
Daffa membawa keranjang berisi buah, ia baru sempat menjenguk Humairah setelah mendapat kabar dari Alif tentang kejadian itu, dikarenakan lelaki ini baru pulang dari pelatihan di luar kota.
Semua teman sejawatnya menjadi riuh memperbincangkan kematian dokter Aisyah yang mencengangkan semua orang, tidak ada yang menyangka bahwa seorang dokter wanita bisa melakukan hal semacam itu.
Daffa selaku teman tidak ingin memberi keterangan apapun pada mereka yang penasaran atas apa yang terjadi, hingga ia memilih untuk diam dan tidak menanggapi berbagai gosip tentang penyebab Aisyah bunuh diri.
"Alif," panggil Daffa saat melihat Alif duduk di salah satu kursi tunggu tepat di depan ruang rawat Humairah.
Pria itu tampak terduduk lesu, kedua tangannya menopang keningnya yang menunduk saja sejak tadi. Menunduk dalam sesal.
Daffa mendekat lalu menyentuh pundak sahabatnya.
"Humairah mengalami amnesia disosiatif, dia melupakanku, melupakan tentang pernikahan kami, melupakan semua tentangku," ucap Alif lemas.
"Dia mengalaminya lagi."
Alif mengangguk.
"Kau perlu tahu bahwa memang ada seseorang yang tidak mampu menghadapi trauma psikologis yang berat hingga alam bawah sadarnya lebih memilih menyimpan memori tentang suatu kejadian yang dianggapnya meninggalkan bekas luka yang mendalam itu dari ingatannya, percayalah Humairah bisa melewati ini semua."
Jelas Daffa, ia sudah mendapat informasi tentang kondisi istri Alif dari seniornya yang kebetulan menangani kasus Humairah.
"Iya, dan aku salah satu dari bagian trauma yang dia rasakan. Aku tidak bisa melihatnya terluka lagi, aku jahat padanya, aku bukan suami dan pelindung yang baik untuknya," ucap Alif dengan suara terendahnya.
"Lalu? Kau ingin menyerah dari perjuangan mendapatkan lagi istrimu?"
Alif mengangguk, "Jika dengan seperti itu Humairah bisa terlepas dari trauma dan memulai hidup baru yang lebih baik kenapa tidak.... Dia sudah cukup menderita dengan kehadiranku selama ini, aku tidak sanggup jika Humairah harus kembali sakit dengan mengingat bahwa kejadian kemarin adalah karena ku juga, karena pria bodoh ini hingga Aisyah melakukan hal nekad itu, dia hampir membunuh Humairah."
Daffa menyentuh pundah Alif lagi sambil terkekeh.
__ADS_1
"Itu tidak akan mengubah apapun teman, percayalah seharusnya kau tetap di sampingnya, menjelaskan keadaan dengan perlahan agar ingatannya kembali bukan meninggalkannya dengan alasan konyol seperti ini," balas Daffa.
"Aku tidak mendukungmu soal ini. Kau menjauh bukan untuk menjadi lebih baik tapi menambah luka baru, kau terluka Humairah pun akan sama terluka jika dia mengingatmu nanti. Aku sudah mengalah demi kebaikan kau dan Humairah, jangan buat aku menginginkan nya lagi karena sikap mu ini."
Alif menoleh pada Daffa dengan tatapan tidak suka.
"Aku hanya bercanda, aku menginginkan kalian bersama. Aku tahu Humairah mencintaimu, lagi pula bukankah ini bagus untuk membatalkan niat cerai istrimu? Seharusnya kau mengambil kesempatan bodoh."
Alif terdiam, lalu ia menggeleng lagi.
"Aku tidak ingin menyakitinya lagi dengan ingatan buruk tentangku, aku salah banyak padanya. Dokter mengatakan dia akan sakit jika memaksa untuk mengingat, aku tidak ingin Humairah sakit, dia hanya pantas tertawa dan tersenyum saja seperti saat ini. Dia hanya mengingat bahwa dia adalah seorang mahasiswa yang sibuk dengan tugas tanpa ada beban pikiran lain, aku tidak bisa melihatnya sakit lagi. Jika ini yang terbaik, aku akan mengalah.... Kebahagiaannya yang utama."
Alif berkata dengan mata yang basah, Daffa mengerti perasaan Alif hingga ia tidak mencoba menyinggung hal itu lagi.
Seperti Humairah, Alif pun sama trauma dengan kejadian mengerikan dua hari kemarin, Daffa mengerti betul tidak mudah menghadapi rentetan suatu hal yang bersamaan.
"Aku hanya tidak ingin kau menyesal nantinya."
"Lalu apa yang akan kau lakukan?"
"Mungkin Humairah benar, dengan jarak bisa mengurangi sesak yang dirasa saat ini. Dia butuh waktu untuk sembuh, dan aku tidak akan menghambat kesembuhannya."
*****
Papa Imran pun merasa kasihan pada menantunya, ia sungguh berterimakasih pada Alif yang datang menyelamatkan Humairah hingga anak perempuannya tidak menjadi salah satu korban dari kegilaan anak angkatnya.
Papa Imran juga telah menawarkan pada Alif untuk berbaikan dengan Humairah dengan mengambil kesempatan atas hilang ingatan yang dialami oleh putrinya, namun Alif menolak ia tidak ingin menipu Humairah seolah mereka baik-baik saja sebelumnya sedang mereka berada dalam kehancuran rumah tangga.
Sudah dua minggu Humairah pulang ke rumah, papa Imran dibantu Lola dan Aji menjelaskan perlahan tentang keadaan Humairah yang memang telah tinggal di rumah orangtua kandungnya sebelum hilang ingatan.
__ADS_1
Menjelaskan pula bahwa ayah Ihsan telah meninggal, namun ia tidak diberitahu soal meninggalnya ayah Ihsan akibat apa. Mendengar ayahnya meninggal saja sudah membuat Humairah sakit, papa Imran serba salah jadinya.
Hingga suatu pagi, Humairah keluar kamar namun pandangannya menuju pada suatu benda yang mampu membuat senyumnya kembali terkembang.
"Papa membelikan ini untukku?"
Papa Imran mengangguk tersenyum.
"Agar kau tidak bosan, percayalah sayang semuanya akan baik-baik saja. Jangan bersedih lagi, papa ingin kau seperti biasa, ceria dan apa adanya."
Humairah memeluk papanya saat mendapati sebuah piano di ruang tengah.
"Tidak, aku sudah lebih baik sekarang jangan cemas akan hal itu. Aku sadar semua yang terjadi atas kehendak Allah, aku menyayangi ayah Ihsan tapi Allah lebih sayang lagi hingga dipanggil secepat ini. Meski aku tidak mengingat apapun, aku sudah lebih ikhlas sekarang."
"Terlebih ada papa, aku akan baik-baik saja. Ayolah jangan menatapku seperti itu, kita akan bahagia berdua. Hmmmmm jika papa tidak keberatan apa boleh aku menjenguk ibu?"
Papa Imran terdiam sejenak, lalu ia mengangguk.
"Tentu saja, tapi berjanjilah jika kau tidak akan sesedih kemarin lagi."
Humairah mengangguk mereka berpelukan lagi.
Selang satu jam kemudian, Humairah dan papa Imran berjalan menyusuri koridor sebuah rumah sakit jiwa, Humairah menenteng kantong berisi makanan dan peralatan mandi khusus untuk ibunya yang dirawat di sana.
Iya, ibu Aini masuk rumah sakit jiwa sejak dipastikan terganggu kejiwaannya saat memberi keterangan pada polisi pasca kejadian itu. Ia dan Alif masuk daftar saksi dari peristiwa berdarah anak dan suaminya, namun tidak Humairah.
Alif hanya memberi keterangan bahwa tidak ada saksi lain selain dirinya dan ibu Aini yang berada di sana hingga Humairah tidak perlu dilibatkan lagi dari kasus ini.
Humairah berair matanya saat menjenguk ibunya yang masih berada dalam ruangan khusus untuk pasien baru, wanita paruh baya itu hanya diam memandang kosong ke satu arah.
__ADS_1
Didampingi seorang perawat ia mendekati ibu Aini, memberi salam dan mencium tangannya. Humairah mengelap sudut matanya yang berair.
Mendengar suara Humairah ibu Aini menoleh.