"Berbagi Cinta" 1 Hati 2 Aisyah

"Berbagi Cinta" 1 Hati 2 Aisyah
Bab 75


__ADS_3

"Humairah apa kabar?" basa basi Daffa.


Belum Humairah menjawab, Alif lebih dulu menghalangi pandangan Daffa dengan membawa Humairah dalam kungkungan lengannya hingga istrinya hilang di sana.


"Mas Alif?"


"Kenapa bertanya kabar Humairah saja? Kau tidak bertanya kabarku? Apa kau kemari hanya untuk menemui istriku?" cetus Alif dengan tatapan tajamnya.


Daffa berdecak dari tempatnya berdiri.


"Huh..... Apa kau sudah berubah jadi suami posesif sekarang? Lepaskan Humairah, lihat dia bisa kesulitan bernafas," jawab Daffa kesal yang melihat Humairah bahkan tidak bisa bersuara oleh lengan Alif yang sengaja menghalangi wajahnya.


Sarah hanya diam terpaku di tempatnya, ia menjadi tersenyum sendiri melihat pasangan di hadapannya itu. Pasangan yang merupakan sahabat dari Daffa, kekasih sekaligus calon suaminya setelah memutuskan menjalin hubungan beberapa bulan lalu, dan baru satu minggu yang lalu pula Daffa berani melamarnya langsung di hadapan kedua orangtua Sarah.


Alif melepaskan Humairah seraya meminta maaf.


"Mataku jadi pedih kena kemejamu," kesal Humairah setelah lepas dari dekapan suaminya yang tiba-tiba.


Alif terkekeh, "Maaf..... Refleks, lagipula Daffa yang seharusnya salah, tidak memberi kabar lalu datang tidak mengetuk pintu, tiba-tiba langsung bertanya padamu, bukankah jelas sekali membuatku cemburu," kilah Alif seraya mengusap dan meniup mata Humairah.


Humairah hanya memukul dada suaminya dengan kesal.


"Baiklah sayang, aku rasa kau harus berkenalan dengan calon istri pria itu, ajak dia minum di kantin. Aku akan bicara dengan Daffa berdua saja," ucap Alif lagi setelah menatap Daffa penuh arti.


"Kenapa tidak di sini saja, kita bisa ngopi berempat," cetus Daffa heran dengan tatapan sahabatnya.


Belum Humairah menjawab kembali dipotong Alif lebih dulu.


"Biarkan mereka bicara sesama perempuan, aku ada hal yang harus ditanyakan padamu dan ini penting sekali."


Mendengar perkataan Alif membuat istrinya menaruh curiga, ia menatap Alif penuh tanya.


"Oh sayang, jangan curiga dulu.... Ini soal lelaki, pembicaraan antar lelaki dewasa," jawab Alif seakan tahu arti tatapan istrinya.


"Urusan lelaki dewasa, apa kalian ingin nonton film biru berdua? Kenapa jawabanmu ambigu sekali?"


Hal itu berhasil membuat Sarah tertawa pelan seraya menutup mulutnya. Alif mencium sudut bibir Humairah dengan gemas.


"Bukan itu juga maksudku," jawab Alif terkekeh.


"Mas Alif," ucap Humairah terkejut mendapat sebuah kecupan depan dua orang lain, ia membesarkan matanya.


"Baiklah, aku mengerti kalian sudah lama tidak bertemu. Kami akan berkenalan di kantin saja, kalian ingin dibawakan apa nanti?" Humairah berjalan menjauhi suaminya lalu mendekati Sarah yang masih tampak malu-malu tanpa banyak bicara.


"Dua kopi sayang," jawab Alif lagi, Humairah mengangguk sambil mengangkat jempol.


"Sayang!" panggil Alif.


"Hmmmmm?" Humairah menoleh pada suamimya lagi.


"Aku mencintaimu."


Pipi Humairah memerah malu.


"Dasar tidak malu, suka pamer" cetus Daffa kesal.


"Iya baiklah, ingin bicara berdua atau berempat?" tanya Humairah memastikan lagi setelah tahu tatapan Alif yang seakan enggan berjauhan.


"Berdua saja, ini rahasia antar sahabat," jawab cepat.


Humairah memutar bola matanya malas.


Daffa hanya bisa menghela nafas tanpa bantahan. Padahal niatnya kemari adalah ingin bicara berempat, ia ingin Sarah mengenal Alif dan Humairah sebagai temannya yang cukup memberi pangaruh bagi perjalanan hidup dan cintanya selama ini. Namun ia menangkap maksud lain dari tatapan Alif yang seakan memberi kode.


Humairah mengangguk mengerti, lalu ia tanpa berpikir panjang meraih tangan Sarah.


"Ayo kita bisa bicara di kantin saja, tinggalkan saja dua lelaki menyebalkan ini."


Sarah tersenyum seraya mengangguk, ia menerima uluran tangan Humairah dan mulai mengikuti langkah perempuan yang menuju pintu keluar.


Setelah memastikan dua perempuan cantik itu keluar dari ruangan, Daffa mulai duduk di hadapan Alif lalu menatap pria itu dengan wajah serius.


"Ada apa? Apa yang ingin kau bicarakan dengan ku? Hingga mereka tidak boleh tahu?" tanya Daffa heran.


Alif menarik napas dalam, ia terdiam sejenak.


"Ada yang ingin ku tanyakan padamu."

__ADS_1


"Apa itu?"


"Kau seorang dokter bukan?"


"Tentu saja bodoh."


"Sebelum memutuskan untuk periksa lebih lanjut, tidak ada salahnya aku konsultasi pada sahabatku dulu, agar gelarmu berguna untuk teman mu ini."


"Alif jangan berbelit, memangnya ada apa?"


Menarik napas dalam lalu menatap Daffa mulai serius.


"Aku sakit."


"Sakit apa? Alif bicaralah dengan jelas."


"Kau tidak lihat perubahan badanku?"


"Iya, kau tampak kurus."


"Iya, aku kehilangan berat badan empat kilogram dalam dua bulan terakhir, aku muntah hampir setiap sesudah makan, aku sudah periksa bersama Humairah kata dokter hanya sakit lambung biasa, apa tidak aneh ini sudah dua bulan aku tidak sembuh-sembuh seleraku hilang semua makanan yang ku makan terasa hambar dan bau, kepala ku juga sering pusing tanpa sebab. Aku tidak ingin istriku khawatir, hingga aku muntah diam-diam tanpa tahu Humairah hingga dia mengira aku sudah sembuh, tapi tidak aku benar-benar kehilangan nafsu makan bahkan sampai saat ini. Semua ku makan dengan paksa agar Humairah tidak berpikir aku masih sakit, tapi setelah itu aku pasti muntah."


Daffa mendengar Alif dengan seksama.


"Lalu?"


"Kenapa kau balik bertanya, aku sakit apa Daffa? Aku coba baca artikel, ada yang menyebut gejala penyakit ginjal, ada juga gejala penyakit kanker. Ya Allah, aku benar-benar takut sekarang jika benar aku sedang sakit parah. Bagaimana dengan Humairah jika aku mati."


"Bisa saja kanker lambung atau kanker otak misalnya? Oh apa ini pertanda hidupku tidak akan lama lagi?"


Daffa menjawab santai, "Jika kau mati, biar aku yang menikahi jandamu."


"Daffa aku tidak sedang bercanda," kesal Alif bahkan ia mencengkram kerah kemeja sahabatnya itu.


"Tenanglah, aku hanya bercanda, makanya jangan asal bicara, sebagian ucapan adalah doa," kekeh Daffa merasa geli sendiri seraya melepaskan tangan Alif dari lehernya.


"Astagfirullah, ayo bantu aku berpikir aku benar-benar merasa tidak nyaman dengan kondisi seperti ini, herannya lagi aku membaik disiang hari, memburuk lagi ketika malam dan pagi. Aku juga mengalami gatal-gatal jika malam hari itu cukup mengganggu waktu tidurku terkadang hingga dini hari."


"Apa kau pernah mimisan?"


Alif menggeleng.


"Tidak, sakit kepala sedang saja tidak sampai pingsan juga," bantah Alif.


"Lalu bagaimana dengan pola berkemih? Apa kau merasa terganggu? Berkurang dari biasanya tidak? Atau sakit pinggang misalnya? Mana saja bagian tubuhmu yang sakit selain kepala yang pusing?"


"Tidak ada, hanya merasa lemas saja jika habis muntah atau bangun tidur sebab begadang karena gatal."


"Kita tidak bisa menerka-nerka sakitmu apa, selain keluhan gejala yang kau rasakan, kita juga harus melakukan pemeriksaan penunjang lainnya, dan itu harus dilakukan di rumah sakit oleh ahlinya. Ku sarankan kau harus periksa secara detail untuk mendapatkan diagnosis yang pasti."


"Dari gejala yang kau alami bisa saja memang sakit serius, sakit lambung biasa tidak mungkin tidak sembuh padahal sudah hampir dua bulan, setidaknya menunjukkan perbaikan sejak pengobatan."


"Jangan membuatku takut," lirih Alif pelan.


"Kau bisa ku bantu, kapan kau punya waktu periksa?"


Alif terdiam, tidak memungkiri ia menjadi cemas sendiri oleh apa yang terjadi padanya saat ini.


"Aku akan menghubungi mu jika ada waktu nanti, ku mohon rahasiakan ini dari istriku. Oh Tuhan, bagaimana jika aku memang sakit parah, aku baru saja mau bahagia bersama Humairah. Jangan ambil aku secepat ini ya Allah," gumam Alif sambil mengusap wajahnya yang menengadah ke atas menatap langit-langit ruangan diakhir kalimatnya.


******


"Maaf, Sarah kenapa kau tidak makan? Kenapa hanya memandangi ku saja sejak tadi, kau tidak akan kenyang sayang, ayolah silahkan makan jangan sungkan. Aku senang berkenalan denganmu, ketahuilah aku tidak punya banyak teman. Aku senang punya teman baru," ucap Humairah tersenyum menggenggam tangan Sarah dengan lembut.


"Terimakasih Humairah, aku juga senang berkenalan denganmu. Aku jadi punya teman yang beda profesi."


"Maaf, aku bahkan sudah kenyang dengan melihat kau makan dengan lahap," sambung Sarah tersenyum lagi.


"Oh Sarah kau membuatku malu, iya aku suka makan sekarang, berat badanku naik dua koma lima kilogram dalam dua bulan setengah ini, yang aneh malah mas Alif yang turun, dia sakit lambung. Kasihan dia jadi susah makan."


"Apa kau sedang hamil hingga seperti ini? Maaf aku menebak saja."


Humairah mengangguk dengan wajah berbinar.


"Iya, kau tepat sekali Sarah. Aku mengandung sekarang, tapi ini masih rahasia. Suamiku tidak tahu tentang hal ini, aku berniat memberi kejutan pada ulang tahun pernikahan kami yang pertama nanti beberapa hari lagi."


Sarah tersenyum lebar mendengarnya, ia dapat melihat raut bahagia Humairah yang tanpa sungkan bercerita padanya meski mereka baru kenal.

__ADS_1


"Wah, benarkah? Oh Humairah, aku bahagia mendengarnya, tidak ada yang lebih membahagiakan daripada menjadi perempuan beruntung yang bisa merasakan hamil. Aku tahu riwayat kehamilanmu yang pertama dari mas Daffa, aku senang sekarang kau mendapatkan gantinya, kau sudah periksa? Perempuan atau lelaki? Berapa usia kehamilanmu?" tanya Sarah antusias.


Humairah mengangguk, "Aku periksa diam-diam saat pergi mengunjungi papaku kebetulan tanpa mas Alif, usianya 13 - 14 minggu."


"Alhamdulillah semuanya baik dan sehat, aku bersyukur tidak merasakan apapun di trimester pertama ini bahkan muntah pun tidak pernah sama sekali, nafsu makan terus bertambah, lihatlah aku jadi gemuk hingga mas Alif tidak menyadari perutku membesar dia kira karena lemak, itu lucu sekali."


Humairah bercerita dengan entengnya pada Sarah layak teman yang sudah lama akrab.


"Wah, ini menarik Humairah," balas Sarah dengan senyum kagum.


"Kau tahu Sarah, aku merasakan kehilangan akan calon anakku yang pertama, namun sekarang tidak tahu betapa aku bersyukur Allah menggantinya secepat ini, aku bahkan langsung hamil setelah kembali bersama mas Alif," sambung Humairah masih dengan wajah yang berbinar.


"Baby boy," ucapnya lagi.


Sarah menutup mulutnya, "Benarkah? Humairah aku sungguh bahagia mendengarnya, selain doa yang terbaik semoga kau sehat dan selamat sampai lahiran nanti, ku sarankan untuk rutin periksa demi kesehatan kalian berdua, aku senang sekali Humairah, aku suka wanita hamil, aura kecantikan perempuan hamil berbeda seperti kau sekarang, cantik berseri," puji Sarah terkagum-kagum.


Humairah tertawa pelan, "Kau pandai mengambil hati Sarah, aku juga suka padamu."


Mereka bicara tentang kehamilan dengan riuhnya hingga lupa pada dua pria yang sedang menunggu mereka kembali sejak tadi.


"Sarah."


"Iya Humairah," sahut Sarah sambil mengunyah kembali makanannya.


"Kau seorang perawat, kau tentu tahu sedikit banyaknya perihal penyakit. Menurutmu mas Alif sakit apa, sudah dua bulan dia tidak makan dengan baik, suamiku tampak kurus, kasihan dia."


"Apa ada seorang suami yang mengidam? Aku hanya menebak saja, karena sesekali mas Alif mengeluh masakanku bau dan tidak ada rasanya, juga dia suka makan buah yang aneh katanya sejak sakit jadi suka makan buah yang asam, mas Alif mengatakan seleranya ada jika makan asam-asam padahal itu tidak baik untuk lambungnya yang sedang sakit, aku berpikir seperti itu karena dikehamilan ku yang pertama aku sempat merasakan hal seperti itu meski tidak lama setelahnya aku keguguran."


Sarah tersenyum penuh arti.


"Aku rasa tebakan mu benar Humairah, meski dalam dunia medis mengidam adalah mitos, tapi dari pengalaman banyak orang dan beberapa dialami kakak iparku sendiri, kakak ku hamil hingga anak ketiga semuanya seperti itu karena yang mengidam adalah suaminya, semua tanda kehamilan dirasakan oleh suaminya, tapi tenanglah semuanya akan membaik seiring bertambah usia kehamilan, sebenarnya jadi lucu tapi tetap saja kasihan."


"Benarkah ada seperti itu?"


Sarah mengangguk lagi.


"Tentu ada sayang, aku saksinya kakakku sendiri mengalaminya. Juga banyak yang mengalami hal seperti ini, jadi jangan terlalu dipikirkan ya.... Perempuan hamil tidak boleh stress, harus bahagia selalu agar janinmu juga ikut bahagia hingga masa melahirkan nanti, insyaallah bukan hal yang membahayakan."


"Sarah, terimakasih atas penjelasanmu tentang hal ini. Maklum saja aku bukan ahli kesehatan, hingga sangat butuh informasi tentang hal ini agar aku tidak berpikir yang tidak-tidak tentang sakit suamiku, sekarang aku cukup lega."


"Dan aku juga senang berkenalan dengan seorang akuntan, aku kurang pandai dalam menghitung uang. Analisis keuangan adalah hal tersulit dalam diriku, sulit mengontrol diri dalam hal uang. Maklum saja aku adalah perempuan yang mudah terpengaruh dengan hal belanja, apalagi punya teman-teman sejawat yang suka belanja."


Humairah terkekeh, "Wah, jika menyangkut uang aku pasti akan membantu mu, menghitung digit digit angka rupiah adalah ahliku Sarah, tenang saja kau akan menikah dengan dokter kaya raya, jadi tidak perlu takut kehabisan," kekeh Humairah seraya bercanda.


"Oh Humairah aku hanya bercanda, jangan diambil hati soal kata-kataku tadi. Aku bukan wanita suka belanja, aku terbiasa hidup sederhana keluargaku bukan dari kalangan berada."


"Aku tahu itu, aku suka padamu Sarah. Senang bisa berteman dengan mu," ucap Humairah menatap wajah Sarah dengan senyumnya yang manis, tulus dan tidak dibuat-buat ia benar kagum dengan sosok perawat cantik seperti Aisyah Sarah, dari tutur katanya yang lembut dan sopan Humairah merasa bertemu dengan perempuan yang satu frekuensi dengannya.


Apalagi di kantor Alif melarangnya berteman sembarangan, karena suaminya tahu karyawan perempuan di kantor mereka rata-rata adalah adalah biang gosip, Humairah tahu itu.


*****


Puanjaaaangggg kayak benang layangan, asal jangan putus ye kan....


Okeh baiklah mari kita lanjutkan.


"Eh yang kanker itu otor mas Alif, bukan dirimu.Kantong keriiiiiiiiiiiiiing kelontang. Seretttt dah," ucap si otor.


"Eh kok ga bersyukur sih, nikmat kesehatan lebih dari segalanya tor.... daripada muntah terus kayak si Alif sampe dia ngira kanker lambung segala," balas si ....


"Eh kamu siapa?" tanya otor lagi.


"Aku ya kamu tor.... kok nanya, emang kamu ngomong sama siapa sekarang?"


"Sama diri aku sendiri," jawab otor.


"Yahhhh otornya mayau nih."


"Apa tu mayau?"


"Lah itu bahasa Jambi artinya mabokkkkk kalo kata peterpan sih kaki di kepala kepala di kaki, emang otor orang mana?"


"Oh iya ya, otor kan orang Jambi. Maaf lupa diri karena terlalu sibuk nghaluuuuu."


"@$$@$#:'"::"


"Lah bingung dia."

__ADS_1


Sekian dan terima gaji, gajinya lom batas limit jadi lom bisa narik, doain levelnya naik plus viewnya naik pemirsa sampe bulan depan, biar semangat up nya. bakal aku lanjutttt ke generasi berikutnya deh, levelnya cukup bagus dan cuan jika rajin up biar bisa narik gaji biar bisa nambah2 beli popok si kembar. hihihihi Amin ya Allah. Apalah daya otor adalah salah satu perempuan mata duitan, jadi biar semangat terus ngehalunya.


Ampun deh tor.


__ADS_2