
Humairah mengembangkan senyuman saat keluar dari mobil sang papa yang mengantarkannya di depan sebuah gedung kantor yang baru kemarin ia mendapat telepon dari pihak perusahaan yang memanggilnya untuk mengikuti wawancara kerja.
Iya, Humairah senang bukan main mendapat panggilan yang ia tunggu-tunggu sejak tiga hari yang lalu setelah mengirim surat lamaran. Memakai pakaian hitam putih dipadu dengan kerudung berwarna hitam persis seperti ia magang dulu.
Meski tidak mengingat saat-saat magang, namun Humairah merasa dejavu saat mulai memasuki kantor, memanglah tidak asing baginya saat ini.
Bahkan ia tahu kemana arah ia harus pergi untuk memenuhi wawancara hari ini tanpa bertanya pada staff informasi.
Ia melihat pula ada beberapa orang yang berpakaian sama dengannya, itu artinya ia harus berusaha keras dalam menyiapkan materi jawaban yang akan diberikan saat wawancara agar ia bisa diterima nantinya, sebab aura persaingan mulai terlihat saat yang melamar pekerjaan itu cukup banyak tetapi yang diterima nantinya hanya dua orang saja.
Namun satu hal yang membuat pikirannya menjadi aneh, saat masuk kantor para karyawan senior menatapnya lam seakan menyiratkan berbagai makna, ada yang tersenyum ramah seraya membungkuk hormat, ada pula ia merasa mereka sedang berbisik setelah ia melewati mereka.
"Be positif Humairah, bisa saja mereka senior yang mengenalku saat magang hingga mereka terlihat ramah, aku rasa tidak ada yang aneh dari penampilanku?" gumam Humairah saat menatap lagi penampilannya karena merasa risih selalu diperhatikan sejak tadi.
Menunggu giliran, berkenalan dengan salah seorang yang juga menunggu giliran wawancara membuat Humairah sedikit santai, tidak tegang seperti tadi.
"Nona Humairah!" panggil salah satu staff personalia yang keluar dari ruangan wawancara.
"Saya pak!" Humairah menunjuk tangan, lalu mengangguk saat diberitahu bahwa sekarang adalah gilirannya.
Baru saja memasuki ruangan Humairah sudah dibuat gugup saat mendapati sebuah tatapan yang cukup lama dari seorang lelaki yang sangat asing baginya, seorang yang menjabat sebagai HRD (human resources development) perusahaan yang telah bersiap memberinya beberapa pertanyaan terkait sebuah pekerjaan.
"Silahkan duduk!" perintah pria ini.
Humairah mengangguk seraya menduduki kursi yang sudah diatur berhadapan dengan lelaki berwajah manis yang terlihat ramah namun membingungkan Humairah karena sejak ia masuk tadi pria itu seakan enggan berpaling dari wajah Humairah.
"Aisyah Humairah."
"Saya pak," jawab Humairah gugup, ia menanti pertanyaan yang akan ia jawab.
"Cantik, bahkan lebih cantik dari pas photo."
Humairah tersenyum canggung.
"Besok datanglah kemari lagi, kau bisa menandatangani kontrak pekerjaan ini. Perlu diketahui akan dikontrak percobaan selama tiga bulan awal selanjutnya akan dinilai pekerjaan mu nanti untuk memutuskan kontrak berikutnya."
"Apa? Hmmmmm.... Maaf sebelumnya pak, apa maksudnya saya diterima?"
"Tentu saja."
"Tapi pak, kenapa saya tidak diwawancarai seperti yang lain? Ini tidak sesuai aturan, maksudku kenapa tidak seperti yang lain?" protes Humairah karena merasa aneh saat tiba-tiba ia diterima bekerja begitu saja tanpa wawancara seperti yang telah dilewati beberapa orang sebelumnya.
"Tidak perlu wawancara, saya sudah bisa melihat karakter seseorang yang melamar pekerjaan hanya dari wajahnya, kau cocok dengan pekerjaan ini. Jadi kau diterima."
"Apa?" Humairah terlihat bingung.
"Saya serius," ucap pria yang terdapat nama yang menempel di dadanya, Arya Saputra.
"Tapi, pak saya datang kemari untuk wawancara yang bapak bisa melihat pantas tidaknya saya diterima pada pekerjaan ini atau tidak, bukan jalur pintas melalui wajah saya."
Lelaki itu tersenyum, ia bahkan menatap Humairah tidak berkedip.
"Baiklah jika kau ingin diwawancarai, kita bisa mulai sekarang. Apapun yang akan kau jawab tidak akan merubah keputusan ku untuk menerima lamaran pekerjaanmu, tentu aku tidak akan menyia-nyiakan lulusan terbaik seperti mu, pernah magang disini pula."
__ADS_1
Humairah menahan kesal, sungguh tidak nyaman dipandang seperti itu oleh seorang lelaki yang seharusnya bersikap adil pada semua pelamar.
Arya mulai memberi beberapa pertanyaan yang semuanya dijawab Humairah dengan baik dan sesuai dengan keinginan seorang HRD seperti Arya.
"Tidak salah lagi, kau memang pantas untuk pekerjaan ini. Aku sudah menduga sejak awal. Selamat nona Humairah kau bisa datang besok pagi untuk penandatanganan kontrak."
Meski masih merasa aneh Humairah sungguh puas dengan wawancara ini, ia bisa menjawab semua pertanyaan dengan baik hingga tidak ada keraguan jika lelaki di hadapannya ini langsung menerima lamaran pekerjaannya.
"Baik pak, terimakasih. Saya akan datang besok, lalu kapan saya bisa mulai bekerja."
"Tentu besok sudah mulai bekerja setelah menandatangani kontrak itu. Sekali lagi selamat."
Humairah mengangguk mengerti.
"Kau boleh keluar."
Humairah mengangguk lagi dan segera keluar dari ruangan wawancara.
Arya melirik satu rekannya yang sejak tadi memandangnya dengan decak kagum.
"Baru kali ini aku melihat kau melakukan wawancara seperti itu."
"Apa ada yang salah?" tanya Arya terkekeh.
"Aku bisa melihatnya, apa kau menyukainya?"
Tawa Arya pecah juga.
"Ckkkk...... Playboy cap lama," cetus temannya lagi.
Arya menggeleng, "Gadis ini berbeda, lihat saja dia protes ketika aku terima tanpa wawancara seperti yang lain, jadi tidak heran lulusan terbaik pada data ini mendukung sekali karakternya, pernah magang disini pula. Aku rasa alasan ini cukup untuk membuatnya diterima bahkan tanpa wawancara sekalipun."
"Iya, dia bahkan menjawab pertanyaan mu dengan sangat baik menurutku," jawab teman Arya lagi.
"Betul sekali, Humairah oh Humairah.... Aisyah Humairah, nama yang cantik secantik pemiliknya. Pesonanya benar-benar membuatku terkesima," gumam Arya lagi-lagi geleng kepala sambil terus memperhatikan pas photo yang tertempel di biodata Humairah.
"Tidak heran yang bicara seperti itu adalah playboy seperti mu. Lagu lama, semua wanita cantik menurutmu mempesona."
"Jika Humairah jodohku, aku pastikan playboy ku tamat dan akan jadi pria setia untuk dik Humairah seorang," jawab Arya terkekeh, ia menyandarkan kepalanya sambil menatap lagi biodata Humairah.
"Playboy insyaf."
"Bisa jadi," jawab Arya lagi.
Pada kenyataannya Arya adalah HRD baru yang belum lama bekerja di kantor ini hingga tidak mengenal siapa perempuan yang sedang ia bayangkan saat ini. Tidak seperti karyawan lain yang telah mengetahui bahwa Humairah adalah istri dari CEO mereka seperti yang Alif lakukan pengumuman sebelum Humairah marah padanya dulu.
Bahkan setiap karyawan yang ketahuan bergunjing tentang Humairah adalah istri pertama yang pernah disembunyikan karena Alif memilih istri keduanya untuk diketahui khalayak, mereka mendapatkan peringatan keras jika tidak ingin kehilangan pekerjaan.
Hingga tidak heran pula saat Humairah masuk kantor pagi ini, ada yang membungkuk hormat karena tahu itu adalah istri pimpinan mereka, ada pula yang berani berbisik dan membuka cerita lama yang mana Humairah dan Alif terlibat perseteruan hebat beberapa bulan lalu yang terjadi di kantor ini juga.
Terlebih kabar viralnya istri kedua CEO mereka yang bunuh diri belum lama ini karena merasa kalah dari Humairah. Semua menjadi rahasia umum di kantor ini jika bukan mereka dibungkam karena takut dipecat hingga cerita itu hilang dengan sendirinya.
Namun kedatangan Humairah ke kantor pagi ini seolah memberi mereka kesempatan untuk membuka cerita lama. Bergunjing lagi secara diam-diam. Yang membuat mereka heran adalah Humairah datang memakai pakaian yang sama dengan pelamar yang melakukan wawancara hari ini.
__ADS_1
"Humairah," sapa seseorang yang bertepatan melewati Humairah saat ini.
Humairah menoleh pada lelaki itu.
"Maaf, anda mengenalku?"
Daffa tersenyum, ia baru teringat bahwa istri sahabatnya itu masih belum pulih ingatannya.
"Aku Daffa, kau tidak ingat?"
Humairah mengerutkan keningnya.
"Oh tentu saja karena kau belum pulih, aku Daffa temannya su....." kalimatnya berhenti saat mengingat Alif yang tidak mengaku suami pada Humairah, ia mengusap lehernya bingung ingin melanjutkan dengan kalimat apa.
"Apa?" tanya Humairah heran.
"Tidak, maksudku kita saling mengenal karena teman les piano, iya kita adalah teman les piano," Daffa lega ketika mengingat piano.
"Oh benarkah, maafkan aku..... Aku sedang dalam kondisi yang sangat sulit dijelaskan, amnesia atau apalah hingga aku belum bisa mengingat semua orang, jadi maafkan aku jangan kira aku sombong jika tidak mengenalmu," jawab Humairah tersenyum.
"Tidak, tidak masalah aku paham kondisimu. Aku seorang dokter, kenapa kau ada disini?"
"Seorang dokter dan teman les piano aku senang mendengarnya ternyata aku punya teman lain selain dua sahabatku, baiklah terimakasih pengertian mu. Aku kemari menerima panggilan wawancara pekerjaan."
Daffa terkejut.
"Apa maksudmu melamar pekerjaan di kantor ini?" tanya Daffa penasaran.
Humairah mengangguk lagi.
"Bekerja di kantor ini?"
"Iya, apa ada yang salah? Kenapa kau tidak yakin?" tanya Humairah terheran-heran saat menatap raut Daffa.
"Kau tidak tahu ini kantor siapa?"
"Memangnya ada apa dengan kantor ini? Aku pernah magang disini, aku baru lulus kuliah ada lowongan pekerjaan disini aku rasa cocok dengan ijazahku." jawab Humairah polos.
"Baiklah, aku tahu sekarang. Seperti sebelumnya kau sedang mengidap amnesia, apa dengan kantor ini kau merasa ingat sesuatu?"
Humairah menggeleng, "Aku tidak mengingat apapun, namun sungguh aku merasa sudah hafal semua letak ruangan."
"Itu bagus untuk merangsang ingatanmu."
"Iya, dokter yang menangani ku juga mengatakan hal yang sama bahwa ingatan ku akan perlahan datang seiring waktu dan itu bisa cepat ketika dipicu keadaan sekitar yang pernah ku lalui, papaku sangat setuju jika dimulai dengan kantor ini, mana tahu kenangan magang bisa merespon ingatanku lagi," jelas Humairah tanpa canggung.
"Dan bagaimana hasil wawancara mu?"
"Alhamdulillah, aku disuruh datang besok untuk urusan kontrak."
Daffa tersenyum penuh arti.
"Selamat Humairah, aku senang mendengarnya. Sama seperti papamu, aku yakin pula kau akan mulai mengingat dari kantor ini. Terlebih seseorang yang akan kau temui nanti."
__ADS_1