"Berbagi Cinta" 1 Hati 2 Aisyah

"Berbagi Cinta" 1 Hati 2 Aisyah
Bab 43


__ADS_3

"Kita sudah berakhir, aku akan pulang sekarang ..... Semua berkas perceraian sudah ku serahkan pada pengacara jadi kita tidak ada urusan apapun lagi, bersyukurlah aku tidak membalasmu tentang obat yang kau berikan pada Humairah."


Aisyah menatap Alif dengan wajah sedih, bibirnya pucat seperti sedang sakit. Mereka bertemu di rumah yang dulunya Alif dan dirinya tinggal.


"Aku sakit, tidakkah kau sedikit perhatian padaku? Duduklah, kita bisa bicara dengan tenang," rayu Aisyah dengan wajah memelasnya.


"Aku kemari hanya ingin mengambilkan barang-barang pribadiku saja, sepertinya kau butuh istirahat," ucap Alif dengan nada tenang.


"Aku menyesal Alif, aku menyesali perbuatanku..... Bisakah kita memperbaiki hubungan ini? Kita bertiga, aku kau dan Humairah.... Aku menyesal, aku tidak ingin kita berakhir seperti ini," ucap Aisyah yang telah menangis, wajahnya memelas dan memohon sambil meraih tangan lelaki itu.


Alif menepisnya pelan, ia menggeleng.


"Maafkan aku, sudah tidak ada gunanya memperbaiki hubungan yang begitu rumit ini, aku pun menyesali telah terbawa obsesi hingga kau juga tersakiti dalam pernikahan yang seharusnya tidak kita paksakan, aku menyesal Aisyah."


"Aku sangat kecewa atas apa yang telah kau lakukan, kau bahkan tega melakukan kesalahan yang sama pada Humairah pada saat dia kecil hingga dia dewasa, meski istriku keguguran bukan karena obat yang kau berikan namun kau sudah terniat untuk menyakiti Humairah yang telah rela berbagi denganmu. Aku tidak berhak membalas perbuatanmu karena aku juga tidak selalu benar dalam hal ini, akupun sama jahatnya. Biarlah itu menjadi dosa yang akan kita tanggung masing-masing," sambung Alif lagi.


Bernapas dalam lalu Alif meneruskan kata-katanya.


"Biar bagaimanapun kita pernah bersama, mari kita saling memaafkan dan hidup lebih baik daripada saat bersama dulu. Istirahatlah kau sedang sakit, aku akan pulang sekarang."


Aisyah menggeleng, "Aku mohon jangan tinggalkan aku, kita bisa berbaikan. Aku akan meminta maaf pada Humairah, sungguh sayang aku mau memperbaiki semuanya, aku menyesal Alif, ayolah beri aku kesempatan aku akan berubah dan tidak akan egois lagi, aku tidak akan menguasaimu lagi seperti yang sudah-sudah."


Alif masih menggeleng.


"Aku senang mendengarnya, memang sudah seharusnya kau sadar dan menyesal. Tapi maaf Aisyah, aku tidak bisa.... Aku mencintai istriku, Aisyah Humairah saja, kau bisa memperbaiki diri dengan suami barumu nanti, kau bisa berubah menjadi lebih baik tidak harus bersamaku, ayo kita berdamai untuk tidak saling menyakiti lagi," ucap Alif lagi.


Aisyah menggeleng, ia pun telah berlutut memohon dan menangis agar Alif tidak meninggalkannya, namun Alif masih punya jawaban yang sama.


"Tidakkah kau kasihan padaku?"


"Seharusnya kau bersujud mohon ampunan Allah, bukan di kakiku. Ini bukan lagi tentang kasihan ini tentang hatiku, hidupku.... Aku akan pergi, jangan persulit keadaan, semua akan terbiasa nantinya."

__ADS_1


Alif pergi meninggalkan Aisyah tanpa menghiraukan wanita itu yang masih luruh di lantai, menangisi kepergiannya namun juga telah tertawa pula sambil menyeringai ia bergumam, "Aisyah Humairah, kau memang tidak pernah membiarkanku bahagia bahkan sejak kau masih kecil hingga dewasa ini kau selalu menjadi bayang-bayang menyebalkan."


*****


Hari-hari pun berlalu, Humairah telahpun sehat seperti sedia kala. Menjalani rutinitasnya sebagai mahasiswa yang telah selesai bimbingan dan akan mempersiapkan mental menghadapi sidang skripsi yang telah dijadwalkan hari ini.


Alif masih sama, masih setia membujuk istrinya yang belum juga menarik ucapan ingin berpisah darinya, ia mencoba menjadi pria yang penyabar dalam menunggu keputusan Humairah bahkan telah pula memakan waktu hampir tiga minggu ia menunggu Humairah yang memang sibuk menyelesaikan skripsinya.


Senyum perempuan itu mengembang saat keluar ruanga sidang skripsi, gelar sarjana ekonomi pun telah ia sandang saat Lola dan Aji sahabatnya menyelempangkan gelar itu pada Humairah yang telah selesai dengan predikat sempurna untuk tugas akhir kuliahnya.


"Ini bahagia terbesarku, terimakasih kalian berdua menemaniku hingga titik ini," ucapnya terharu menerima pelukan hangat dari Lola dan menerima buket bunga dari Aji.


Humairah beralih pada papa Imran yang juga menunggu bersama Lola dan Aji.


"Papa," sapa Humairah pada sosok lelaki paruh baya yang memakai kacamata itu.


Mereka berpelukan, "Bagaimana rasanya menjadi sarjana?"


Papa Imran terdiam, Humairah kembali tersenyum, "Aku hanya bercanda papa, tentu saja aku bahagia, bahagia sekali...... Aku pun telah memutuskan menerima beasiswa itu, aku mohon papa.... Kita sudah membicarakan ini semalam, jangan bersedih aku pergi untuk hal yang lebih baik."


"Dan pilihanmu?"


"Kuala Lumpur," jawab Humairah mantap.


Papa Imran tersenyum, ia terbiasa berbisnis ke Kuala Lumpur hingga merasa lega jika melepas Humairah di sana, ia pun akan sering berkunjung sambil menjalankan bisnisnya di negara berbahasa melayu itu.


"Selain ikut bahagia, papa bisa apalagi?" kekeh lelaki penuh kharisma itu, mereka berpelukan lagi.


Sampai Humairah menoleh pada sosok lelaki yang baru saja datang membawa buket bunga sangat besar ke arahnya juga. Ia masih menyambut Alif dengan senyuman.


"Apa aku terlambat?"

__ADS_1


Humairah menerima buket bunga yang diberikan suaminya, wanita itu menoleh papa Imran.


"Baiklah, kalian boleh bicara."


Papa Imran meninggalkan mereka dan menuju dua sahabat putrinya, mengajak mereka mengobrol tidak jauh dari Humairah dan Alif berdiri saat ini.


Lama Alif dan Humairah hanya saling melempar tatap, tatapan penuh makna diantara mereka berdua. Alif meraih tubuh mungil itu memeluknya dengan erat.


"Selamat sayang," ucap pria itu.


"Terimakasih," jawab Humairah tanpa membalas pelukan Alif.


"Humairah."


"Maafkan aku, kini atau nanti akan sama saja. Aku tetap ingin berpisah, aku menerima beasiswa dan jika tidak ada halangan mungkin akan mengikuti tes masuk dahulu sebelum wisuda bulan depan."


Alif menggelengkan kepalanya, "Sayang aku mohon berilah aku kesempatan lagi, kau boleh meneruskan kuliah dimanapun itu aku tidak akan melarang, tapi tidak bercerai Humairah.... Aku tidak mau, ayolah sayang jangan buat aku gila Humairah," lirih Alif dengan mata berkaca-kaca.


"Maafkan aku mas Alif, ini pilihan hidupku aku harap kau menghargai keputusanku, kita bercerai bukan berarti memutuskan tali silaturrahmi. Kita masih bisa menjadi saudara."


Papa Imran mendekati mereka.


"Ini waktunya makan siang, ayo kita bisa makan bersama dalam momen ini!" ajak papa Imran tidak ingin ada ketegangan antara anak dan mantunya saat ini.


Akhirnya mereka semua makan siang di sebuah restoran, Humairah duduk di samping Alif seperti biasa, Aji dan Lola merasa canggung karena tidak terbiasa makan siang bersama orang seperti papa Imran dan juga lelaki seperti Alif sebelumnya.


Mereka berdua hanya bisa saling bicara dengan bahasa isyarat, Lola dan Aji melihat sekali wajah Alif tidak baik-baik saja saat mereka makan, pria itu hanya mengaduk aduk saja makanan di piring.


Alif mulai lagi, ia masih saja membahas perceraian seolah memohon bantuan mertuanya, hingga papa Imran menjawab pula dengan nada tenang, "Maafkan papa Alif, papa tidak akan ikut campur masalah kalian. Sebagai orangtua papa tentu ingin yang terbaik, namun Humairah punya jawaban yang menurutnya paling baik hingga tetap memilih seperti ini, cobalah mengerti, jangan memaksakan kehendak yang nantinya tidak akan baik."


Alif terdiam, Humairah menyambung, "Aku rasa tidak baik pula kita bahas ini sedang kita lagi makan siang, hargailah Aji dan Lola ini adalah urusan pribadi kita," balas Humairah yang memakan makan siangnya dengan tenang.

__ADS_1


__ADS_2