"Berbagi Cinta" 1 Hati 2 Aisyah

"Berbagi Cinta" 1 Hati 2 Aisyah
Bab 79


__ADS_3

"Masih ingin punya anak banyak?" goda Humairah saat keluar dari ruangan dokter.


Alif terkekeh, wajahnya kembali segar saat tahu bahwa apa yang ia alami akhir-akhir ini bukanlah gejala sakit berat seperti dalam bayangannya.


"Tidak, aku tidak akan jera hanya karena mual dan muntah seperti ini. Tetap pada rencana awal, punya anak lelaki yang banyak dan dua anak perempuan," jawab Alif enteng.


"Huh, memang banyak menurutmu itu berapa?"


"Hmmmmm enam juga boleh."


"Enak saja, kau kira aku mesin pencetak anak," sungut Humairah kesal mendengarnya.


Alif terkekeh lagi seraya merangkul pundak istrinya dengan gemas, mereka berjalan pagi menuju ruangan dokter spesialis kandungan yang mana Humairah akan kembali periksa kehamilan.


Mengikuti prosedur dan antrian menunggu giliran istrinya masuk, bukan Humairah yang tampak manja melainkan sebaliknya Alif lah yang bermanja-manja dengan menyandarkan kepalanya di pundak istrinya meski ada banyak pengunjung yang duduk di bangku yang sama.


Sesekali pria itu mencium pipi Humairah dengan bisikan-bisikan kata cinta yang membuat Humairah geli sendiri mendengarnya.


"Sayang tunggulah disini, aku ingin ke toilet dulu," pamit Humairah seraya menjauhkan kepala Alif dari pundaknya.


"Ingin ku temani?"


"Tidak perlu, istirahatlah di sini aku tahu kau masih pusing," cegah Humairah.


"Baiklah, jangan lama."


Humairah mengangguk. Sepeninggal istrinya ke toilet Alif menghilangkan kejenuhan dengan bermain game di ponselnya.


Di toilet, Humairah yang sudah selesai buang air kecil yang akhir-akhir ini cukup ia rasakan lebih sering dari sebelum hamil, sedang merapikan kerudungnya menghadap cermin wastafel.


Terdapat seorang perempuan lain yang melakukan hal sama, memperbaiki tata rambut ikalnya yang tergerai bebas. Ia melirik Humairah cukup lama tanpa disadari oleh istri Alif itu.


Humairah keluar namun tidak melanjutkan langkahnya untuk kembali pada lelaki yang sedang menunggunya di depan ruangan periksa kandungan saat bertemu dengan seorang perempuan yang berseragam perawat yang hendak melewatinya.


"Humairah?"

__ADS_1


"Oh, hai Sarah."


Mereka saling bertegur sapa hingga mengobrol singkat.


Di posisi Alif yang sudah merasa istrinya terlalu lama di toilet, ia hendak menyusulnya namun berhenti saat seorang wanita berwajah manis memakai dress selutut dengan rambut ikal tergerai di bahunya yang bertubuh ideal dengan bentuk dan tinggi yang proposional menegurnya.


"Alif?"


Pria itu menoleh, ia cukup lama menatap sang wanita seolah sedang mengingat sejenak.


"Kau lupa padaku?"


Setelah menemukan jawabannya barulah Alif mengangguk-angguk.


"Merry, betul?"


"Ck.... ternyata kau seorang pelupa, iya aku Merry teman sekelas mu, senang bertemu dengan mu di sini apa kabar mu Alif Zayyan Pratama?" Ucap wanita itu seraya mengulurkan tangannya ingin bersalaman.


Namun Alif tidak menjabatnya melainkan membalas dengan salam namaste, hingga wanita itu tampak canggung sendiri saat menarik kembali tangannya yang tidak terbalaskan, ada raut kecewa di sana.


"Wah kau masih hafal nama panjangku, senang juga bertemu denganmu Merry, ini sudah sangat lama aku hampir tidak mengenal mu lagi. Kabarku Alhamdulillah baik, sangat baik sekarang."


Alif tertawa pelan seraya menjawab, "Aku kemari bersama istriku, periksa kehamilan," jawab Alif tanpa basa basi.


Merry terdiam sejenak di tempatnya berdiri. Ia membayangkan wajah seorang perempuan yang terlintas dibenaknya.


"Kau sudah menikah? Oh aku kira kau pria yang tidak ingin berkomitmen seperti kebanyakan pria, senang mendengarnya mana istrimu?"


"Dia sedang ke toilet, aku baru saja akan menyusulnya. Iya aku sudah satu tahun menikah."


"Siapa? Apa Aisyah si adik kelas yang terlalu berani itu akhirnya bisa mendapatkan mu juga?" tanya Merry dengan raut kesal, ia mengingat wajah Aisyah sang adik kelas mereka yang memang gencar dan berani mendekati Alif sewaktu sekolah dulu.


Alif menggeleng, "Ada banyak Aisyah di kota ini, tentang Aisyah yang baru saja kau sebutkan itu, dia sudah meninggal dunia. Maafkan dia jika ada salah padamu sewaktu kita sekolah dulu," jawab Alif tersenyum tipis.


"Oh benarkah, maaf aku tidak tahu Alif.... Meski dia sering membuat kesal anak-anak kelas kita, tentu aku memaafkannya karena dia sudah tiada sekarang."

__ADS_1


"Sudah seharusnya kita saling memaafkan, lalu kenapa kau kemari? Siapa yang sakit?" tanya Alif lagi ikut berbasa basi.


Merry menggeleng, "Tidak ada yang sakit, aku kemari untuk melepaskan KB implanku."


"Begitukah, baiklah senang bertemu dengan mu Merry titip salam untuk suamimu, aku akan menyusul istriku," pamit Alif ingin segera mengakhiri pertemuan antar teman lama itu.


"Aku tidak bersuami, aku baru saja menjanda. Kami bercerai."


Alif mengangguk beberapa kali saat mendengarnya.


"Begitukah, maaf aku tidak tahu. Hidup memang seperti inilah adanya, ada pertemuan ada pula perpisahan," Balas Alif tersenyum canggung.


"Iya, kau benar hidup selalu punya cerita..... Senang bertemu dengan mu, aku baru kembali ke kota ini lagi, aku bekerja di perusahaan ----"


Alif tersenyum lagi segera memotong, "Iya, hidup selalu punya cerita seperti hidupku semuanya bercerita tentang seorang Aisyah. Aisyah Humairah istriku, itu dia." Tunjuk Alif pada istrinya yang berjalan mendekat.


Alif mengulurkan tangannya yang segera disambut manis oleh Humairah.


"Merry, ini istriku Aisyah Humairah. Sayang kenalkan ini teman sekolah ku dulu namanya Merry kebetulan tidak sengaja bertemu disini."


Humairah tersenyum lalu mengulurkan tangannya untuk berjabat, namun tidak langsung Merry sambut, ia tertegun lama di tempatnya berdiri sejak menoleh pada Humairah mendekati Alif tadi, perempuan yang ada di toilet bersamanya tadi adalah istri dari lelaki idola di kelasnya dulu.


"Ah iya, hai Aisyah..... Aku Merry teman lama Alif," ucap Merry segera berjabat tangan dengan Humairah.


"Senang berkenalan dengan anda nona Merry."


Mereka berpisah setelah berbasa basi.


"Teman lama atau mantan lama? Kenapa dia memandangmu seperti itu, membuatku cemburu," cebik Humairah kesal, sejak hamil ia cukup merasa berlebihan saat Alif berinteraksi dengan wanita lain.


Alif terkekeh, "Aku saja tidak terlalu ingat padanya hanya berbasa basi jangan dikira nanti aku sombong pada teman sesama sekolah dulu, jangan berpikir yang tidak-tidak ayo duduk, kenapa lama sekali?"


Humairah menatap Alif tajam.


"Oh sayang, aku tidak berbohong," ucap Alif mencium pipi Humairah dengan gemas.

__ADS_1


Humairah diam saja, membuat Alif bernafas dengan sulit.


"Oh senangnya saat wanita ini cemburu."


__ADS_2