
Humairah melangkahkan kaki memasuki ruangan tempat ia dan Alif bekerja, matanya langsung menuju punggung kekar seorang pria yang sedang membelakanginya.
Alif tengah sibuk berbicara dengan seseorang di telepon, lalu ia berbalik badan senyum pria itu langsung melebar mendapati Humairah yang melempar pandangan pada arah yang lain. Istrinya yang cantik seperti biasa, menarik perhatian setiap orang yang menatapnya, wajah yang selalu dihiasi senyum teduh nan tulus pagi ini belum Alif lihat pesonanya.
Bukan senyum ramah yang memikat hati seperti hari-hari sebelumnya melainkan wajah datar seakan hawa dingin menyapa, tatapan tidak ramah Humairah membuat Alif segera mengakhiri percakapan melalui telepon itu.
"Sayang, aku kira kau tidak akan masuk bekerja hari ini. Kenapa tidak menjawab telepon ku?" tanya Alif seraya mendekati Humairah yang tidak menampilkan senyuman seperti hari-hari sebelumnya.
Humairah diam, ia tidak menjawab.
"Humairah?"
Alif meraih tangan istrinya yang masih bungkam.
"Kenapa mas Alif?"
Alif mengerutkan dahi, "Kenapa? Apa maksudmu sayang ayolah, kau ingin berterimakasih tentang semalam? Baiklah kita bisa lupakan tentang semalam, lain kali berhati-hatilah pergi dengan lelaki lain, aku cemburu Humairah jangan pergi dengan pria manapun lagi oke? Beruntung kau tidak diapa-apakan," ucap Alif terheran.
"Kenapa kau tega memfitnah mas Arya semalam?" tanya Humairah mulai jengah.
Alif terdiam, ia berpikir sejenak lalu tersenyum.
__ADS_1
"Kau ini bicara apa? Fitnah apa maksudmu? Tentang Arya, aku sudah memberinya pelajaran terkait kelancangannya semalam, maaf sayang Arya ku pecat. Aku tidak bisa mempekerjakan seorang pria jahat seperti dia."
"Mana yang paling jahat antara Arya yang hanya mengajakku makan malam karena dia baru menerima gaji atau kau yang sengaja memasukkan alat kontrasepsi itu ke kantongnya seolah dia punya niat jahat padaku?"
"Sayang ayolah berhenti bicara tentang orang lain, aku merindukan mu. Jangan marah-marah dipagi buta seperti ini oke," cetus Alif yang merasa gemas pada istrinya yang mengoceh, pria itu tidak sungkan lagi mengecup bibir Humairah yang tidak mampu ia tolak godaannya.
Plak. Alif memegang pipinya yang terasa panas dan nyeri.
Alif terdiam. "Sayang kenapa menamparku?" Alif mengaduh kesakitan.
"Humairah," lirih Alif yang mulai serius.
"Kau yang jahat mas Alif, cemburu tidak lantas menjadi alasan untuk memfitnah seseorang sekejam ini, aku hampir menganggapnya pria jahat yang berniat menodaiku. Aku tidak menyangka kau bisa melakukan sejauh itu."
"Kau bahkan memecat Arya dengan alasan pribadi, bukankah itu urusanku dan Arya tidak menyangkut masalah pekerjaan, kenapa kau memecatnya padahal kaulah dalang dari cerita semalam? Aku kecewa padamu mas Alif, aku kira aku akan menikah dengan pria baik tapi ternyata kau tidak sebaik yang ku pikirkan, kau tega sekali mas Alif memfitnah orang yang tidak bersalah apa-apa, dan kau tega pula menghubungkan masalah pribadi dengan urusan pekerjaan."
"Humairah, apa Arya mengadu padamu?"
"Memangnya kenapa kalau dia mengadu? Bukankah fakta harusnya diluruskan, lihat saja karena ulahmu aku jadi salah paham padanya, aku bahkan malu pada Arya telah mengira yang tidak-tidak tentang semalam."
Humairah mulai berair matanya.
__ADS_1
"Aku cemburu, aku tidak suka kau dekat dengan lelaki lain."
"Tidak seperti itu caranya, kau bahkan menghancurkan pekerjaannya. Jangan mentang-mentang kau bos, tidak seperti itu juga mas Alif kau harus sadar bahwa ulahmu bukan hanya membuat aku salah paham namun juga sudah menghilangkan rezeki orang lain yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kita atas alasan cemburu, seharusnya jangan kaitkan ini dengan pekerjaannya. Kau jahat sekali."
"Apa kau menyukai Arya hingga kau membelanya seperti ini?"
"Iya, aku suka padanya, dia pria baik dan humoris. Dia lelaki tangguh yang menghidupi adik-adiknya yang sekarang kehilangan pekerjaan karena ulahmu, kau yang menjebaknya tapi dia pula yang dapat imbasnya, setidaknya dia menghargaiku tidak seperti kau, kau tega memfitnah seseorang sekejam ini. Kau jahat mas Alif, kau bahkan mulai berani menciumku tanpa permisi, aku ini wanita baik-baik, bukan wanita yang pergaulannya bebas yang bisa kau cium sembarangan."
"Tentang hubungan kita jika memang alasanmu adalah cemburu, bukankah sebelum janur kuning melengkung aku bebas pergi dengan siapa pun, kita baru bertunangan bukan menikah ingat itu."
Teriak Humairah mulai jengah. Alif sudah tidak tahan, yang semula pipinya yang sakit oleh tamparan Humairah namun sekarang hatinya bahkan lebih sakit mendengar pertanyaan istrinya itu.
Alif memegangi kedua lengan Humairah, menatap netra perempuan itu dengan tatapan dalam, matanya pun mulai berkaca-kaca.
"Kau benar Humairah, aku memang jahat. Aku banyak salah padamu, bahkan kau hilang ingatan karena ulahku hingga rasa trauma menenggelamkan ingatanmu tentangku dan semua tentang kita. Aku bukan lelaki yang baik, aku jahat seperti yang kau sebut tadi, mendengar kau mengatakan bahwa kau menyukai Arya, aku menjadi pesimis sekarang."
"Tentang semalam, iya itu ulahku. Ketahuilah Humairah, kita bukan hanya sekedar bertunangan. Aku juga tidak bisa membiarkan mu pergi dengan lelaki lain bukan hanya cemburu tapi lebih dari itu. Aku tidak mau istriku pergi dengan lelaki lain, dipandang lelaki lain, apalagi disukai lelaki lain, aku tidak bisa Humairah, aku tidak mau. Tidak peduli kau benci padaku setelah ini, tapi hubungan kita tidak sesederhana itu."
"Kau istriku, istriku Aisyah Humairah. Kita suami istri, bukan bertunangan seperti anggapanmu."
"Aku tidak bisa membiarkan istriku disukai orang lain, kau istriku Humairah. Itu juga yang menjadi alasan kenapa aku berani menyentuhmu, aku tempatkan kau jadi sekretarisku bekerja satu ruangan denganku. Aku berniat mengambil lagi hatimu yang telah ku sakiti, tapi sepertinya semua sia-sia. Maafkan aku Humairah. Aku mencintaimu sungguh aku mencintaimu."
__ADS_1
Alif pergi setelah mengatakan semuanya, pergi meninggalkan Humairah yang mematung.