"Berbagi Cinta" 1 Hati 2 Aisyah

"Berbagi Cinta" 1 Hati 2 Aisyah
Bab 68


__ADS_3

Humairah pulang diantarkan oleh Alif sendiri dari kejadian lari-larian Humairah tadi karena telah berpikir bahwa Arya akan berniat jahat padanya saat mendapati sebuah kond*m jatuh dari saku celana Arya ketika di mobil.


Alif tidak mau memaksa istrinya untuk bicara, ia tahu Humairah yang terkejut dan lari-larian cukup membuang tenaganya, Alif memutuskan untuk pulang setelah memastikan perempuan itu telah masuk kamar.


Papa Imran hanya tertawa saja mendengar penjelasan Alif mengenai kejadian yang menimpa Humairah. Lelaki paruh baya itu sama sekali tidak marah.


"Papa hargai usahamu, kau cukup berpikir cepat dalam situasi seperti ini. Sebaiknya temui pria itu bicara jujur padanya tentang Humairah, tidak baik pula lelaki itu terus salah paham menganggap Humairah adalah seorang gadis."


Alif terdiam, lalu ia mengangguk setuju.


"Iya, papa benar.... Aku juga sudah tidak tahan, Humairah benar-benar lupa tentangku, sampai saat ini tidak ada tanda-tanda dia mengingat hubungan kami. Meski Humairah bekerja padaku tapi sungguh aku pun tidak nyaman dengan keadaan ini, satu hal yang masih ku takutkan," balas Alif yang bicara berdua dengan papa Imran di teras rumah.


Menarik napas dalam lalu Alif melanjutkan, "Huh...... Aku takut Humairah masih menolakku jika mengingat semuanya. Tapi lupa ingatan juga tidak lebih baik dari sebelumnya, entahlah..... Dua kemungkinan yang bisa ku dapatkan nanti, kembali berumah tangga atau usaha ini berakhir sia-sia."


Alif berkata lesu, banyak ketakutan yang ia rasakan. Takut kehilangan Humairah, tidak siap menghadapi perpisahan jika memang Humairah masih menginginkan berpisah seperti niatnya terdahulu, bukankah usahanya sekarang akan menjadi sia-sia, terlebih saat mengetahui Arya cukup nekad mendekati istrinya meski sudah ia pukul ketika di kantor waktu itu.


Dalam hati Alif cukup kecewa pada Humairah, meski hanya menganggap mereka bertunangan seharusnya perempuan itu tidak lantas menerima ajakan lelaki lain begitu saja meski hanya sebuah makan malam di restoran tidak jauh dari kediaman papanya, bukankah ikatan pertunangan juga bukanlah sebuah permainan.


Humairah melihat mobil Alif pergi melalui jendela kamarnya yang menghadap ke halaman rumah, matanya yang masih bengkak karena menangis sepanjang perjalanan pulang tadi kini masih basah oleh airmata, ia sungguh takut jika Alif tidak menjemputnya tadi.


Humairah berpikir jika ia tidak menyadari niat Arya mungkin sekarang bisa saja pria itu ingin menodainya, terlebih Humairah mengingat bagaimana Arya sungguh berani menyentuh tangannya padahal belum lama berkenalan, ia menyesal telah mau pergi dengan pria itu dan menolak tawaran makan malam yang sama dengan Alif padahal jelas sekali Alif adalah tunangannya.

__ADS_1


Karena belum mengantuk, Humairah me membuka lemari menyusun pakaian yang tidak dipakai untuk ia sumbangkan pada pasien dengan gangguan jiwa yang dirawat bersama ibunya di rumah sakit jiwa seperti yang sudah terniat di hatinya minggu lalu.


Tidak sengaja ia menjatuhkan sebuah kotak kecil, Humairah memungutnya setelah menaruh beberapa pakaian yang sedang ia pegang di ranjangnya.


Humairah mulai membuka kotak kecil itu, senyumnya mengembang saat tahu itu adalah bross yang ia sebut kemarin.


"Tidak salah lagi, ini bross yang ku maksud. Aku ingat ini oleh-oleh mas Alif saat pulang dari ....." ucapan Humairah menggantung saat mulai berusaha untuk mengingat kembali.


Lama ia bermenung sambil mengelus lembut bross mahal pemberian dari Alif, entah karena ia mulai mengingat sesuatu atau ia masih berusaha mengingatnya. Tentu saja kenangan bross itu cukup manis jika diingat namun juga terdapat kisah pelik yang menguras hati dan perasaannya saat itu, bross oleh-oleh dari pulang bulan madu Alif bersama Aisyah dari Italia, brand ternama dunia yang berasal dari negara tersebut.


Senyumnya menghilang, namun tidak juga ada airmata yang keluar, entah apa yang Humairah ingat dan rasakan saat ini hanya ia dan Tuhanlah yang tahu, yang pasti kepalanya sudah tidak pusing lagi jika berusaha memaksa ingatannya untuk kembali.


"Kenapa pakaianku jadi banyak seperti ini, apa setelah bertemu papa aku jadi suka belanja?" gumam Humairah bertanya sendiri dan menjawab sendiri.


Lalu ia kembali pada lemari pakaiannya, di sana terdapat pula sebuah kotak sebesar kotak sepatu, ia tidak mengingat bahwa ia menyimpan kotak itu di sana. Humairah penasaran bisa saja itu juga berhubungan dengan masa lalunya.


Humairah kembali membukanya, matanya kembali berair saat mengeluarkan beberapa isi kotak kenangan itu.


Kenangan masa kecilnya, pakaian dan mainan yang menjadi kado ulang tahunnya yang ke 21 awal tahun lalu yang diberikan ibu Aini. Iya, Humairah bisa mengingatnya sekarang, berawal dari kotak kenangan inilah yang membawanya mengenal kembali siapa orang tua kandungnya, kini Humairah mulai mengerti.


Namun yang membuatnya heran adalah sebuah ponsel yang ia juga dapati di dalam kotak, Humairah tahu itu adalah ponsel lama miliknya.

__ADS_1


"Ini dia, ponselku masih ada," gumam Humairah girang, ia mencoba menghidupkan namun tidak bisa.


Pada kenyataannya Humairah memang kehilangan ponsel lamanya sejak sadar dari rumah sakit beberapa waktu lalu, ia heran karena tiba-tiba saja ponselnya menjadi baru.


Semua akun sosial medianya tidak bisa diakses di ponsel yang baru, ia berpikir mungkin saja sebelum ingatannya hilang ia telah menggantikan kata sandi semua akun sosmed miliknya.


Kini senyumnya kembali mengembang saat menemukan lagi ponsel lamanya, tidak dipungkiri Humairah rindu bersosmed, ia adalah salah satu anak muda milenial yang aktif di sosial media, memiliki banyak penggemar untuk konten make up yang ia sering ia unggah.


Karena lama tidak dipakai, Humairah mengisi daya ponsel itu agar bisa hidup lagi karena Humairah yakin benda itu tidaklah rusak, benar saja ponsel itu bisa diisi daya, Humairah membiarkannya dan terus berberes hingga ia mengantuk dan tidur.


Esok hari, di kantor ia bertemu Arya yang telah menunggunya.


"Humairah," sapa Arya yang langsung mendekati perempuan itu dan menghadang jalannya menuju pintu masuk utama gedung kantor mereka.


"Ada apa? Jangan menemuiku lagi, aku sudah berbaik hati tidak melaporkan mu ke polisi, aku bukan perempuan sembarangan yang bisa kau perdaya mas Arya, aku tahu niatmu pasti buruk padaku semalam. Tidak mungkin kau mengantongi kond*om jika tidak punya niat menggunakannya bukan?"


"Oke kita selesaikan tentang semalam itu sekarang juga, asal kau tahu aku sama sekali tidak punya niat jahat padamu semalam atau sejauh ini, aku tulus ingin mendekatimu, namun kau harus tahu bahwa benda sialan itu adalah hal yang disengaja pak Alif, dia menemuiku semalam setelah kau pulang."


Ujar Arya tanpa ragu, meski ia sudah mendapat ancaman bahkan sudah pula mengantongi surat pemecatan dari bosnya, namun ia merasa Humairah perlu tahu tentang kesalahpahaman semalam.


"Apa maksudmu?"

__ADS_1


__ADS_2