
Seorang perempuan berdiri menunggu pintu dibuka, memakai kacamata hitam, rambut yang terburai bergelung indah menyentuh bahu. Berpakaian serba mahal dan tampak elegan.
Ia membuka kacamata saat pintu mulai dibuka oleh perempuan yang baru akan menginjak usia paruh baya. Lama mereka saling melempar tatap.
"Mayang?"
Ibu Aini tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya, perempuan muda lagi cantik itu adalah putrinya, putri kandung yang ia dambakan berjumpa sejak lama. Sudah beberapa tahun terakhir ia tidak lagi mendapat kabar tentang Mayang dari temannya sesama pelayan di rumah tuan Imran karena sang pelayan telah dipecat dari pekerjaan itu.
Pada kenyataannya ibu Aini mendapat informasi perkembangan putrinya dari pelayan tersebut, namun entah kenapa sang pelayan dipecat hingga ia tidak dapat lagi mengetahui tentang Mayang sejak saat itu. Ia juga sering mendapat foto putrinya saat dulu, hingga tidak heran ibu Aini langsung mengenali Mayang saat ini.
Wajah sayu nan pucat itu meneteskan airmata, ibu Aini tampak sedang sakit. Meski begitu tanpa ba bi bu lagi naluri seorang ibu langsung saja memeluk Mayang yang berdiri tidak bergeming dari tempatnya.
Pelukan itu tidak dibalas sedikitpun, ibu Aini baru menyadari hal itu setelah beberapa saat.
"Nak, kau tidak merindukan ibu? Darimana kau tahu alamat ini? Oh apa kau sudah bertemu dengan Humairah, ibu rasa dia yang menyuruh mu kesini. Mana Humairah apa dia ikut serta?"
Terdengar helaan nafas dalam dari perempuan yang memakai kemeja putih dan celana jeans membentuk lekuk tubuhnya yang tidak terlalu tinggi.
"Apa ini yang ibu sebut rindu? Aku kemari ibu bahkan langsung membicarakan dia," jawab Mayang ketus.
__ADS_1
Ibu Aini tercekat mendengar jawaban dari Mayang yang terkesan tidak menyukai pertemuan mereka.
"Mari masuk dulu, kita bisa bicara di dalam nak. Ibu merindukan mu nak, ayo ibu kebetulan baru selesai masak kita bisa makan bersama sambil mengobrol," ajak ibu Aini penuh harap meraih tangan putrinya.
"Kau tumbuh cantik dan dewasa nak, ibu sangat merindukanmu, jika bukan karena Shanti yang terus mengabariku beberapa tahun lalu mungkin ibu tidak bisa mengenali lagi wajahmu saat ini, kenapa tidak menepati janji untuk mengabari ibu di kampung? Kau benar-benar pergi dari ibu tanpa jejak."
"Humairah bilang, kau sudah menjadi dokter yang sukses, ibu bahagia mendengarnya," ibu Aini menatap Mayang dengan wajah mendamba.
Siapa sangka, Mayang menepis tangan ibunya walau pelan.
"Aku tidak akan lama, aku hanya ingin katakan semua ini karena ibu, semua yang terjadi padaku sekarang karena ibu. Bukankah ibu sudah berjanji untuk tidak kembali lagi ke kota ini? Kenapa bu? Kenapa selalu Aisyah yang menghalangi kebahagiaanku, sejak kecil dia merebut ibu dariku, beberapa bulan lalu dia merebut Alif dan berhasil menjadi istri pertama, dan sekarang papa Imran juga diambil lagi dariku. Kenapa ibu memberiku kehidupan yang seperti ini? Tidak pernah lepas dari anak manja itu."
Mayang berkata dengan dada naik turun, airmatanya pun ikut mengalir di pipi mulusnya.
"Nak, apa kau sudah meminta maaf pada adikmu? Dia tidak memperkarakan hal ini, ibu benar-benar kehilangan muka pada Humairah dan tuan Imran, ibu malu Mayang..... Seharusnya kita meminta ampun pada Humairah dan tuan Imran, bukan saling menyalahkan seperti ini."
"Meminta maaf? Untuk apa bu, dia sudah dapatkan semuanya, ibu, pria yang ku cintai, papaku, ibu mau aku apa lagi? Oh tidak, untuk soal Alif, dia hanya milikku! Humairah memaafkan kita bukankah itu bagus, tapi tetap saja ini semua karena ibu, seharusnya ibu tidak pernah membawa Humairah ke kota ini lagi. Aku membencinya bu, aku membencinya. Dia mulai menguasai suamiku."
Mayang semula berkata marah-marah namun akhirnya menangis tergugu, ia mengingat kejadian yang Alif dan Humairah tampilkan di live IG milik akun Humairah dua hari yang lalu yang berhasil membuat goyah kepercayaannya pada Alif.
__ADS_1
"Mayang," sentuh ibu Aini pada pundak putrinya.
"Aku benci Aisyah, aku lebih benci Humairah. Mereka orang yang sama, anak manja yang sudah ku buang jauh kini kembali juga berkat ibuku sendiri, dan lebih parahnya dia menikah dengan Alif atas perjodohan yang ibu lakukan dengan mama Rika, ironis sekali."
"Semua ini karena ibu, aku juga membenci ibu yang tidak terlahir kaya hingga aku harus melakukan semua ini agar tujuanku tercapai, iya aku berhasil menjadi dokter berprestasi, apa aku akan mendapat gelar ini jika terus hidup dengan ibu? Bahkan sampai saat inipun hidup ibu tidak berubah juga, tinggal di rumah kecil ini mana bisa ibu menguliahkan ku setinggi ini, lihat Humairah, jika bukan beasiswa dia tidak akan berkuliah seperti sekarang jika hanya mengandalkan ibu saja."
Lagi-lagi Mayang memarahi dan menghina ibunya tanpa kasihan, padahal pertemuan ini adalah yang pertama bagi mereka selama lima belas tahun lebih tidak pernah bersua lagi sejak hari kepindahan ibunya ke kampung bersama Aisyah kecil.
"Mayang? Tidakkah kau merasa kata-kata mu terlalu buruk untuk seorang ibu yang telah berkorban banyak untukmu? Aku rela kau meninggalkanku dan hidup mewah bersama orangtua yang seharusnya Humairah di sana, kenapa kau setega ini bicara padaku Mayang? Kau menyalahkan ku, menghina ibu mu sendiri, tidakkah kau merasa durhaka padaku? Seenaknya kau menghina ibu, menghina rumah ini yang susah payah suamiku dapat dengan bekerja keras di kota ini."
Ibu Aini mulai kehilangan akal, ia tersinggung atas semua tuduhan Mayang yang tidak beralasan, tuduhan putri kandungnya sendiri, mengoyak luka kehilangan atas putri satu-satunya yang lebih memilih berpisah darinya lima belas tahun lalu, luka yang telah Humairah sembuhkan dengan obat paling ampuh di dunia, sikap patuh dan kasih sayang layak anak kandung mengalahkan Mayang saat ini.
"Kau benar-benar keterlaluan Mayang, kau sama persis dengan ayahmu, ambisi dan suka menyakiti orang lain, tidak heran jika takdir tidak pernah berpihak padamu."
"Kau tahu Alif dan Humairah semakin membaik akhir-akhir ini? Siapa yang tidak jatuh cinta pada perempuan santun, cantik dan punya kepribadian sempurna seperti putriku Humairah, jangankan Alif ada banyak lelaki yang menyukainya, aku kecewa padamu Mayang. Aku kecewa Tuhan memberiku anugerah mengandung dan melahirkan putri seperti dirimu, kau terlalu jahat sebagai seorang anak perempuan."
"Aku saja malu untuk memperlihatkan wajahku pada Humairah, dan apa ini kau malah menyalahkanku sedang kau sendiri yang memulai semuanya."
Ibu Aini menghapus airmatanya, hatinya sakit sungguh luar biasa. Jika dulu ia harap maklum pada Mayang yang masih kecil dan belum mampu berfikir layak orang dewasa, namun sekarang sungguh kedewasaan mungkin tidak pernah menghampiri putrinya dengan mendiang suami pertamanya itu.
__ADS_1
"Aku tidak butuh ceramah dari ibu, kau ibuku.... Kau tidak lebih baik dariku dengan berkata seperti ini, bukankah kita sama-sama seorang pembohong, sama-sama penjahat? Soal Alif, dia milikku, Humairah bukan tandinganku, jangan kira mereka membaik pertanda Alif telah jatuh hati padanya, pria itu hanya melampiaskan kejenuhan karena berjauhan denganku satu minggu ini. Alif akan menceraikan Humairah dalam waktu dekat. Pria itu hanya mencintaiku!"
Mayang, berbalik badan lalu meninggalkan ibu Aini yang mematung di ambang pintu, wanita itu tanpa berbasa basi langsung masuk mobil dan pergi begitu saja dari sana dengan perasaan yang mulai tidak yakin bahwa kata-kata Alif hanya mencintainya yang ia katakan tadi adalah benar, sungguh ia mulai meragukannya terlebih mengingat Humairah muntah dan mual dipagi hari. Jika Humairah hamil bagaimana dengannya yang bahkan sampai saat ini tidak menunjukkan tanda kehamilan juga.