"Berbagi Cinta" 1 Hati 2 Aisyah

"Berbagi Cinta" 1 Hati 2 Aisyah
Bab 51


__ADS_3

Humairah mengusap airmata saat ingin menyelesaikan ziarahnya di makam ayah Ihsan, tanah yang masih merah tanda makam itu belum lah lama.


"Aku akan wisuda besok, jika bukan karena kerja keras ayah mendukungku dalam kuliah mungkin hari esok itu tidak akan ada."


"Ayah adalah ayah terbaik yang pernah ku miliki, maafkan Aisyahmu ini yang belum bisa menunaikan bakti padamu dengan sempurna, aku percaya Allah akan menempatkan ayah diantara orang-orang pilihan, Love You ayah."


Kembali Humairah menghapus airmatanya yang bahkan telah membuat matanya menjadi bengkak.


Humairah benar-benar tidak mengingat apapun saat ini, bahkan untuk mengingat kapan ayahnya meninggal saja ia tidak bisa padahal melihat dari makam tentu ayahnya belum lama meninggalkan Humairah untuk selama lamanya.


Matanya beralih pada sebuah makam yang hanya berjarak dua meter dari makam ayah Ihsan. Siti Aisyah tertulis di kayu nisannya, Humairah mengira makam itu adalah makam orang lain yang meninggal dihari yang sama saat melihat tanggal kematiannya yang sama dengan hari berpulangnya ayah Ihsan.


Menaburkan bunga, lalu mengusap pelan nisan ayahnya seraya berdoa. Humairah berdiri memeluk papa Imran yang setia menunggunya sejak tadi.


"Jangan bersedih, kita tidak bisa menunda jika memang sudah waktunya untuk berpulang, ayahmu orang baik kita doakan agar almarhum diterima di sisi Allah," ucap papa Imran mengusap punggung Humairah yang masih tampak bergetar karena tangis.


Mata pria paruh baya itu juga mengarah pada makam yang bertulis Siti Aisyah, hatinya lapang saat ini karena tidak ada beban yang harus ia pikirkan tentang anak angkatnya, biarlah Siti Aisyah menjadi urusan Allah pikirnya.


Bukankah setiap perbuatan akan ada pertanggungjawabannya? Papa Imran melepaskan marahnya, melepaskan rasa ingin membalasnya atas perbuatan Mayang yang telah jahat pada putrinya sejak kecil bahkan hampir membunuh Humairah tempo hari.


Namun ada pula rasa iba saat mengetahui akhir dari riwayat putri angkatnya, harus berakhir mengenaskan dengan mati bunuh diri.


Sungguh seseorang tanpa iman yang bisa melakukan hal itu, karena itu pula papa Imran mengikhlaskan apa yang telah diperbuat Mayang pada keluarganya dan memaafkan perempuan itu dihari kematiannya, biarlah menjadi tanggung jawab Mayang sendiri yang telah menghadap sang pencipta.


"Pulang sekarang?"


Humairah mengangguk. Mereka keluar dari area pemakaman dan langsung masuk mobil berniat ke salah satu rumah jahit kebaya yang menjadi langganan mama Rania sewaktu masih ada dulu. Humairah memesan dan menjahit kebaya wisudanya di sana.


*****


Esok hari.


Tiba waktunya bagi para mahasiswa yang telah berhasil menyelesaikan kuliah untuk merayakan keberhasilan mereka dalam melewati berbagai pelajaran dan pengalaman bermakna selama delapan semester untuk gelar sarjana.


Hari yang dinanti, Humairah bahagia akhirnya bisa selesai bahkan lebih cepat dari teman satu angkatannya yang lain, menjadi lulusan terbaik pula. Meski sedih tetap menghampiri saat mengingat ayah dan ibunya tidak dapat hadir dalam hari bersejarah itu.


Namun lagi-lagi Humairah tidak kehilangan rasa syukur, sebab papa kandungnya ada dan hadir saat ini. Kebahagiaan terbesar Humairah bisa kembali pada orangtua kandungnya setelah belasan tahun berpisah. Papa Imran seorang. Bahagia juga saat Lola dan Aji ikut hadir meski tidak bisa masuk gedung.


Semua prosesi berjalan lancar hingga namanya telah pula disematkan sebuah gelar yang berharga bagi Humairah didampingi papanya yang begitu bangga maju ke depan karena predikat lulusan terbaik mendapat keistimewaan untuk orangtuanya naik ke atas podium menerima tropy dan hadiah penghargaan dari pihak kampus.


Saatnya berpesta setelah semua prosesi wajib wisuda dijalankan, ada yang bernyanyi bersama ada pula yang sibuk mengambil gambar kebersaman momen wisuda. Namun Humairah memilih keluar dari gedung, ia dan papa Imran menghampiri Lola dan Aji yang menyambut Humairah dengan girang.


"Papa akan menelepon sebentar, urusan kantor sepertinya penting," ucap papa Imran pamit untuk menjauh dari Humairah dan dua sahabatnya.


Humairah mengangguk, lalu ia mulai fokus dengan Aji dan Lola yang menatapnya kagum, mereka berpelukan kecuali Aji.


"Selamat sayangku, kau benar-benar mengagumkan Humairah. Sempurna," cetus Lola memeluk lagi Humairah dengan gemas.


"Terimakasih sayangku, sahabatku satu-satunya dari awal kuliah hingga sarjana."


"Aku tidak termasuk?" tanya Aji.


"Kau juga," jawab Humairah terkekeh.


Mereka larut dalam aksi photo-photo, sampai pada Rasya datang menghampiri dengan sebuah buket bunga mawar berwarna pink kesukaan Humairah dulu.


"Hai."


Humairah tersenyum mendapati Rasya memang datang hari ini. Ia menerima bunga yang diberikan Rasya.


"Terimakasih banyak kau mau datang."


"Iya maaf, aku tidak mengikuti sejak mulai prosesi," jawab Rasya tidak enak hati.


"Tidak masalah, terimakasih bunganya aku suka."


Rasya menatap Humairah agak murung, ia cukup sedih jika tidak bisa melihat Humairah ke kampus lagi setelah ini.


Aji dan Lola menjauh sejenak membiarkan Rasya dan Humairah bicara.

__ADS_1


"Tidak ingin mengabadikan momen wisudaku?" tawar Humairah tersenyum.


"Ah yes.... tawaran yang ku tunggu sejak tadi," canda Rasya.


Mereka mengambil gambar dengan ponsel masing-masing bergantian, senyuman Humairah yang sempurna menghiasi beberapa gambar yang mereka ambil.


Melihat itu Alif hanya bisa memandang buket bunga mawar merah menyala yang ia pegang saat ini, Alif terlambat datang hingga Humairah lebih dulu menerima bunga dari pria lain. Pria yang Alif anggap anak ingusan yang belum mengerti apa-apa tentang kehidupan, Rasya sudah seperti adik baginya karena persahabatannya dengan Daffa.


Tidak lama berselang ada beberapa teman wisuda yang lain yang merupakan teman sekelas Rasya yang sudah sarjana mengajak mereka berswafoto lagi beramai-ramai, meski Rasya canggung namun ia ikut saja meski hanya dirinya yang tidak memakai toga.


Kembali Alif melihat Humairah tersenyum lebar menampilkan giginya yang rapi dan putih menghadap kamera, tersenyum bahagia tanpa beban bersama para wisudawan yang lain.


Alif menatapnya lama dari kejauhan, senyum Humairah tanpa luka, luka yang sering ia torehkan ketika mereka bersama bahkan sejak awal pernikahan.


Pernikahan seumur jagung dimana Alif mulai menggoreskan luka pada istrinya, mengaku punya kekasih dan memaksa Humairah berbagi dengan wanita lain disaat inai masih memerah di kuku Humairah kala itu.


Disaat mereka masih pengantin baru. Luka yang akan terus membekas sampai kapanpun, Alif tahu ia tidak termaafkan terlebih sempat pula ia menerima tawaran Daffa menukar Humairah dengan sebuah motor sports impiannya.


Sekarang semuanya menjadi hitam dan abu-abu, hatinya, perasaannya, kala Humairah bersikukuh ingin berpisah dan sekarang perempuan idaman itu lebih memilih melupakannya dalam rasa trauma yang Alif juga terlibat di dalamnya. Amnesia disosiatif yang Humairah alami ternyata lebih menyakitkan daripada apapun bagi Alif saat ini.


Seperti sekarang ia hanya bisa memandang kebahagiaan Humairah dari kejauhan, menghabiskan waktu hanya untuk membuntuti kemana Humairah pergi, menyamar jadi sopir taksi, bahkan rela menunggui istrinya keluar rumah hanya untuk melihat wajah Humairah.


Rasya melihat gelagat Humairah ia bertanya, "Apa kau menunggu seseorang?"


Humairah menggeleng, "Entahlah, aku hanya merasa kurang saja hari ini," jawab Humairah yang masih melihat orang-orang lalu lalang di hadapannya.


"Cih.... Jangan bilang meski hilang ingatan kau masih saja mencari pria brengsek itu," gumam Rasya kesal, namun tidak didengar jelas oleh Humairah.


"Kau mengatakan sesuatu?"


"Iya, aku rasa kau hanya merasa kurang kehadiran ibumu."


Humairah tersenyum tipis, "Iya, aku merasa banyak yang kurang dalam perayaan ini. Ayahku, ibuku."


Humairah tampak menyeka butiran bening yang menggenang siap tumpah di sudut matanya.


"Dan dia," sambung Rasya pelan, namun Humairah mendengarnya.


Belum Rasya menjawab datang seorang anak lelaki entah itu anak siapa menghampiri Humairah lalu memberikan buket bunga mawar berwarna merah dengan ucapan selamat di atasnya.


"Hai sayang, apa kau salah orang?" tanya Humairah bingung saat melihat anak lelaki itu memberinya bunga.


"Kakak yang bernama Aisyah Humairah?"


Humairah segera mengangguk meski masih bingung.


"Jadi aku tidak salah orang, ini bunga untukmu."


Humairah tersenyum, "Benarkah?" tanya Humairah lagi sambil menerima.


"Ini hadiah dari seseorang yang memintaku memberikannya padamu, seorang lelaki pengecut yang mengagumi mu dari kejauhan," jawab anak itu polos sesuai yang Alif pesankan padanya.


Humairah mengerutkan keningnya, ia melirik Rasya yang tampak kesal.


Humairah menerima buket bunga, ia berterimakasih pada anak itu dan saling melambai tangan ketika anak itu segera pergi.


"Jika aku jadi kau, aku akan membuang bunga itu," tukas Rasya menatap bunga mawar merah itu tidak suka, karena mawar merah itu pula yang dicium Humairah saat ini, sedang bunga mawar pink yang Rasya berikan tadi hanya dipandang saja tidak dicium seperti itu.


"Kenapa harus ku buang?"


"Iya, jika aku jadi kau aku tidak akan suka dengan lelaki pengecut, pemuja rahasia apalah namanya, pengecut ya tetap saja pengecut bukan?"


"Tidak boleh seperti itu, kita harus menghargai pemberian orang lain, pengecut itu mental dia jangan menyalahkan bunganya, ini cantik dan wangi, ada pula wangi parfum. Entahlah.... wangi yang tidak asing sepertinya untukku."


Rasya memutar matanya malas saat melihat Humairah kembali mencium bunga itu lagi dan lagi.


"Aku harap kau tidak sakit lagi Humairah, aku hanya takut jika kau mengingat semuanya nanti. Ada banyak hal terjadi padamu, dan itu sama sekali tidak mudah bagi seorang wanita."


Humairah tersenyum lalu menjawab lagi, "Apapun yang terjadi padaku sebelum ingatan ku hilang, aku tetaplah Humairah. Aku memang tidak mengingat apa-apa, tapi aku bisa merasakan sesuatu yang besar telah terjadi padaku sebelum ini. Entah itu apa, aku hanya sedang menunggu waktu saja atas apa yang harus ku ingat lagi."

__ADS_1


"Hilang ingatan tidak akan mengubah apapun yang terjadi padaku," sambung Humairah lagi.


"Baiklah lupakan, ini adalah hari bahagiamu. Jika kau tidak keberatan bisakah bunga itu untukku saja?"


"Kau memberiku bunga kenapa diminta lagi?"


"Bukan yang pink, yang merah dari si pengecut itu. Karena dia tidak berani muncul itu artinya bunga itu sama sekali tidak sah untukmu."


"Kau cemburu?"


"Iya, tentu saja cemburu."


"Memang mau kau berikan pada siapa bunga pengecut ini?" tanya Humairah terkekeh.


"Melihat bunga itu aku teringat mendiang nenekku, aku berniat ziarah pulang nanti jadi aku rasa bunga itu cocok untuk ku taruh di makam saja."


"Rasya jangan bercanda."


Pria itu tertawa.


"Iya, aku hanya bercanda, setidaknya hargailah mantanmu ini jangan mencium bunga itu di depan ku juga! Bunga yang tidak tahu dari siapa."


Humairah terkekeh, "Maafkan aku, berhenti marah-marah ayo kita bergabung dengan Lola dan Aji."


Rasya hanya bisa menghembus nafas kasar sambil melirik punggung Alif yang kian menjauh. Ia tahu bunga itu pasti dari Alif sahabat kakaknya.


Meninggalkan Humairah yang tengah merayakan kelulusan.


Beralih pada seorang dokter tampan yang baru saja keluar dari salah satu ruangan pasien selesai kunjungan.


Setelah berbincang bersama dokter lain dan beberapa perawat ruangan, Daffa pamit pergi dari ruangan perawat jaga. Kebetulan ia dan Alif berjanji akan bertemu sore ini.


Ia sibuk dengan ponsel hingga tidak melihat jalan, meski tidak banyak pengunjung yang melewati koridor.


Bugh...... Daffa tidak sengaja menabrak seseorang yang tengah berdiri memunggunginya. Seorang gadis yang memakai seragam perawat.


Mereka saling bertemu tatap saat sang gadis berbalik arah menghadapnya setelah ia maju beberapa langkah karena ditabrak Daffa tadi.


Lama Daffa larut dalam hening sampai suara gadis perawat itu membuyarkan lamunannya.


"Maaf dokter, jika berjalan hendaklah berhati-hati," tegur gadis itu lembut.


Daffa melihat name tag di dada sang perawat, ia tidak pernah bertemu sebelumnya.


"Apa kau perawat baru?" tanya Daffa bukannya meminta maaf pria itu malah tersenyum pada gadis itu.


Perawat tersebut mengangguk.


"Iya, aku perawat baru di ruangan VIP Tulip."


"Boleh kita berkenalan?"


"Apa?" gadis itu terkejut, ia tidak mengira seorang dokter seperti Daffa tertarik berkenalan dengannya, siapa yang tidak mengenal dokter tampan itu meski ia baru bekerja di rumah sakit tersebut. Semua mengenal dokter Daffa, dokter tampan yang masih lajang.


"Aisyah?"


Perawat itu melihat tanda pengenalnya, ia tahu Daffa melihat ke arah dadanya.


"Iya dokter, kenalkan aku perawat Aisyah Sarah, Aku bertugas di ruangan Tulip."


Daffa mengulurkan tangannya.


"Aku melihatnya, kenalkan aku Alif."


Aisyah Sarah bingung, ia tahu itu dokter Daffa kenapa berubah jadi Alif pikirnya.


"Maksudku Alif yang kedua," ucap Daffa dengan senyum manisnya.


Aisyah lebih bingung lagi.

__ADS_1


"Anggap saja aku adalah Alif yang kedua, karena tidak bisa lepas dengan perempuan yang namanya Aisyah."


Aisyah ternganga menatap dokter tampan itu dengan kebingungan luar biasa.


__ADS_2