menggenang, ia hanya bisa mengangguk saja tanpa banyak bicara.


"Aisyah sedang sakit, aku tidak bisa meninggalkannya seorang diri terlebih di rumah baru."


Humairah menjadi tahu bahwa Alif telah memiliki rumah baru yang lain untuk madunya. Humairah mengangguk lagi.


"Aku mengerti mas, tenang saja aku tidak akan marah, titip salamku pada kak Aisyah semoga dia cepat sehat."


Alif melepas pelukan, ia menatap dalam manik istrinya, wajah yang sudah hampir tiga minggu tidak ia jumpai, biar bagaimana pun karena wanita inilah Alif bisa menikmati indahnya pernikahan impiannya bersama Aisyah.


Alif mengecup kening Humairah cukup lama, namun entah kenapa Humairah merasa nyeri pada dadanya saat bibir Alif mendarat di sana.


"Aku ada oleh-oleh untukmu," ucap Alif seraya menggenggam tangan Humairah menariknya untuk mengikuti langkah menuju meja kerjanya.


Alif mengambil sesuatu dari laci, ia memberikan sebuah kotak kecil berwarna hitam yang terdapat nama brand ternama asal negara yang memiliki menara condong itu.


Alif menaruhnya pada tangan Humairah, "Bukalah, semoga kau suka."


Humairah mengangguk, ia membuka kotak kecil itu tampak sebuah bros muncul di sana dengan desain huruf dari brand tersebut, elegan dan mewah, tidak terlalu besar.


"Mas Alif, ini pasti mahal. Aku tidak mengharap oleh-oleh darimu, kalian bisa sampai pulang dengan selamat saja aku sudah sangat bersyukur."


Humairah ingin tersedak rasanya, pilu hatinya mendengar pengakuan Alif bahwa bros mahal itu hanyalah bentuk rasa terimakasihnya atas berkorbannya ia dalam pernikahan ini.


Humairah kembali menelan ludah, ia tahan sekuat tenaga agar butiran bening yang tidak berarti itu tidak jatuh dari pelupuk matanya. Ia mengangguk lagi.


"Aku turut bahagia mas, boleh ku simpan ini?"


Alif mengangguk, "Tentu saja."


Humairah memasukkan kotak berisi bros asli Italia itu ke dalam tasnya.


"Huh baiklah mas, aku mengira akan dapat keju seperti yang kak Aisyah posting waktu itu."


"Oh iya, aku lupa. Tentu saja keju itu untukmu. Aisyah membeli keju untukmu, aku membeli bros tadi untukmu juga."


Humairah mengangguk lagi, ia sengaja melihat jam di pergelangan tangannya.


"Oh maafkan aku mas Alif, bolehkah aku izin pergi sekarang? Aku harus segera ke kampus, kami ada seminar siang ini, mereka menunggu file yang akan ku ambil di sini."


Alif tidak menjawab, ia ingin mengangguk namun juga terasa enggan karena ia masih ingin Humairah berada di sana namun ia tidak ingin mengakuinya.


"Mas Alif?" Humairah menyadarkan Alif dari lamunannya.

__ADS_1


"Mas tentu banyak pekerjaan bukan? Aku tidak mau lama mengganggu, aku pamit sekarang ya?" tanya Humairah lagi, sungguh ia ingin segera berlalu dari hadapan Alif sekarang.


"Baiklah, berhati-hatilah. Jika butuh sesuatu segera hubungi aku."


Humairah mengangguk, "Baik mas, aku akan pergi sekarang."


Namun Humairah belum bisa melangkah karena Alif masih menggenggam tangannya.


"Mas?"


Diluar dugaan Alif malah meraih wajah Humairah mencium bibir wanita itu tanpa basa basi, mengecap dan mengabsen seluruh isinya karena Humairah membuka akses untuk Alif berbuat lebih daripada hanya mengecup saja.


Tidak dipungkiri Humairah merindukan sentuhan bibir suaminya, namun ia melepas tautan bibir mereka dengan paksa setelah teringat sesuatu yang menghimpit dada.


"Mas, maaf ini kantor.... Bagaimana jika ada yang masuk. Mereka bisa salah paham, bukankah mereka hanya tahu kak Aisyah sebagai istrimu."


Alif menatap Humairah sendu, ia mengelap sisa liurnya di bibir perempuan itu dengan pelan menggunakan ibu jarinya.


"Bagaimana dengan les piano mu? Bukankah minggu lalu kau memberi kabar bahwa telah mulai les."


Humairah mengangguk, "Semua berjalan lancar, aku senang bisa mendapatkan les itu terimakasih mas Alif sudah mengizinkan ku mengisi waktu di sana, sejak dulu aku telah jatuh cinta pada alat musik itu."


"Aku senang mendengarnya, kau bisa melakukan apapun yang kau mau. Jangan sungkan meminta apapun padaku."


"Bagaimana jika aku meminta hatimu?"


Alif terdiam, membuat Humairah terkekeh.


"Aku hanya bercanda mas Alif. Aku tahu kau mencintai kak Aisyah saja," ucap Humairah dengan nada menyindir.


"Baiklah mas, aku tidak ingin mengganggu pekerjaan mu. Boleh aku pergi sekarang?" tanya Humairah lagi seraya menatap tangannya yang masih dalam genggaman sang suami.


Alif menyadari itu segera melepasnya, ia pun mengangguk seraya berkata, "Berhati-hatilah."


"Oh iya mas, aku lupa. Apa nanti malam aku boleh minta izin?"


"Untuk apa?"


"Hmmmm.... Teman kelas lesku mengadakan pesta ulang tahunnya, apa boleh aku pergi? Dia teman baruku," ucap Humairah menggigit bibir bawahnya menunggu tanggapan suaminya.


"Iya, kau boleh pergi asal kau berhati-hati dan pandai menjaga diri."


"Terimakasih mas, aku akan menjaga diri dengan baik."


Alif mengangguk lagi, pria itu hanya mematung menatap punggung istri pertamanya yang menghilang di balik pintu.

__ADS_1


__ADS_2