"Berbagi Cinta" 1 Hati 2 Aisyah

"Berbagi Cinta" 1 Hati 2 Aisyah
Bab 66


__ADS_3

Humairah kembali ke ruangan setelah jam makan siang, Alif menghubunginya namun tidak dijawab karena Humairah sibuk meladeni Arya yang cukup membuatnya terhibur siang ini.


Siapa sangka Alif sudah tidak ada di ruangan ketika Humairah kembali, ia mencari pria itu disegala sudut ruangan namun nihil, entah kemana perginya Alif. Humairah tampak menghembus nafas kasar saat berpikir mungkin saja Alif sedang pergi bersama dua temannya tadi.


"Apa begitu asyik mereka bicara hingga meja ini menjadi kotor dan berantakan," Gumam Humairah sambil merapikan meja dan sofa tamu. Humairah menemukan sebuah gelang di sana. Humairah tahu itu adalah gelang mahal dari brand ternama dunia.


Lama ia terdiam, memori otaknya berputar pada sebuah benda kepunyaannya yang juga berasal dari brand yang sama dengan gelang yang ia yakini adalah milik salah satu dari perempuan teman Alif tadi.


"Aku punya bross dengan brand yang sama dengan ini, iya aku mengingatnya.... Sebuah bross pemberian mas Alif," gumam Humairah tersenyum, ia menatap lagi gelang itu dengan seksama.


Ia berdiri, ia mengingat pula Arya menyebutkan Alif memperlihatkan sebuah figura berisi gambar ia dan Alif saling merangkul. Humairah penasaran hingga memberanikan diri membuka laci meja kerja Alif.


"Mas Alif?" Humairah terkejut saat menyadari Alif telah berada di ruangan mereka saat ini.


"Humairah, kemana saja kau? Kenapa baru kembali? Aku mencarimu, kenapa tidak diterima telepon dariku? Kau membuatku cemas."


Cerca Alif yang langsung memeluk perempuan itu tanpa basa basi.


"Mas Alif," kilah Humairah seraya melepas pelukan lelaki itu.


Alif menyengir, ia lupa bahwa Humairah tentu tidak mau dipeluk sembarangan.


"Maaf, aku khilaf maksudku refleks...." cengir Alif terkekeh melihat raut wajah Humairah yang segera menjauh darinya.

__ADS_1


"Dan kau memperlakukan ku seperti wanita lain, memelukku tanpa permisi, aku ini wanita baik-baik bukan wanita murahan yang bisa kau peluk dan cium sembarangan, jangan samakan aku dengan dua perempuan temanmu tadi."


Ketus Humairah kembali kesal, bukan hanya kesal namun lebih dari itu.


Alif mengerutkan kedua alisnya.


"Apa kau bermaksud mengatakan dua temanku adalah bukan wanita baik-baik? Humairah ada apa ini? Jangan marah-marah tidak jelas, mereka wanita baik-baik dan terhormat kami akrab sejak sekolah SMA, jangan berpikir yang tidak-tidak Humairah."


"Ckkk.... Kau menciumku mas Alif, kau memelukku lalu datang dua wanita itu kau perlakukan sama dengan apa yang kau lakukan padaku, belum menikah saja kau sudah berani menodaiku, belum lagi memeluk dan mencium wanita lain di depan ku. Ini baru dua wanita bagaimana dengan teman wanita mu yang lain? Ada berapa wanita yang kau peluk dan cium seenaknya?"


Alif tercengang, ia menatap Humairah yang mengoceh panjang lebar dengan wajah yang menggemaskan setengah menangis, Alif mengerti sekarang istrinya sedang cemburu.


"Humairah, maafkan aku... Oke baiklah aku mengerti kau pasti cemburu, maaf aku tidak akan mengulanginya lagi."


"Jangan sentuh aku, iya aku cemburu. Aku tidak terima diperlakukan sama rendahnya dengan wanita lain, jika mereka bebas kau peluk dan cium mungkin karena mereka telah terbiasa dalam pergaulan yang semacam itu, tapi tidak denganku, meski aku bukan muslimah yang terlalu taat namun sungguh aku belum pernah dicium dan dipeluk sebelumnya. Aku bukan wanita murahan seperti mereka."


Alif terpancing emosi juga saat mendengar kata murahan yang ditujukan pada dua temannya tadi.


"Humairah hentikan, mereka tidak murahan seperti yang kau pikirkan."


Humairah terkejut mendapat bentakan dari Alif.


"Setidaknya jangan memeluk dan mencium wanita lain di hadapanku mas Alif, aku cemburu..... Aku merasa sakit dalam hatiku sungguh menyeruak saat ini, aku merasa seperti luka lama yang kembali ke permukaan. Kalian memang berteman, tapi tidak harus seperti itu juga. Entahlah, aku rasa kita tidak sepemikiran tentang hal ini."

__ADS_1


"Maaf, aku marah-marah tidak jelas. Aku mengerti sekarang tentang pergaulanmu, mungkin kalian memang sudah seperti ini dalam bergaul dengan orang setipe seperti kalian, para pengusaha kaya dengan pergaulan yang bebas. Maaf aku hanya terkejut saja, karena selama ini aku dididik tidak untuk bersentuhan dengan lelaki sebebas itu meski alasan teman akrab sekalipun. Mungkin batas kewajaran dalam pandangan kita itu berbeda."


Humairah melangkah menjauh, ia menundukkan wajah saat Alif marah padanya.


"Ini gelang yang ku temukan di bawah meja, aku rasa ini punya temanmu."


Humairah memberi gelang itu pada Alif yang bungkam seribu bahasa.


"Sayang bukan itu maksudku, Humairah mengertilah.... Oke kau benar, pergaulanku cukup bebas pada teman wanita tapi tidak berlebihan seperti yang kau pikirkan, tidak pula sejauh yang ada dalam benakmu, peluk dan cium untuk teman akrab cukup familiar dikalangan teman-temanku. Aku mengerti dan minta maaf, aku berjanji akan lebih menghargai mu, aku tidak akan seperti itu lagi.... Aku mohon jangan marah."


Alif membujuk Humairah agar mau berhenti dari langkahnya menuju keluar.


Humairah menatap Alif, "Maaf mas Alif, aku izin pulang. Aku pusing, ada banyak hal yang terbayang di benakku. Tentang ini, cukup pembicaraan kita maafkan aku jika kata-kata ku terlalu kasar menyinggung pertemanan mu, hanya saja aku benar-benar cemburu meski kalian teman, maaf aku terlihat seperti remaja labil. Lebih baik aku pulang agar kita berjarak saat ini, biar sesak dalam dadaku menjadi berkurang."


Alif terdiam mendengar kata-kata terakhir Humairah, kata-kata yang dulu pernah ia dapatkan dari perempuan itu juga. Kata yang mampu membuat Alif kehilangan separuh jiwa, karena sesungguhnya Alif tidak mampu lagi untuk berjarak dengan istrinya.


"Ya Allah, aku salah lagi."


Gumam Alif saat Humairah menghilang dibalik pintu.


****


Lanjut ya.

__ADS_1


__ADS_2