
Alif terus saja tersenyum bahagia melihat hasil gambar USG di tangannya, pria itu tidak melepas pandangan dari gambar janin yang memperlihatkan jenis kelamin yang lebih jelas daripada pemeriksaan bulan lalu.
Dokter mengatakan bahwa jenis kelamin calon bayi yang sedang dikandung Humairah adalah laki-laki masih sama dengan pernyataan dokter tersebut dibulan lalu.
"Kau bahagia?" tanya Humairah ketika mereka sudah berada dalam mobil hendak menuju pulang.
Alif menoleh istrinya, "Jika ada kata-kata yang lebih dari itu aku pasti akan mengatakannya," jawab Alif tersenyum lebar seraya satu tangan mengelus lagi perut Humairah.
"Baiklah, ayo kita pulang."
Alif mengangguk, mereka pulang dengan perasaan bahagia karena baru saja selesai menyaksikan layar USG yang mana calon bayi mereka ditampilkan melalui pemeriksaan menyeluruh, hingga disimpulkan bahwa kehamilan Humairah sehat dan baik sejauh ini.
Humairah menatap suaminya yang mengemudi dengan fokus, dalam hati wanita ini sungguh bersyukur bahwa masa sulit hatinya telah terlewati.
Ia merasa Allah maha baik menggantikan semua yang pergi dengan kebahagiaan yang lain yang mulai bermunculan, sikap Alif yang kian manis, mertua yang perhatian, papa yang selalu mendukung, lingkungan keluarga yang benar-benar memberi pengaruh positif dalam hidupnya.
Suami yang mencintainya, calon bayi yang sehat, kedua keluarga yang saling mendukung hubungan rumah tangga mereka untuk menjadi lebih baik dan lebih baik lagi, namun Humairah masih tersirat kesedihan di hatinya hingga saat ini.
Ibu Aini, belum juga menunjukkan kemajuan dalam kesehatan jiwanya, perempuan paruh baya yang membesarkan Humairah sejak umur enam tahun itu tidak bisa dibawa pulang karena dokter tidak mengizinkan sebab belum ada sikap atau perilaku ibunya yang menunjukkan kemajuan dalam berkomunikasi.
Humairah berharap bisa membawa ibunya pulang dan tinggal bersamanya menikmati kehangatan berkeluarga, meski ia tahu ibu Aini tidak bisa sembuh namun bisa dikontrol dengan pengobatan agar tidak kambuh, namun hingga sekarang dokter belum bisa memberi izin untuk itu.
*****
Hari demi hari dilewati, usia kehamilan yang kian membesar membuat Humairah mudah lelah, nafsu makan yang tidak bisa ia kontrol hingga membuat tafsiran berat badan bayinya cukup besar.
Benar saja mual dan muntah Alif sembuh dengan sendirinya sejak usia kandungan Humairah melewati lima bulan, pria itu kembali bugar dan sehat tanpa keluhan apapun lagi, namun sikap posesif dan protektif terhadap istrinya kadang membuat pertengkaran kecil yang manis membumbui hari-hari Humairah.
Sampai pada bulan kedelapan kehamilan, Alif memutuskan Humairah untuk berhenti bekerja agar perempuan itu bisa istirahat dan mulai mempersiapkan segala keperluan untuk kelahiran nanti.
Lowongan sekretaris pun dibuka untuk umum, namun yang digarisbawahi bahwa yang akan diterima adalah pelamar laki-laki saja, meski surat lamaran menumpuk dari pelamar perempuan.
Siapa yang tidak ingin jadi sekretaris seorang Alif Zayyan Pratama yang kian dikenal sebagai pebisnis muda sukses yang sudah memiliki kantor cabang hampir seluruh kota-kota besar lainnya.
"Maaf nona, kami tidak menerima pelamar perempuan. Posisi ini sudah jelas sekali akan diisi pelamar lelaki saja seperti yang tertera pada pengumuman," jelas salah satu staff bagian personalia yang sedang mengurus pelamar yang dipanggil untuk wawancara khusus calon sekretaris baru bagi Alif.
Ada banyak pelamar yang dipanggil karena ada beberapa lowongan yang dibuka selain sekretaris, penambahan karyawan secara besar-besaran. Untuk sesi pertama adalah wawancara khusus pelamar posisi sekretaris
Perempuan itu memaksa masuk ruangan tanpa bisa dicegah oleh staff tersebut, hingga seorang HRD yang sedang mewawancarai salah satu pelamar lelaki menjadi terkejut.
"Ada apa ini?" tanya Dewi yang menjabat sebagai HRD perusahaan menggantikan Arya waktu itu dengan raut herannya.
__ADS_1
"Maaf bu, nona ini memaksa bertemu," jelas staff itu dengan wajah menahan kesal.
"Baiklah kau bisa keluar, mari nona duduk dulu kita bisa bicara baik-baik," ajak sang HRD yang tidak ingin ada keributan.
Perempuan berwajah manis, berkulit eksotis itu duduk sesuai arahan.
"Antarkan aku bertemu dengan bosmu, kami adalah teman lama, aku yakin bisa mendapatkan posisi ini jika sudah bertemu dengan Alif nanti. Aku butuh pekerjaan ini, kau bisa mewawancarai ku," ucapnya tanpa basa basi.
Dewi cukup tercengang sejenak.
"Semua juga butuh pekerjaan ini," cetus pria yang semula sedang diwawancarai namun terganggu oleh perempuan yang baru saja masuk dan memaksa pula hingga ia menjadi jengah dan sinis.
Namun sang perempuan tidak menggubris lelaki di sampingnya itu.
"Maaf nona tidak bisa, sudah jelas sekali bahwa yang diterima adalah pelamar laki-laki, pak Alif tidak ingin sekretaris perempuan, jika bisa perempuan tentu karyawan lama bernama Poppy yang akan kembali pada posisi sekretaris seperti semula dan lowongan ini tidak akan dibuka. Namun pak Alif mau laki-laki bukan perempuan," jelas Dewi dengan sopan.
"Jika tetap ingin bekerja, kenapa tidak melamar pada posisi yang lain saja yang juga dibuka lowongan."
"Antarkan saja aku bertemu dengannya, aku tidak berbohong kami adalah teman lama. Mungkin dengan bertemu aku juga berkesempatan untuk diwawancarai dengan profesional. Tolong antar aku bertemu dengannya," ucap wanita itu lagi dengan raut memohon.
Disisi lain Alif tampak menghela nafas dalam karena pekerjaannya selesai dengan baik, ia menutup laptop yang menyala lalu menghampiri Humairah yang tampak masih serius bekerja.
Lelaki itu tersenyum seraya berdiri, meski hingga hamil besar seperti ini istrinya sungguh profesional dalam hal menjadi sekretaris yang bisa diandalkan.
Pipi yang kian berisi membuat suaminya enggan jauh, selalu memberi ciuman disela serius bekerja sekalipun.
"Kau sudah selesai?" tanya Humairah tersenyum seraya membelai wajah suaminya yang memeluknya dari belakang.
"Istirahat sejenak, ingin ku pijit?" tawar Alif yang berdiri lagi dan mulai memberi pijatan bahu pada Humairah.
"Wah mas Alif sungguh pengertian," kekeh wanita itu.
"Maaf, mungkin dua hari lagi baru bisa dapat sekretaris baru. Jadi kau bisa fokus istirahat saja di rumah."
"Iya, jika bukan karena hamil dan mau melahirkan aku mungkin tidak ingin berhenti. Aku suka menjadi sekretaris mu, mendampingi suamiku dalam pekerjaan adalah hal yang menyenangkan, melewati setiap detik bersama meski serius menghadap laptop berjam-jam, aku senang melakukannya," jawab Humairah dengan mata terpejam menikmati setiap pijatan yang Alif lakukan.
Alif bahagia mendengarnya, ia berhenti lalu menarik kursinya mendekati Humairah, ia duduk sambil mengelus dan mengecup perut buncit Humairah berulang kali.
"Tapi mungkin dimasa yang akan datang semua tidak bisa seperti ini lagi, ada anak yang harus kita perhatikan, jika kau tidak keberatan aku ingin kau fokus menjadi ibu rumah tangga, membesarkan dan mendidik anak-anak kita saja, biar aku yang bekerja."
"Kau cukup duduk manis di rumah menikmati setiap pertumbuhan anak-anak dan menghabisi uangku dengan belanja."
__ADS_1
"Bukankah kau juga akan membantu? Ingat kata-kata mu yang ingin membantu semua urusan hamil dan anak?" tanya Humairah dengan nada bercanda.
Alif tertawa pelan, "Tentu saja sayang, aku ingat itu."
Mereka saling memandang penuh cinta yang tentu diakhiri dengan ciuman mesra yang membuat iri para penghuni semesta.
"Sayang, aku akan bertemu Lola sebentar di depan. Dia ikut wawancara untuk posisi analis internal, dia membawa makanan untukku dari ibunya."
Humairah mengecup bibir Alif dengan lembut setelah mengatakan niatnya.
"Baiklah, semoga dia bisa diterima. Ingin ku antar?"
"Mau jika kau gendong," canda Humairah.
"Oh aku siap menggendong ibu hamil ini kemanapun," jawab Alif mengambil posisi mulai mengangkat tubuh istrinya yang kian berisi.
Humairah terkekeh saat melihat wajah Alif yang tampak lain.
"Yakin ingin mengantar ku keluar seperti ini? Kuat?" goda Humairah.
Alif terkekeh, ia menurunkan Humairah sebelum mencapai pintu.
"Mana kuat menggendong perempuan sebesar ini mengelilingi kantor."
"Mas Alif," rengek Humairah.
"Aku hanya bercanda, temui Lola tapi jangan terlalu lama.... Yang tidak kuat itu berpisah dari istriku yang hamil dan menggemaskan ini. Aku akan menelepon mama dulu," ucap Alif sambil mencium pipi Humairah lagi dan lagi.
Humairah mengangguk, "Titip salam untuk mama, aku akan keluar sekarang."
Alif mengangguk, "Hati-hati sayang, aku mencintaimu."
Setelah Humairah menghilang dibalik pintu, Alif mulai sibuk dengan ponselnya untuk menghubungi mama Rika.
Namun urung saat dua orang perempuan masuk setelah mengetuk pintu.
"Ada apa?" tanya Alif heran pada Dewi sang HRD perusahaannya.
Belum juga Dewi menjawab, lebih dulu perempuan yang di sampingnya bersuara.
"Alif."
__ADS_1
Alif mengerutkan keningnya dengan heran.
"Merry?"